Featured post

Forever Friends

1 Corinthians 15:53-55 (NLT) For our dying bodies must be transformed into bodies that will never die; our mortal bodies must be transformed into immortal bodies. Then, when our dying bodies have been transformed into bodies that will never die,this Scripture will be fulfilled: “Death is swallowed up in victory.O death, where is your victory? O death, where is your sting?”I spent last evening in a youth service with grieving young people. The young girl killed in a horrible tragedy had touched many and her kindness rippled through the crowd as many shared of her character even at the tender age of 16. Their sobs racked my heart. Why God? The grief counselors from the local high school were there – all believers – they talked with some, embraced others tightly and prayed with those who requested it. I was moved by the Presence of God in the midst of such sorrow and heartache. Hugging her mother, I prayed peace and strength walking through this week into her new normal. I could see the …

Cerpen Karena Kamu Pertama Kali



Menangis,
Dalam ringis,
Saat gerimis...

***

     Itu karenamu. Untuk pertama kalinya, aku mengagumi seseorang. Selama ini, yang kukagumi hanyalah para filosofi, ilmuwan, atau pun orang-orang luar biasa. Kemudian, kau datang. Mengganjal pikiran, mencuri perhatian. Kekagumanku padamu di luar dari ranah yang bisa kujelaskan. Rasanya agak, mmm... menggelitik. Membuatku begitu penasaran, begitu asam manis.

     Itu karenamu. Untuk pertama kalinya, aku bersikap salah tingkah. Setiap kali menghampirimu, atau bahkan hanya memandangimu, ada gemerisik perasaan gugup yang menghampiriku. Napasku seperti tercekat, di mana jantungku ingin meloncat keluar raga. Apa itu terdengar hiperbolis? Baiklah, mungkin memang iya. Tapi aku benar-benar merasakannya. Degup tak bisa kuhindari. Hanya saja, akan terlihat konyol jika aku dikalahkan gaya gravitasi bumi di hadapanmu. Jadi, kunikmati saja anomali tubuhku saat dekatmu. Membiarkannya melantunkan nadanya sendiri.

     Itu karenamu. Untuk pertama kalinya, aku terkesima oleh senyum yang tidak diperuntukkan bagiku. Semua orang tahu, kau bukan tipikal yang akan bisa akrab dengan orang yang baru saja kau kenal. Keramahanmu padaku hanyalah suatu sikap formalitas. Hanya menyapa dengan lengkung senyum tertarik tiga detik. Akh, juga ada dua lesung pipi di sudutnya, dalam sekali. Biarpun begitu, aku tahu kau cuma berbasa-basi dengan sikapmu yang seperti itu. Selebihnya, tertinggal sikap acuhmu. Bukan karena kau membenciku, tapi karena kau memang tidak terbiasa berlaku di luar "sikap formalitasmu". Tawamu, hanya untuk teman-temanmu saja.

      Itu karenamu. Untuk pertama kalinya, aku tak bisa mengenali diriku dengan baik. Kupikir, cukup dengan berusaha menjadi lebih baik, aku telah memenuhi kebutuhanku. Dan lagi-lagi, aku salah. Biarpun tak pernah bercengkrama secara pribadi denganmu, aku mempelajari banyak hal baru. Bukan mengenai apa yang menjadi tujuan, melainkan tentang bagaimana kita berproses mencapai tujuan itu. Layaknya sebuah keramik yang harus menahan serbuan panas untuk menjadi lebih kuat. Kau, dengan usaha kerasmu itu yang terkadang membuatmu harus jatuh sakit mengingatkanku untuk terus bersemangat menghadapi tantangan.

      Itu karenamu. Untuk pertama kalinya, aku merasa ada hal yang tak harus disampaikan. Mengagumimu dengan diam-diam, berhasil membuatku tersenyum geli. Kau pasti tak tahu. Aku selalu memperhatikanmu. Gayamu saat bersandar di dinding; dengan tangan yang dilipat di depan dada dan kaki yang saling menyilang. Aku tergila-gila pada detective style-mu itu. Oh ya, masih ada lagi. Sikap sombongmu karena menjaga jarak dariku, keseriusanmu pada setiap hal, kehebatanmu menendang bola, pembawaanmu yang sok misterius, kegemaranmu pada kimia. Semuanya tentang dirimu. Selalu mengingatkanku pada karakter manga kesukaanku, Shinichi Kudo. Kau benar-benar replikanya yang sempurna.

      Itu karenamu. Untuk pertama kalinya, aku menghela napas panjang. Saat kau berlalu begitu saja di hadapanku. Begitu saja. Seakan kehadiranku tak cukup untuk membuktikan keberadaanku padamu. Itu menyebalkan, sangat. Lebih menyebalkan lagi, aku tak bisa protes akan segala kelakuanmu itu. Yang bisa kulakukan hanya memandangi punggungmu saja. Berpikir betapa jauhnya jarak antara kita.

