Posts

Showing posts from March 10, 2018

Featured post

Forever Friends

1 Corinthians 15:53-55 (NLT) For our dying bodies must be transformed into bodies that will never die; our mortal bodies must be transformed into immortal bodies. Then, when our dying bodies have been transformed into bodies that will never die,   this Scripture will be fulfilled:  “Death is swallowed up in victory.   O death, where is your victory? O death, where is your sting?” I spent last evening in a youth service with grieving young people. The young girl killed in a horrible tragedy had touched many and her kindness rippled through the crowd as many shared of her character even at the tender age of 16. Their sobs racked my heart. Why God? The grief counselors from the local high school were there – all believers – they talked with some, embraced others tightly and prayed with those who requested it. I was moved by the Presence of God in the midst of such sorrow and heartache. Hugging her mother, I prayed peace and strength walking through this week into her new normal. I could

Cerpen Kunci Jawaban Dari Tuhan

     Pada saat bekerja di perusahaan ternama, Irwan mengenang kembali betapa Tuhan telah banyak memberikan kemudahan. Sambil meminum secangkir teh dan sebungkus Roti Irwan mereview kisah masa lalunya. Saya punya banyak saudara walaupun bkn keluarga dekat akan tapi Ibunya meninggal ketika ia masih kecil, saat2 yg tidak pas bagi seorang anak untuk sekedar mengukir senyum manis seorang ibu, memahat wajah lembut sang Ibu serta mengenang alunan nada nada cinta dari setiap patah ungkapan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, karena ibunya meninggal saat ia berumur 2 tahun.      Mengingat hal tersebut membuat Irwan termenung. Ia pun memanjatkan doa kpd Tuhan, "Ya Rabb, Ampunilah dosa Ibu hamba dan juga hamba, Ya Allah dari tiap hembusan napas ini... Selama nyawa masih didada kutak henti hentinya mendoakan Ibuku ya Allah... Didalam angannya ia mengungkapkan sepatah kata, Bu.. Anakmu sudah sukses, ini semua berkat doamu dan bapak.. Terimakasih.      Saya dididik dgn agak keras dari

Cerpen Konspirasi Is My Way and

     Rumah kecil dengan jendela dan daun pintu berwarna hijau itu masih saja terlihat seperti dua belas tahun yang lalu. Hanya sekarang ada tambahan teras beratapkan seng dan dipagari batako setengah badan. Di teras itu ada sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu namun sudah terlihat rapuh., di sana-sini di tambal sulam dengan papan kayu yang dipakukan untuk memperkuat kursi panjang itu. Entah daya apa yang membawa langkah kakiku meuju ke tempat ini. Di sebuah dusun yang berbatasan langsung dengan Kota Jogyakarta, di sebuah rumah kecil milik sahabatku. Dahulu kala dusun ini tak sepadat sekarang, di sepanjang jalan menuju kemari sudah banyak dibangun rumah rumah baru. Sawah yang dahulu membentang sampai ke jalan raya di utara dusun hanya tinggal antara dua petak saja yang utuh. Dan aku lihat ada juga mesjid baru yang megah di tengah-tengah permukiman yang dahulunya ladang tebu.      Kumasuki pekarangan rumah sahabatku yang tiada pohon itu. Kubuka pintu teras dan lalu ku ketuk pi

Cerpen Kotak Musik Rindu

      Jam wekerku berdering terus menerus, huft menyebalkan! Aku harus segera bersiap-siap menuju sekolah. "Rindu! Siap-siap sekarang! kamu mau terlambat?" teriak bundaku dari bawah, "Iya Bun, sabar" jawabku, aku segera mandi, berpakaian, merapikan buku, pakai sepatu dan segera menuju ruang makan... saat berjalan tiba-tiba.. "eh iya!", aku lupa membawa kotak musik kesayanganku, aku segera mengambilnya dan langsung menuju bunda dibawah. "Lama banget sih sayang" kata bundaku, "maaf bun, rindu terlambat bangun", "yasudah. cepat sarapan, nanti terlambat", "gak usah bun! rindu sarapan dikelas aja, rindu buru-buru, bye bun!" kataku sambil mencium tangannya. aku segera menuju mobil untuk diantar supir ke sekolah. "Rin! Rindu! "teriak sahabatku, Nayla. "knapa nay? aku buru-buru", "ada apa?rin aku hanya mau bilang kalau.." belum selesai nayla berbicara bel berbunyi, "ah nay! masuk deh.

