Postingan

Menampilkan postingan dari Maret 18, 2018

Jika Anda Ingin Berubah, Mulailah dengan Pemikiran Anda

Gambar
Bacaan Hari ini:
Efesus 4:23 "Supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,"

Perubahan memerlukan pemikiran yang baru. Untuk bisa berubah, kita harus belajar tentang kebenaran dan mulai mengambil pilihan-pilihan yang baik, namun kita juga harus mengubah cara pikir kita.Misalnya, Anda berkata, "Saya harus lebih mencintai pasangan saya," ketahuilah itu tidak akan bekerja. Anda tak bisa melawan perasaan Anda. Anda harus mengubah cara Anda berpikir tentang pasangan Anda, tentang anak-anak Anda, juga tentang anggota keluarga Anda yang lain. Itu akan mengubah cara Anda merasa, yang kemudian akan mengubah cara Anda bertindak. Alkitab berkata, "Supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu," (Efesus 4:23).Pertempuran melawan dosa, pertempuran melawan kekurangan dalam hidup Anda yang tidak Anda suka dimulai dari dalam pikiran Anda. Jika Anda ingin mengubah perilaku Anda atau apa pun itu di dalam emosi Anda, mulailah dengan pikiran dan sikap Anda.Pembaharuan …

Cerpen Aku, Engkau, Kita, Kehabisan Cerita

Mendung sore. Awan gelap yang menggelayut memudarkan pesona cerah. Tarik ulur cuaca menyiratkan pergulatan. Mungkin hujan akan segera turun. Atau mungkin seperti kemarin. Awan gelap menggantung di angkasa sejauh mata memandang, Tapi, rintik hujan tak jua kunjung menetes. Sesekali angin bertiup. Entah bersekongkol dengan apa. Apakah mengantar awan gelap untuk semakin mengumpul atau menghalaunya untuk segera berlalu. Seharusnya, Sunset bisa nampak saat ini di ufuk barat. Tapi, semburat sore itu hilang ditutupi awan gelap mendung.Hhhmmm. Kenapa tak hujan saja? Mungkin dengan hujan yang turun, tak ada lagi mendung yang bergelayut menutupi angkasa. Kenapa tak hujan saja? Hujan yang bisa menghalau kabut-kabut yang menggerogoti setiap sendi. Kenapa tak hujan saja? Dan setidaknya aku mampu menutupi linang-linang air yang menetes.Di sore yang lalu. Mendung sore tak mengusik. Ada begitu banyak mendung namun tak bisa membuatku menggugat cuaca. Mendung yang lebih hebat dari ini pun tak mampu men…

Cerpen Aisya

Saat pelabuhan ini kutinggalkan, itulah terakhir kumelihat sorot bola matamu yang bulat bening semerbak embun pagi, begitu menyejukkan hati, sampai bara ini padam dalam diriku, melihat bola matamu Aisya. Senyum manis sekuntum mawar mekar di bibirmu, seakan ingin menyampaikan bahwa kau akan merindu dan terus merindu. Meski tak terucap, kutahu kau telah merangkai kata dalam hatimu. Kutahu kau menjaga, tak boleh ada cerita di antara kita saat kumelangkah dari peabuhan ini. Doakanku sayang, agarku selalu mengingat dekat dengan Yang Kuasa. Kutakut dengan pendidikanku yang berkelana ke ranah serba bermeja membawaku lupa akan diri-Nya.Telah kukatakan pada kedua orang-tuaku sayang, meninggalkan tanah kelahiran ini sangatlah sulit, sejak pertamaku dilepaskan dari tanah ini, pertamaku beranjak dari budaya ini, tapi ayahku tetap percaya aku pasti akan menjadi seperti dirinya, meneruskan ideologi masyarakatnya. Sungguh bukan itu yang kuinginkan Aisya, namun meninggalkanmu sangatlah perih, setiap…