      Itu karenamu. Untuk pertama kalinya, aku begitu jenuh dengan persaingan. Aku lelah. Berusaha mengalahkanmu menjadi juara kelas. Kau rivalku, bukan? Tapi mengalah begitu saja, tanpa alasan jelas, akan terlihat aneh. Dan menurutku, masalah perasaan aneh padamu telah termasuk alasan yang tidak jelas. Memusingkan juga ternyata. Memiliki perasaan aneh yang malah membuatku semakin aneh. Benar-benar aneh pokoknya. Ya, apa boleh buat. Kelihatannya membiarkan keanehan ini mengalir satu-satunya cara untuk mengurangi kadar keanehan itu sendiri.

     Itu karenamu. Untuk pertama kalinya, aku menikmati senandung yang ditorehkan alam. Mengintegralkannya ke bentuk yang lebih parsial. Memahami setiap pecahan romantismenya. Akan terdengar begitu puitis jika kudeskripsikan secara panjang kali lebar kali tinggi. Begitu bervolumenya hingga aku tak bisa menentukan bagian mana yang akan kubahas lebih dahulu. Jadi izinkan saja kusimpan keindahan senandung itu untuk diriku sendiri. Sebait sonata darimu, yang tak pernah tersenandungkan olehmu.

Itu karenamu. Untuk pertama kalinya, aku...
Untuk pertama kalinya, aku...
Bisakah kudefinisikan perasaan ini dengan sebuah kata yang lebih mudah? Tunggu dulu! Bukankah definisi hanya untuk membatasi ruang lingkup dari apa yang didefinisikannya? Padahal perasaan yang seperti ini seharusnya tidak memiliki batas, kan?
Akh, malah terlihat merumitkan!
Lagipula, belum saatnya aku mengakui perasaan ini.

***

Itu karenamu.
Untuk pertama kalinya.
Aku, sepertinya begitu menyukaimu...

***

"Gerimis, ya?"
Ada lengkung-lengkung perak yang menggantung di batas langit. Berombak dalam rintihan. Namun, muatan hidrogen di sana belum mau meretas. Menahan tangis kumulus yang seharusnya menetes.
Kuhela napas panjang. Membiarkan paru-paruku dipenuhi kelembaban udara. Dingin, tapi aku sudah mati rasa. Sakit.

      Mungkin memang seharusnya aku berdiri dalam lingkaran amanku saja. Di mana setiap kesal, jengkel, marah, sakit, dan kekaguman hanya kubelenggu dalam ekspresi kata. Menciptakan duniaku di tempat berbeda dari tempatku berpijak sekarang. Seharusnya kusimpan saja perasaan ini. Atau, tak seharusnya kubiarkan rasa itu menggerogotiku perlahan.
Punggungmu yang berlalu begitu saja. Tawamu yang kupandangi dari balik jendela kelas. Detective style-mu yang menyeruakkan aura misterius.

Aku terjebak di sana.
Aku benar-benar terjebak. Lebih parahnya lagi, aku tersesat. Seperti bunga matahari yang mengira bisa menggapai surya karena setia mengaguminya.
Dan, aku kembali pada identitasku. Ke dunia akrasa, ke tempat pelarianku. Berdiri dalam kesendirian, ditemani kesemuan. Kedengarannya memang sangat sadis. Tapi...
Tapi lebih menyakitkan mengetahui kau masih menyimpan perasaan lain yang lebih dalam, yang lebih tulus pada gadis masa lalumu.
Bukan padaku.

***

Itu karenamu.
Untuk pertama kalinya.
Aku ingin menyimpan seruat perasaan ini.
Bukan lagi tertuju padamu.
Sayounara, daisuki na hito*...

***

Menangis,
Dalam ringis,
Saat gerimis...

Hanya untukmu, kubiarkan hatiku terluka,
Hanya untukmu, kubiarkan diriku menduka,
Hanya untukmu, kubiarkan semua kehilangan peka...

Tapi, maaf,
Aku tak bisa sakit lebih dari ini...

~~~karenamu, pertama kali~~~

Footnote:
*Selamat tinggal, orang yang sangat kusukai

Penulis: mapletea.hime


Comments

Popular posts from this blog

Cerita Malam Pertama

Sepuluh Manfaat Kasih Karunia Tuhan

Menjadi Anak Penerobos Di Dalam Tuhan

Kisah Anak Penyemir Sepatu

Renungan Memperkatakan Firman Dengan Iman

Cacing Kepanasan Aja Tau

Forever Friends

Can QR Codes Be Used For Navigation?

Puisi Ruang Dan Waktu

Cerpen Hikmah Sebuah Kebaikan