Featured post

Forever Friends

1 Corinthians 15:53-55 (NLT) For our dying bodies must be transformed into bodies that will never die; our mortal bodies must be transformed into immortal bodies. Then, when our dying bodies have been transformed into bodies that will never die,this Scripture will be fulfilled: “Death is swallowed up in victory.O death, where is your victory? O death, where is your sting?”I spent last evening in a youth service with grieving young people. The young girl killed in a horrible tragedy had touched many and her kindness rippled through the crowd as many shared of her character even at the tender age of 16. Their sobs racked my heart. Why God? The grief counselors from the local high school were there – all believers – they talked with some, embraced others tightly and prayed with those who requested it. I was moved by the Presence of God in the midst of such sorrow and heartache. Hugging her mother, I prayed peace and strength walking through this week into her new normal. I could see the …

Cerpen Air ku


Gadis kecil yang masih berusia 6 tahun itu bernama Sofie, dia tinggal bersama kedua orangtua dan kedua kakaknya di sebuah perumahan di tepian kota Cilacap.

Setiap pagi sebelum berangkat sekolah Sofie mandi di kamar mandinya yang besar, tak jarang dia bermain air di setiap waktu mandinya. Air yang deras dari keran itu dinyalakannya untuk sekedar memenuhi bak yang sebelumnya sudah kosong karena airnya telah dicampurnya dengan sabun. Melihat perilaku Sofie, Ayah, Ibu serta kakak-kakaknya kerap kali mengingatkan untuk tidak membuang-buang air. Namun, Sofie tetap membandel dan tidak menuruti apa kata orangtuanya dan tetap melakukan pemborosan air.

Suatu hari, saat Sofie terbangun dan menuju kamar mandi, dinyalakannya keran yang mengalirkan air cukup sedikit. Sofie mengeluh dan mandi seadanya. Wajahnya cemberut karena tak bisa bermain air seperti biasanya. Dia mengeluhkan keadaan ini pada orangtuanya, orangtuanya membenarkan dan mengatakan bahwa daerah tempat mereka tinggal termasuk daerah yang terkena dampak krisis air bersih, tentu saja Sofie belum mengerti keadaan semacam ini.

Saat Sofie berjalan menuju sekolah, dia bertemu dengan seorang anak laki-laki bertubuh kurus kering dan lusuh. Sofie terlihat prihatin dengan anak yang sebaya dengannya itu, dihampirinya anak laki-laki yang sedang mengorek-ngorek tempat makan itu.

“Hei, kamu ngapain ngorek-ngorek tempat sampah itu?”
“Aku kelaparan, aku belum makan hari ini..”
“Memang Mama kamu nggak masak ya? Oya, nama aku Sofie, kamu siapa?”
“Namaku Wahyu.. Ibu aku lagi sakit-sakitan di rumah… Makanya aku harus cari makan sendiri dengan memungut sampah..”
“Loh memang Ibu kamu sakit apa?”
“Aku nggak tau apa nama sakitnya, tapi kata mantri yang pernah datang ke rumah, katanya Ibu aku sakit karena banyak minum air yang kotor..”
“Kenapa Ibu kamu minum air yang kotor? Memang nggak ada air yang bersih, Yu?”
“Di daerah aku air bersih susah dicarinya.. Kalaupun ada, harganya juga mahal.. Ibu aku nggak mampu kalau harus bayar mahal apalagi tempatnya jauh, jadi mau nggak mau kami minum air tanah seadanya…”

Sofie melamun, membayangkan keadaan Wahyu dan Ibunya yang susah mendapatkan air yang cukup bersih untuk sekedar minum. Dia mengingat kebiasaannya setiap hari, membuang-buang air dan memakainya secara berlebihan.. Teringat olehnya kejadian tadi pagi saat air keran mengalir kecil dan dia mandi seadanya.. Tak terbayangkan jika air di rumahnya akan habis dan dia akan mengalami nasib yang sama dengan Wahyu..

“Sofie, kok kamu malah melamun?”
“Enggak, nggak ada apa-apa kok…”
“Oh, ya sudah aku pergi dulu ya, aku masih harus cari botol-botol yang banyak untuk dijual..”
“Oh, iya aku juga mau pergi sekolah dulu nih… Ini ada sedikit uang dan makanan dan air mineral buat kamu, Yu.. Diambil ya..”
“Makasi ya Sofie, kamu baik semoga kebaikan kamu dibalas ya… Senang bisa kenal kamu.. Daaah Sofie..”
“Iya, sama-sama Yu… Daaahh..”

Sepanjang jalan menuju sekolahnya yang sudah tak jauh lagi, Sofie tersenyum dan berjanji dia tak akan membuang-buang air lagi dan akan berubah menjadi lebih baik lagi..

Cerpen Karangan: Triesya Augustien Ernawan
Facebook: m.facebook.com/triesya.ernawan
Ini cerpen anak-anak pertama Saya,kritik-saran kirim ke fb ya…m.facebook.com/triesya.ernawan :)

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Malam Pertama

Sepuluh Manfaat Kasih Karunia Tuhan

Menjadi Anak Penerobos Di Dalam Tuhan

Kisah Anak Penyemir Sepatu

Renungan Memperkatakan Firman Dengan Iman

Cacing Kepanasan Aja Tau

Forever Friends

Can QR Codes Be Used For Navigation?

Puisi Ruang Dan Waktu

Cerpen Hikmah Sebuah Kebaikan