Cerpen 14 February

Empat belas Februari.Hari valentin yang paling menusuk bagi gadis yang sedang duduk termenung di bangku putih panjang. Bulir-bulir bening sedaritadi membasahi pipinya. Wajahnya memerah, efek dari tangisannya.Gadis itu hanya menangis, seakan-akan itu pekerjaannya, dan setiap ia mengeluarkan bulir-bulir terkutuk itu, setumpukan benda persegi panjang dan sangat dibutuhkan jatuh dari langit.Kisah itu memang begitu pahit jika diberikan pada gadis yang terlihat tegar, tapi aslinya ia begitu rapuh. Layaknya kayu reyot, sekali sentuh, pasti akan rusak.Hari valentin. Hari kasih sayang. Hari yang memahitkan untuk gadis itu. Mengingatnya saja membuat otak sang gadis meraung-raung tidak jelas.Gadis itu, Tiffany Hwang. Gadis yang ceria dan gembira. Gadis yang kuat. Tapi, jangan terkecoh. Itu hanya ucapan. Dibalik senyumannya, sebenarnya ia menyimpan kisah yang sangat perih.FlashbackEmpat belas Februari.Senyum merekah dari wajah Tiffany. Hari valentin. Ia segera membuka lokernya, dan menemukan bany…

Cerpen (Dinda IV) Kenangan

Angin berhembus dengan pelan, udara pegunungan yang sejuk bersama iringan lagu instrument forrest gump theme serasa melengkapi kenyaman suasana ini, suara gemericit burung saling bersahutan dan dibawah pohon yang rindang aku duduk bersama dinda, memandang gundukan pohon teh yang tampak indah, berdua saling menyelami pikiran masing-masing.
Dinda tampak bimbang dan menjadi pendiam hari ini, aku mengerti posisinya sekarang dan seharusnya dia menolak ku ajak kemari, bagaimanapun ini tidak baik dan aku tidak tahu diri malah membawa calon istri orang ke tempat ini, tempat untuk muda-mudi pacaran tetapi kemudian selalu saja ada alasan yang dibuat masuk akal dalam segala tindakan, entah karena ingin memuaskan diri atau karena rasa sayang yang terlambat datang, semua tidak tentu karena disini diperkebunan teh yang indah aku dan dinda mengenang masa lalu, mempertanyakan ini itu kenapa harus seperti ini, kenapa harus seperti itu, dan kami ngobrol dengan kata-kata yang berat penuh dengan perasaan…

Cerpen 1 Minggu

“Hahahaha apa?, mentang mentang lo tau gue gak akan tinggalin lo, jd lo belaga suruh gue istirahat?” Lagi-lagi caci maki terucap dari mulut Hani untuk kakaknya Cipta. “Uwes toh ndok, sabar” tiba-tiba bi Ira menyeletuk, Dengan kesal Hani menuju kamarnya dan masuk lalu mengunci kamarnya.
“Permisi, Ada apa non dengan non Hani.”, tanya bi Ira kepada Cipta. “Hani capek bi urusin saya, saya juga ngerasa bersalah karena saya cacat. Seharusnya di usia dia yang remaja, saya sebagai kakak bisa membimbingnya dan membahagiakannya, bukan menyusahkannya karena Bapak dan mama memintanya untuk mengurus saya” jawab Cipta dengan nada lemah dan sedikit tersedu karena ia menangis. “Cipta mohon, bibi jangan ikut campur kalau dia lagi ngamuk sama saya”. Lalu Cipta segera mendorong roda kursi rodanya menuju kamar.Sesampai di kamar, “Heh lo tuh lumpuh!, percuma cantik, pinter dan intinya keliatan perfect tapi gak bisa jalan hahahaha!”, Cipta terhantui oleh ejekan dari Hani untuk dirinya saat ia mengantarkan …