Cerpen Angklung and The Twins

Pasti kalian tahu bagaimana rasanya mempunyai kembaran yang berbeda sifat, dan kegemaran. Satu sekolah. Bosan, lelah, itulah aku. Namaku Raisya Zalfa Salsabila dan aku mempunyai kembaran bernama Raina Zulfa Salsabila. Jam telah menunjukkan pukul 12.00 siang, seharusnya untuk anak-anak SMP MADANI INTERNATIONAL SCHOOL JAKARTA yang tidak mengikuti ekstrakulikuler sudah berlarian pulang. Kecuali aku, aku tidak mengikuti ekstrakulikuler apapun kecuali basket yang bertepatan pada hari minggu. Namun tetap saja aku harus pulang berbarengan dengan anak ekstrakulikuler yaitu pukul 14.00 siang. Apa kalian bisa menebak? yup, Raina senang sekali dengan angklung. Hobbynya bermain angklung. Sampai-sampai ia menjadi pelatih temannya di ekstrakulikuler angklung. Karena itulah aku harus pulang pukul 14.00. Aku sangat membenci angklung!! Setiap ada anak angklung bertemu denganku, aku selalu meledeknya. Dan itu juga aku. Hehe… Pagi ini nampak seperti biasanya, ramai tapi damai. 'hai Raina…' Sa

Cerpen A Day With New Friend

This is her first day come to Fendi’s home, her classmates. Clarissa came to Fendi’s home for doing group tasks. Before, Clarissa was never close with Fendi at school. She think Fendi is very naughty. Clarissa was greeted by Fendi’s mother in front of his house. “Good afternoon, Ma’am. I am Clarissa, Fendi’s classmates. I will be here for doing group tasks from school.” said Clarissa. “Welcome here, Clarissa. Fendi, prepare your books and completed your tasks! Clarissa, follow me! I’ll show you a place to learn.” say Fendi’s mother. “Okay, Ma’am!” Clarissa reply. Fendi’s mother showed Clarissa place to study groups. Can you guess, where they learn? In the kitchen, at the dinner table. It’s real, no kidding. Fendi also looked surprised. “Ha? In here, Mom?” Fendi asked. Fendi’s mother reply, “Yes! Let’s go doing your group tasks!” Clarissa and Fendi sit when Fendi’s mother went. “I’m sorry, Clarissa. I don’t know we will learn in here.” said Fendi guilty. “Don’t worry, Fendi

Cerpen Aku Bisa Sendiri!

Namanya Oni. Ia anak miskin. Bapaknya selalu merantau, dan emaknya… hm, Oni hanya tahu emak membuka warung dan dagang makanan kecil. Oni sekolah di SD Bintang Spesia, SD favorit, Ia mendapat beasiswa untuk sekolah disana. Seragam Oni sekarang kekecilan, dari kelas 1 sampai kelas 4 ini, ia masih mengenakan seragam yang sama. Begitu pula sepatunya, sudah kekecilan juga, ia ingin meminta pada emak, tapi tak tega mengucapkannya. Ia hanya akan membebani emak, jika emak tau seragam dan sepatunya telah kekecilan, pasti emak berusaha keras mendapatkan uang. Teman-teman Oni semua orang kaya, setiap hari Oni yang selalu datang pagi melihat mobil teman-temannya yang bagus melewat, terutama adalah Shafira yang membuat mata Oni terpana, Shafira adalah anak paling kaya di sekolah itu. Oni menatap mobil mewah Shafira melewat, lalu Shafira, kakaknya yaitu kak Olivia dan adiknya Sharine keluar dari mobil. Mobil itu harganya sekitar 600-700 juta rupiah. Terbayang olehnya, pergi sekolah menggunakan m

Popular posts from this blog

Cerpen Air Mata Seorang Kawan

Cerpen Putri Bulan dan Dewa Laut

Renungan Jadilah Orang Yang Berhikmat

Cerpen Diam Kepedihan

Affordable & Effective Marketing Tips to Promote Your Business Online

Cerpen Karenamu, Aku Mengerti

Mengingat Kebaikan Tuhan

Puisi Ruang Dan Waktu

Cerpen Indah Pada Waktunya

Kembang Kapas