Featured post

Forever Friends

1 Corinthians 15:53-55 (NLT) For our dying bodies must be transformed into bodies that will never die; our mortal bodies must be transformed into immortal bodies. Then, when our dying bodies have been transformed into bodies that will never die,this Scripture will be fulfilled: “Death is swallowed up in victory.O death, where is your victory? O death, where is your sting?”I spent last evening in a youth service with grieving young people. The young girl killed in a horrible tragedy had touched many and her kindness rippled through the crowd as many shared of her character even at the tender age of 16. Their sobs racked my heart. Why God? The grief counselors from the local high school were there – all believers – they talked with some, embraced others tightly and prayed with those who requested it. I was moved by the Presence of God in the midst of such sorrow and heartache. Hugging her mother, I prayed peace and strength walking through this week into her new normal. I could see the …

Cerpen AHS


Ctik, ctik, ctik…
Seseorang di depan komputer itu mengetikkan sederet huruf pada keyboardnya, fokus tatapannya tanpa suatu niat untuk teralihkan.


Log in


Klik.


Setelah memasukkan email dan passwordnya, dia mengetik tombol log in tepat di sebelah kotak password untuk memasuki akun facebooknya. Hingga sesaat kemudian, tampilan monitornya menampilkan beranda facebooknya.


Tau AHS?


Dia menyerngitkan alisnya, saat sebuah kata terlintas pada layar komputer di hadapannya, lebih tepatnya pada beranda facebooknya.


AHS… Rasanya dia pernah mendengar itu di suatu tempat.


“Apa itu?” gumannya kemudian.


Dilanda rasa penasaran yang tinggi, campur aduk dengan rasa keantusiasan untuk membaca artikel itu… Dia membuka web tersebut dari beranda facebooknya.


AHS, atau singkatan dari Alien Hand Syndrome merupakan suatu penyakit langka dimana orang yang menderitanya tidak bisa mengendalikan tangannya sendiri sesuai keinginannya. Penyakit ini menyebabkan si penderita kerap kali menyakiti diri sendiri atau bahkan orang lain dengan tangannya sendiri. Bahkan ada yang sampai mencekik diri sendiri sangking ekstremnya penyakit ini.


“Mana mungkin…” dia, menghelakan nafasnya dalam setelah membaca artikel absurd nan konyol itu. Menurutnya, orang yang menulis ini kemungkinan sedang mengada-ada, dan hanya bertujuan untuk menipu pembacanya.


Untuk selanjutnya, dia meng-close tab web tersebut tanpa membaca alenia terakhir pada artikel tersebut.


Karena bosan, setelah log out dari Facebooknya, dia mematikan komputernya dan beranjak dari kursi yang dudukinya menuju ke arah kamarnya.


Cklek.


“Eh?”


Dia tersadar sesaat setelah tangan kanannya membuka pintu kamarnya. Bukan sengaja, tapi sebelum ada niat untuk menggerakkan tangan, tangannya secara tiba-tiba bergerak sendiri membukakan pintu.


“Serius…” dengan beberapa tetes keringat dingin menetes dari keningnya, dia mulai memastikkan tangannya itu masih baik-baik saja atau tidak dengan cara menggerak-gerakkan tangannya.


Detik berikutnya, dia bernafas lega karena tangannya itu masih normal-normal saja. Dia anggap yang tadi hanya suatu reflek.


Dia pun memasuki kamarnya, kali ini dengan tangan yang dapat terkendali.


Malam hari, waktu yang tepat untuk mengerjakan PR. Dengan tangan yang memposisikan jari untuk memegang sebuah pena, dia mulai menuliskan satu persatu kata dalam bukunya.


Sret, sret.


Dia mulai mengerjakan PR-nya dengan lancar-lancar sampai saat ini.


Sret, sret, sret.


Tiba-tiba sebelah alisnya naik, saat tau tangannya terus menulis tanpa henti dengan sendirinya. Tidak, ini sungguhan. Dia bersumpah kalau sekarang dia merasa tidak sedang mengendalikan tangannya.


Sret, sret, sret!


Tangan itu terus menulis, menulis tanpa henti yang membuatnya bertambah takut. Tangan kirinya yang menganggur, memegang erat pergelangan tangan kanannya kuat-kuat, berusaha menghentikan tangan satunya untuk tidak bergerak.