Cerpen 06.15.30

Minggu, 17.30 WIB.
'Keputusan Astrid sudah bulat! Apapun yang ayah dan ibu bilang gak akan mengubah pendirian Astrid untuk kuliah di Yogya!!!' bentak Astrid ketus kepada kedua orangtuanya. Sore itu memang sedang terjadi ketegangan di rumah itu, karena perbedaan keinginan antara Astrid yang ingin melanjutkan kuliah di Yogya mengambil jurusan perfilman, dengan kedua orangtuanya yang menginginkan anaknya pergi ke Bandung untuk kuliah keguruan.
'Tapi nak, di sana kita tidak mempunyai saudara, ibu khawatir kamu kenapa-napa nantinya. Kalau di Bandung kan ada tante Rita yang bisa jagain kamu' jelas ibu beralasan halus kepada anaknya yang langsung disambung oleh perkataan ayah 'Betul kata ibu kamu, lagi pula jurusan yang mau kamu ambil kan masih baru dan belum jelas masa depannya, mau jadi apa kamu nanti!'
'Astrid gak peduli, mau masa depannya cerah atau gelap, Astrid cuma mau nyalurin apa yang sudah jadi kesukaan Astrid dari kecil!' Astrid bersikeras
'Coba…

Cerpen 5 Wishes (Part 2)

Tak terasa mereka sudah berada di sebuah kursi, ujung taman. Tak banyak yang mengunjungi ujungannya taman ini. Terlihat bunga cosmos dan Lily bermekaran saat ini. Deidara menghampiri hamparan bunga itu lalu duduk di tanah yang dikelilingi bunga.
Sigh 'benar kata Okaa nya, Deidara sangat merepotkan' sesal Sasori, lalu menghampiri Deidara, dan ikut juda duduk di tanah.'danna baguskan? Pyo~ kau suka yang mana, Cosmos atau Lily? Pyo~'
'tidak keduanya'
'menyebalkan! Pyo~'Sasori terkekeh pelan, namun Deidara bisa mendengarnya. Lalu Deidara berdiri lagi, seakan tenaganya tak habis habisnya.
'sekarang apalagi?' runtuk Sasori lelah. Hingga ia biarkan Deidara jalan jalan di dekat air mancur.
'oy Dei!' panggil Sasori.
'pyo~?' sahutnya masih asyik main air
'tunggu ya!'
'um' ia menganggung dengan polosnya, sungguh manis.
Begitu Sasori sampai menghampirinya di tengah kubangan air mancur, sesekali setelah Sasori sampai ia menci…

Cerpen 5 Wishes (Part 1)

Pagi itu, pagi yang cerah. Tiap detik dan menit rasanya tak terasa. Juga, tak ada yang menyangka apa yang akan terjadi pada hari yang secerah ini? Entalah…
Tak terasa sekitar 7 bulan ini Deidara terbaring lemah di rumah sakit karena penyakitnya tak kunjung sembuh dari bulan-bulan yang lalu. Ia hanya bisa pasrah dalam hidupnya, bahkan ia menganggap dirinya ini sudah tak berguna, tak berarti sama sekali bagi siapapun yang ia anggap berarti baginya. Itu pun hidupnya mungkin tak lama lagi.'hh~' lagi lagi ia hanya dapat menghela nafas. Ya, hanya bisa menghela nafas sambil terbaring di kasur ini. Mata Zircon mengkilatnya menatap awan biru cerah dari balik jendela kaca, angin menghampirinya membuat helaian pirang bagian poni nya berderai mengikuti gerakan angin. Membelai wajahnya dengan lembut, ini… desiran angin itu bagai berbisik padanya ini yang di ucapkan angin angin itu pada ku
'jangan biarkan waktu yang tersisa ini, kau buang sia sia'
Tentu Deidara tidak ingin membuang…

Postingan populer dari blog ini

Bunga Di Kasih Tanda Cinta PadaMu

Humor 3 Drakula

Cerpen Keindahan Berbalut Jilbab Warna Ungu

Cerpen AHS

PENGERTIAN NUBUATAN NABI YESAYA

ORSAKTI KUMBANG TAK BERSAYAP YANG MENGGAPAI BUNGA

Meme & Momo

Cerpen Kasih Ibu Tak Batas Waktu

Cerpen Gak Bisa Tidur

Cerpen Cintaku Tak Berlisan

Thank's You