Tuhan yang Mempertobatkan

Zakharia 12:10-14 Kita yang sudah jatuh dalam dosa dan sudah mati kerohaniannya tidak mungkin dapat bertobat. Namun, jika Tuhan menghidupkan kerohanian kita, tentu saja pertobatan bukan sesuatu yang mustahil (bdk. Ef 2:1-5).Ayat sepuluh menunjukkan Tuhan akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan. Roh itu dicurahkan atas umat-Nya, yaitu keluarga Daud dan penduduk Yerusalem. Dengan demikian, mereka akan memandang kepada aku (LAI: dia) yang mereka tikam. Mereka akan meratapi dia seperti orang meratapi kematian anak tunggal. Mereka akan menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi kepergian anak sulungnya. Ini menunjukkan bahwa dia yang ditikam adalah aku, kata Tuhan. Ini menyiratkan bahwa Mesias yang ditikam adalah Tuhan sendiri.Tuhan akan memberikan anugerah supaya umat dapat bertobat dan memohon ampun. Mereka harus meratapi Mesias yang mereka tikam. Ratapan yang diberikan akan begitu besar, seperti ratapan di lembah Megido (bdk. 2Taw 35:21-25). Ratapan tersebut akan terj…

Cerpen AHS


Ctik, ctik, ctik…
Seseorang di depan komputer itu mengetikkan sederet huruf pada keyboardnya, fokus tatapannya tanpa suatu niat untuk teralihkan.


Log in


Klik.


Setelah memasukkan email dan passwordnya, dia mengetik tombol log in tepat di sebelah kotak password untuk memasuki akun facebooknya. Hingga sesaat kemudian, tampilan monitornya menampilkan beranda facebooknya.


Tau AHS?


Dia menyerngitkan alisnya, saat sebuah kata terlintas pada layar komputer di hadapannya, lebih tepatnya pada beranda facebooknya.


AHS… Rasanya dia pernah mendengar itu di suatu tempat.


“Apa itu?” gumannya kemudian.


Dilanda rasa penasaran yang tinggi, campur aduk dengan rasa keantusiasan untuk membaca artikel itu… Dia membuka web tersebut dari beranda facebooknya.


AHS, atau singkatan dari Alien Hand Syndrome merupakan suatu penyakit langka dimana orang yang menderitanya tidak bisa mengendalikan tangannya sendiri sesuai keinginannya. Penyakit ini menyebabkan si penderita kerap kali menyakiti diri sendiri atau bahkan orang lain dengan tangannya sendiri. Bahkan ada yang sampai mencekik diri sendiri sangking ekstremnya penyakit ini.


“Mana mungkin…” dia, menghelakan nafasnya dalam setelah membaca artikel absurd nan konyol itu. Menurutnya, orang yang menulis ini kemungkinan sedang mengada-ada, dan hanya bertujuan untuk menipu pembacanya.


Untuk selanjutnya, dia meng-close tab web tersebut tanpa membaca alenia terakhir pada artikel tersebut.


Karena bosan, setelah log out dari Facebooknya, dia mematikan komputernya dan beranjak dari kursi yang dudukinya menuju ke arah kamarnya.


Cklek.


“Eh?”


Dia tersadar sesaat setelah tangan kanannya membuka pintu kamarnya. Bukan sengaja, tapi sebelum ada niat untuk menggerakkan tangan, tangannya secara tiba-tiba bergerak sendiri membukakan pintu.


“Serius…” dengan beberapa tetes keringat dingin menetes dari keningnya, dia mulai memastikkan tangannya itu masih baik-baik saja atau tidak dengan cara menggerak-gerakkan tangannya.


Detik berikutnya, dia bernafas lega karena tangannya itu masih normal-normal saja. Dia anggap yang tadi hanya suatu reflek.


Dia pun memasuki kamarnya, kali ini dengan tangan yang dapat terkendali.


Malam hari, waktu yang tepat untuk mengerjakan PR. Dengan tangan yang memposisikan jari untuk memegang sebuah pena, dia mulai menuliskan satu persatu kata dalam bukunya.


Sret, sret.


Dia mulai mengerjakan PR-nya dengan lancar-lancar sampai saat ini.


Sret, sret, sret.


Tiba-tiba sebelah alisnya naik, saat tau tangannya terus menulis tanpa henti dengan sendirinya. Tidak, ini sungguhan. Dia bersumpah kalau sekarang dia merasa tidak sedang mengendalikan tangannya.


Sret, sret, sret!


Tangan itu terus menulis, menulis tanpa henti yang membuatnya bertambah takut. Tangan kirinya yang menganggur, memegang erat pergelangan tangan kanannya kuat-kuat, berusaha menghentikan tangan satunya untuk tidak bergerak.


“Tanganku kenapa?!” dia berteriak sawan, manakala tangan kanannya itu sudah dirasa tak terkendali. Terus, terus. Tangan kanannya itu terus menuliskan sesuatu yang tidak ingin ditulisnya hingga serasa selembar lebih kertas cukup ditulisnya.


Sekarang waktunya kamu untuk mati.


Dia memandang horor ke arah kertas dengan tulisan serupa hasil kerja tangan kanannya, membuatnya yang dilanda ketakutan level tinggi meneguk ludah susah payah.


