Featured post

Forever Friends

1 Corinthians 15:53-55 (NLT) For our dying bodies must be transformed into bodies that will never die; our mortal bodies must be transformed into immortal bodies. Then, when our dying bodies have been transformed into bodies that will never die,this Scripture will be fulfilled: “Death is swallowed up in victory.O death, where is your victory? O death, where is your sting?”I spent last evening in a youth service with grieving young people. The young girl killed in a horrible tragedy had touched many and her kindness rippled through the crowd as many shared of her character even at the tender age of 16. Their sobs racked my heart. Why God? The grief counselors from the local high school were there – all believers – they talked with some, embraced others tightly and prayed with those who requested it. I was moved by the Presence of God in the midst of such sorrow and heartache. Hugging her mother, I prayed peace and strength walking through this week into her new normal. I could see the …

Cerpen Ririn, Taka dan Demensia


Ririn tampak gelisah melirik jam di tangannya, sudah dua puluh menit berlalu sejak Taka pamit ke toilet, diraihnya telpon genggam dari dalam tas tangannya tampak wajah Taka memenuhi layarnya, wajah yang selalu bisa membuatnya tersenyum.

“Apa? Kamu serius Rin?,” Ana tampak terkejut saat Ririn menceritakan tentang hubungannya dengan Taka. Ia berharap Ririn hanya bercanda, namun Ririn justru mengangguk dan tersenyum begitu bahagia.
“Kamu tahukan gimana Taka?,” Tanya Ana masih tak percaya.
“An, cinta itu masalah perasaan dan saat ia datang tidak seorang pun yang bisa menolak kehadirannya,” Ana ternganga mendengarkan Ririn yang tampak mabok cinta hingga sanggup mengeluarkan kalimat sebijak itu.
“Jangan-jangan kamu dipelet,” Ana benar-benar tidak rela melihat temannya, Ririn, harus jadian dengan Taka. Bahkan semua anak-anak dikampus mereka tahu siapa Taka.

Ririn tertawa mendengarnya, “Sekarang tuh udah jamannya komputerisasi, semua-muanya serba modern. Nggak ada lagi yang namanya pelet-pelet. Udah ah, aku pergi dulu, lama-lama disini aku jadi ngerasa terlempar kemasa lalu.” Ana terbengong-bengong menatap kepergian Ririn.

Taka, pemuda yang menjadi tambatan hati Ririn sebenarnya sosok yang lumayan tampan dan tampak terpelajar, hanya saja ia memiliki ‘penyakit’ yang sering membuat teman-temannya gondog setengah mati.
Lupa, Taka benar-benar seorang pelupa. Ia seperti kakek tua yang memiliki masalah dengan daya ingat, padahal umurnya baru dua puluhan tahun.

Tiap kali ada tugas kelompok, teman-temannya selalu menghindarinya, karena tugas-tugas itu bukannya kelar malah runyam. Pernah suatu ketika, Taka ditugasi teman-temannya untuk mencari sebagian materi dari tugas mereka. Namun akhirnya mereka harus rela mendapat nilai D yang disebabkan oleh ‘penyakit’ lupanya Taka.

Bahkan Dion, teman sekamar Taka, pernah mendobrak pintu kamar karena kunci yang biasanya terselip diatas pintu dibawa Taka pulang kampung.
Bukan hanya Dion, Rahmat pun menjadi ‘korbannya’. Ceritanya, Taka yang ingin mengambil uang kiriman di ATM lupa membawa kartu ATMnya dan baru menyadarinya saat didepan mesin ATM. Karena Dion sedang ada kuliah tambahan, mau tidak mau Rahmat yang baru pulang harus rela berpanas-panas ria dalam angkot demi membantu Taka, mengantarkan kartu ATM.

Dengan kesal Ririn mencari nama Taka di HPnya. “Halo Beib, kamu dimana? Apa? Dirumah? Kamu sadar nggak sih, tadi kita tuh pergi bareng? Pokoknya aku nggak mau tahu, kamu harus balik lagi dan jemput aku.” Ririn langsung mematikan telponnya. Wajahnya tampak merah kuning ijo karena jengkel. Taka sudah enak-enakkan dirumah dan lupa kalau tadi mereka pergi berdua.

Seperempat jam berlalu saat Taka terlihat buru-buru mendatangi Ririn yang hampir lumutan. “Sorry Beib, sorry, aku bener-bener lupa kalau tadi lagi jalan bareng kamu,” ucap Taka penuh penyesalan.