“Tanganku kenapa?!” dia berteriak sawan, manakala tangan kanannya itu sudah dirasa tak terkendali. Terus, terus. Tangan kanannya itu terus menuliskan sesuatu yang tidak ingin ditulisnya hingga serasa selembar lebih kertas cukup ditulisnya.


Sekarang waktunya kamu untuk mati.


Dia memandang horor ke arah kertas dengan tulisan serupa hasil kerja tangan kanannya, membuatnya yang dilanda ketakutan level tinggi meneguk ludah susah payah.


Dengan paksa ia tarik pergelangan tangan kanannya itu, hingga dirasa cukup panas dan memerah pergelangannya.


“Tanganku… Tanganku…!”


CRAT


“ARRRGGGHH!!”


Ujung pena itu mengarah ke matanya, menusuk bola matanya sebelum dia ada kesempatan menututup matanya. Darah segar mulai mengalir, membasahi pipinya serta tangannya. Tak tahan dengan rasa sakit, dia menarik tangan kanannya itu paksa dari matanya, lalu memegangi sebelah matanya itu dengan tangannya.


“Akhh… Akkkkhh!”


Sementara mata yang sebelah mengalirkan darah, mata yang sebelah masih sempat memandang horor ke arah tangan kanannya yang ikut berlumuran darah. Untuk kali ini saja, rasanya tangannya itu dapat terkendali.


Lagi, sesaat tangannya bisa terkendali, tiba-tiba tangan itu kembali bergerak, kali ini menuju ke arah cutter yang tepat ada di atas meja.


“Ap— HEGH!!” sebelum sempat berkata, tangan kanannya yang tengah memegang cutter itu menuju lagi ke arah lehernya, kali ini meninggalkan goresan panjang dekat urat nadi lehernya. Nafasnya terengah-engah, kali ini beruntung hidupnya karena tangan kirinya itu berhasil menghentikan tangan satunya, walau harus mengabaikan sementara mata dengan tetesan darah itu.


‘AHS menyebabkan si penderita kerap kali menyakiti diri sendiri—’


Tiba-tiba terlintas di otaknya, sederetan kata yang sempat dibacanya siang ini. AHS… Kenapa gejala ini mirip dengan tangannya sekarang—


… Jangan-jangan, tangannya—


CRASSSH


Darah mengalir, disertai dengan beberapa cipratan darah dari lehernya. Ternyata, cutter itu telah menusuk dalam lehernya, membuatnya yang masih tersadar akan apa sebenarnya arti AHS itu, mendadak terkulai lemas dan dengan kepala yang ambruk di mejanya.


Dengan tangan kanan yang menggenggam cutter itu, otomatis kepalanya yang menimpa tangan itu seketika membuat cutter itu menembus hingga ke belakang lehernya.


Matanya berkunang-kunang, hingga akhirnya pandangannya mendadak jadi hitam. Gelap… Masih dengan leher yang tertembus cutter itu, dia merasa hidupnya mulai berakhir di detik ini.


Oh, ya.


Dia baru ingat kalau di rumah ini, dia hanya tinggal seorang diri.


Cerpen Karangan: Nisrina Delia Rosa
Facebook: Nisrina Delia Rosa
Bagi yg sudah membaca, saya sangat mengharapkan kritik dan sarannya, walau hanya sekedar komen biasa saya harap Anda mengirimkannya komentar Anda ke facebook saya. Yah, sebagai tanda kalau Anda telah membaca cerpen saya. Terima kasih.


Sedikit catatan disini:


AHS itu benar-benar ada, walau efeknya tentang ‘menyakiti diri sendiri’ tidak separah di cerpen ini.


regards,


Nisrina DR

Comments

Popular posts from this blog

Cerpen Sesungguhnya Aku Menyayangimu Tapi (Part 2)

NATURAL ANTI DANDRUFF SHAMPOO

Forever Friends

What Does Desert Safari Mean?

Cerpen Lampu Merah

Advantages of a Manual Wheat Grinder

Cerpen 3 Days To Live

Cerpen 2 Sahabat Menjadi 2 Penghianat

Hargai Simbol yang Ditetapkan Allah