Dengan paksa ia tarik pergelangan tangan kanannya itu, hingga dirasa cukup panas dan memerah pergelangannya.


“Tanganku… Tanganku…!”


CRAT


“ARRRGGGHH!!”


Ujung pena itu mengarah ke matanya, menusuk bola matanya sebelum dia ada kesempatan menututup matanya. Darah segar mulai mengalir, membasahi pipinya serta tangannya. Tak tahan dengan rasa sakit, dia menarik tangan kanannya itu paksa dari matanya, lalu memegangi sebelah matanya itu dengan tangannya.


“Akhh… Akkkkhh!”


Sementara mata yang sebelah mengalirkan darah, mata yang sebelah masih sempat memandang horor ke arah tangan kanannya yang ikut berlumuran darah. Untuk kali ini saja, rasanya tangannya itu dapat terkendali.


Lagi, sesaat tangannya bisa terkendali, tiba-tiba tangan itu kembali bergerak, kali ini menuju ke arah cutter yang tepat ada di atas meja.


“Ap— HEGH!!” sebelum sempat berkata, tangan kanannya yang tengah memegang cutter itu menuju lagi ke arah lehernya, kali ini meninggalkan goresan panjang dekat urat nadi lehernya. Nafasnya terengah-engah, kali ini beruntung hidupnya karena tangan kirinya itu berhasil menghentikan tangan satunya, walau harus mengabaikan sementara mata dengan tetesan darah itu.


‘AHS menyebabkan si penderita kerap kali menyakiti diri sendiri—’


Tiba-tiba terlintas di otaknya, sederetan kata yang sempat dibacanya siang ini. AHS… Kenapa gejala ini mirip dengan tangannya sekarang—


… Jangan-jangan, tangannya—


CRASSSH


Darah mengalir, disertai dengan beberapa cipratan darah dari lehernya. Ternyata, cutter itu telah menusuk dalam lehernya, membuatnya yang masih tersadar akan apa sebenarnya arti AHS itu, mendadak terkulai lemas dan dengan kepala yang ambruk di mejanya.


Dengan tangan kanan yang menggenggam cutter itu, otomatis kepalanya yang menimpa tangan itu seketika membuat cutter itu menembus hingga ke belakang lehernya.


Matanya berkunang-kunang, hingga akhirnya pandangannya mendadak jadi hitam. Gelap… Masih dengan leher yang tertembus cutter itu, dia merasa hidupnya mulai berakhir di detik ini.


Oh, ya.


Dia baru ingat kalau di rumah ini, dia hanya tinggal seorang diri.


Cerpen Karangan: Nisrina Delia Rosa
Facebook: Nisrina Delia Rosa
Bagi yg sudah membaca, saya sangat mengharapkan kritik dan sarannya, walau hanya sekedar komen biasa saya harap Anda mengirimkannya komentar Anda ke facebook saya. Yah, sebagai tanda kalau Anda telah membaca cerpen saya. Terima kasih.


Sedikit catatan disini:


AHS itu benar-benar ada, walau efeknya tentang ‘menyakiti diri sendiri’ tidak separah di cerpen ini.


regards,


Nisrina DR

Komentar

  • Perasaan Yang Menyerang Bertubi-tubi - Mengapa Ada Sebuah Rasa?ini Hanyalah Sebuah Pertanyaaan Kebodohan,Sebab Rasa Timbul Dari Sesuatu Hal Yang Muncul.Begitu Banyak Yang Muncul Di Dalam Kehidup...
    4 hari yang lalu
  • How to Advance Through Our Adversity - Romans 8:18, 26-28 What would happen if we approached a fork in the road and found two signs, one reading “Road of Comfort” and the other, “Road of Adversi...
    2 bulan yang lalu
  • TAKING IT CAPTIVE - 2 Corinthians 10:3-5 (KJV) For though we walk in the flesh, we do not war after the flesh: 4 (for the weapons of our warfare are not carnal, but mighty th...
    2 bulan yang lalu
  • The Faith Mission 1886-1964 - By Duncan CampbellOver eighty years ago, a young man with life before him was sitting on a hillside on the Island of Arran. Below, on the Firth of Clyde, s...
    2 bulan yang lalu
  • When it is just you! - Passage: John 1140 Then Jesus said, “Did I not tell you that if you believed, you would see the glory of God?” 41 So they took away the stone. Then Jesus l...
    2 bulan yang lalu
  • Switch On the Light - Bible Reading: Ephesians 5:8-14Though your hearts were once full of darkness, now you are full of light from the Lord. Ephesians 5:8Picture yourself st...
    2 bulan yang lalu
  • The Length Of God's Love - By Rick Warren “I know that your love will last for all time, that your faithfulness is as permanent as the sky” (Psalm 89:2 TEV). There’s a limit to human...
    2 bulan yang lalu

Postingan populer dari blog ini

Bunga Di Kasih Tanda Cinta PadaMu

Humor 3 Drakula

PENGERTIAN NUBUATAN NABI YESAYA

Cerpen Keindahan Berbalut Jilbab Warna Ungu

ORSAKTI KUMBANG TAK BERSAYAP YANG MENGGAPAI BUNGA

Meme & Momo

Cerpen Kasih Ibu Tak Batas Waktu

Cerpen Gak Bisa Tidur

Cerpen Cintaku Tak Berlisan

Thank's You