Ririn mendengus kesal. “Lupa, lupa dan selalu lupa,” Ririn mulai mengeluarkan uneg-unegnya.
“Lama-lama aku capek dengan hubungan ini. Kamu selalu ninggalin aku., selalu aja lupa. Apa separah itu ingatanmu?,” Suasana akan semakin panas bila Taka menjawab karena itu ia hanya diam dan merenungi kesalahannya.
“Kemarin kamu ninggalin aku direstoran. Kemarinnya lagi kamu lupa dengan janji kita untuk nonton dan dua jam aku nunggu kamu didepan bioskop kayak orang bego.” Penuh emosi Ririn mengungkit semua kesalahan Taka.
“Kemarin-kemarinnya kamu ninggalin aku dipesta ulang tahun temanmu yang sama sekali nggak aku kenal. Dan tadi kamu pamit mau ke toilet, tapi apa? Kamu malah pulang sendiri dan lagi-lagi ninggalin aku.” Airmata Ririn mulai menitik, ia benar-benar marah. Untung saja café itu tidak terlalu ramai, hingga mereka tidak menjadi pusat perhatian.
“Aku capek, capek harus selalu memaklumi keadaanmu. Sementara kamu nggak pernah berusaha ‘mengobati’ kekurangan itu,”
Taka ingin meraih tangan Ririn namun segera ditepis halus. “Please Beib, maafin aku. Aku janji nggak akan ninggalin kamu lagi.”
“Basi. Telingaku sudah sering mendengar kata-kata itu. Tapi apa buktinya? Nothing. Kamu tetap aja ngelakuin kesalahan yang sama dan berulang-ulang.” Airmata Ririn semakin deras, hatinya terasa sakit bila mengingat sifat lupa Taka.
“Please Beib, maafin aku. Cuma kamu yang bisa memahami aku ketika yang lainnya menjauh. Aku akan buktikan, aku nggak akan ngelupain kamu lagi.”
Hati Ririn terenyuh mendengar kata-kata Taka, namun ia sudah benar-benar lelah. “Taka, mungkin kita harus berakhir disini.” Ririn menghapus airmatanya, sudut hatinya yang terdalam terasa perih ketika mengatakan keputusannya.
Taka terdiam, ia tak menyangka Ririn akan memutuskannya. Ia pun tidak mendengar saat Ririn berpamitan, dunia tiba-tiba menjadi gelap dimata Taka.

*****

“Rin, kamu bener-bener tega. Tidak bisakah kamu memahami keadaan Taka? Cukup penyakit lupanya saja yang membebaninya, jangan ditambah dengan keputusan konyolmu itu lagi,”
Dion mendatangi Ririn saat melihat gadis itu duduk seorang diri dikantin. Dicecar begitu Ririn hanya diam dan menunduk, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dion, meski suka kesal dengan sifat lupanya Taka, namun sebagai teman ia ikut prihatin ketika mendengar berita pemutusan itu.

“Dulunya Taka adalah anak yang murung dan tidak PD karena penyakitnya, tapi ketika bertemu kamu, dia bisa berubah sedikit terbuka dan PD. Bahkan dia mulai memeriksakan diri kedokter untuk mencari tahu obat penyakitnya. Dia selalu bilang, dia ingin selalu mengingatmu dan tidak ingin melupakanmu.”
Cerocosan Dion berhasil menonjok hati Ririn. Tanpa setahu Dion, mata Ririn mulai berkaca-kaca dan memerah menahan tangis. “Apa kamu tahu, sudah dua hari ini Taka mengurung diri dan tidak menyentuh makanan sedikit pun?,” Dion terdengar menghela nafas kesal, melihat kediaman Ririn.

“Aku yakin, kamu pasti nggak tahu dan nggak mau tahu. Mungkin aku cuma buang-buang waktu disini dan sepertinya aku telah salah menilaimu,” Dion langsung pergi usai mengeluarkan semua isi hatinya.
Airmata Ririn berlomba-lomba keluar dari bolamatanya yang terasa perih dan merah setelah Dion menghilang dari pandangannya. Ana yang baru datang dengan dua mangkok ditangannya, terkejut melihat Ririn.
“Kamu kenapa Rin? Ada yang sakit?,” Tanya Ana khawatir. Bukannya menjawab, Ririn malah berdiri dan langsung berlari meninggalkan Ana yang melongo bingung.

Ririn berlari dan terus berlari tanpa mempedulikan orang-orang yang memandanginya. Tujuannya adalah tempat kost Taka.

Terengah-terengah Ririn sampai didepan kost Taka, dengan satu gerak cepat ia memencet tombol di HP yang kini ada ditangannya. Ia berusaha beberapa kali sebelum akhirnya diseberang sana seseorang mengangkat panggilannya.

“Aku minta maaf karena sudah jahat sama kamu. Aku janji akan berusaha nerima kamu apa adanya. Aku juga janji nggak akan ninggalin kamu lagi. Aku janji.” Kata Ririn dengan uraian airmata. Diseberang sana Taka hanya diam dan tidak lama kemudian memutuskan sambungan telponnya.

Ririn terkulai lemas, ia merasa Taka membencinya dan tidak lagi mau mendengarkannya. Ia pun pasrah bila Taka men-cap-nya sebagai orang kejam dan tidak mau lagi mengenalnya.

Pandangannya mulai mengabur karena airmata ketika sebuah lengan menyentuh bahunya yang berguncang menahan tangis. “Jangan pernah menangis karena aku. Aku akan merasa sangat bersalah.” Sebuah suara yang begitu dikenalnya membuat Ririn menoleh dan mendapati pria yang dicintainya tengah tersenyum memandang kearahnya.


Comments

Popular posts from this blog

Cerita Malam Pertama

Menjadi Anak Penerobos Di Dalam Tuhan

Affordable & Effective Marketing Tips to Promote Your Business Online

Cerpen Air Mata Seorang Kawan

Forever Friends

Tips to choose best dedicated server provider in Ashburn

Puisi Ruang Dan Waktu

Resolve email technical issues by microsoft professional support

Cerpen Hikmah Sebuah Kebaikan