Featured post

Forever Friends

1 Corinthians 15:53-55 (NLT) For our dying bodies must be transformed into bodies that will never die; our mortal bodies must be transformed into immortal bodies. Then, when our dying bodies have been transformed into bodies that will never die,this Scripture will be fulfilled: “Death is swallowed up in victory.O death, where is your victory? O death, where is your sting?”I spent last evening in a youth service with grieving young people. The young girl killed in a horrible tragedy had touched many and her kindness rippled through the crowd as many shared of her character even at the tender age of 16. Their sobs racked my heart. Why God? The grief counselors from the local high school were there – all believers – they talked with some, embraced others tightly and prayed with those who requested it. I was moved by the Presence of God in the midst of such sorrow and heartache. Hugging her mother, I prayed peace and strength walking through this week into her new normal. I could see the …

Cerpen Kenapa Harus Aku

by : Yoshe Azura


Kehidupan itu sungguh suatu misteri. Banyak kejadian yang takterduga yang terkadang menimpa kita. Itu lah yang aku rasakan, kejadian demikejadian yang datang membawa kesedihan. 


Aku putra sulung di keluargaku. Sebagai seorang anak akuingin selalu bersama kedua orang tuaku, mereka yang menjaga dan mendidikkusehingga aku menjadi anak yang berbudi baik. Bahkan, dari tahun ke tahun akuselalu menjadi juara kelas, menjadi kebanggaan guru n di puji kesantunanku olehorang-orang di sekelilingku. Itu semua berkat kedua orang tuaku… 

Tapi keadaan berubah ketika aku duduk di kelas 2 smp. prahararumah tangga yang membuat kedua orang tuaku harus bercerai. Aku tidak lagi bisamerasakan hangatnya keluarga. Rumah yang dulu bagiku adalah sebuah syurga, kiniberubah jadi tempat gelap yang membosankan. Tak ada lagi kedamaian yang akurasa. Tak ada lagi ayah yang dulu selalu mengajariku banyak hal tentang hidup,mengajariku menjadi lelaki yang tangguh. Tak ada lagi ibuku yang dulu selalumengingatkanku untuk mengerjakan PR, menyiapkan buku sekolah. Tak bisa lagi akulihat ibuku memasak makanan untukku…

Aku kehilangan semua itu yang harusnya masih aku miliki. Danaku pun harus melanjutkan hidup tanpa orangtuaku. aku memilih tuk tidak ikutayah atau ibuku, karena saat itu aku kecewa pada keputusan yang mereka ambil.Entah berapa kali aku menangisi nasibku, aku selalu bertanya kenapa harusterjadi padaku?

Banyak yang berubah dariku saat itu, pergaulanku makin bebas,karena yang aku pikirkan saat itu hanya bagaimana aku bisa melupakan masalahkeluargaku. Beberapa guru dari sekolahku juga sempat mencariku karena akumenghilang 1 bulan dari sekolah. Mereka memberiku semangat dan dukungan. Sampaiaku lulus, aku mendapat tawaran beasiswa tuk melanjutkan sekolahku. Tapi aku menolaknya.Entah apa yang aku pikirkan saat tu.

Hidup luntang lantung kesana kemari, sudah aku jalani. Kerjaserabutan ikut siapa saja yang mau membawaku. Rasa rindu pada keluarga seringkali membuatku lemah. Tapi aku belum ingin kembali pada mereka, aku masih inginmemuaskan diri menikmati pilihanku. Sesekali aku mengunjungi ibuku, tapi lebihsering ke ayah aku.

Tahun ke tahun makin bertambah usiaku, aku mulai berpikirmasa depan. Aku perbarui hidupku, aku kembali pada ibuku, aku ingin membantuibuku. Aku sudah banyak kehilangan hal-hal yang berarti dalam hidupku. Akuberharap hidupku akan lebih baik. Dan akhirnya aku mulai kembali menjadi dirikuyang dulu. meski tidak lengkap tapi aku kembali punya keluarga…

Aku senang dan bersyukur bisa melalui masa-masa pahitku. Tapisiapa sangka, Tuhan kembali mengujiku dengan musibah yang jauh lebih besar.Karena sebuah kecelakaan, aku harus kehilangan satu kakiku. Sedih, marah, putusasa, menjadi satu melemahkan semangat hidupku. Bagaimana bisa ini terjadi? Dankenapa harus aku? Tuhan belum cukupkah ujian yang harus aku lalui? Kenapa harusdengan cara ini KAU mengujiku? Bagaimana hidupku nanti? Kenapa nasibku begitumalang? Tangisanku tak henti-henti mnyesali keadaan ini. 

Dan yang lebih menyakitkan hatiku adalah sikap ibuku yangberubah padaku. Di saat aku hanya bisa terbaring menahan sakit, aku juga harusmendengar kata-kata yang pedas keluar dari mulut ibuku. Kenapa ibuku mengumpatseolah-olah aku yang menginginkan musibah ini.

Masa penyembuhanku membutuhkan waktu yang lama, dan aku harusmelewatinya sendiri, Aku berusaha tegar di depan smua orang. tapi saat akusendiri, aku tak mampu menahan tangisku. Saat aku lihat pahaku yang berbalutperban setelah di amputasi. Dimana kakiku? rasanya masih teringat jelas saataku jalan dengan dua kakiku, tapi kenapa sekarang jadi seperti ini?

Begitu berat menerima kenyataan ini. Kadang aku berharap inihanya mimpi. Hari-hariku penuh kesedihan. Kurangnya perhatian membuat aku makinterpuruk. Aku merasa mereka menganggapku sampah. Aku hanya bisa berdoa semogaaku di beri kekuatan. Aku berjuang melawan sakitku. Aku ingin sembuh, aku tidakmau terlalu lama membebani mereka. 

Setelah aku sembuh, aku bergabung dengan orang-orang yang bernasibseperti aku di sebuah yayasan. Disini lah aku belajar membiasakan diri dengankeadaanku. pelan-pelan percaya diriku mulai tumbuh. Tapi terkadang aku irimelihat mereka yang selalu dikunjungi keluarganya tiap minggu. sedangkan aku,hanya bisa memperhatikan satu persatu mereka yang datang, aku berharap adakeluargaku… walau akhirnya aku kecewa. kemudian aku lebih memilih menyendiri dikamar menyembunyikan mataku yang berkaca-kaca.

Hanya sesekali telepon dari ayahku yang bisa sedikitmenenangkan aku. Dan teman-teman yang sudah seperti saudaraku yang membuathariku terasa menyenangkan. Membuatku tersenyum dan dalam hatiku berkata, akubisa melewati semua ini. 

Sebagai penyandang cacat, aku butuh kaki palsu untukmemudahkan aku beraktifitas. Harganya cukup mahal bagi aku. Aku gak mungkinlagi minta orang tuaku, sudah terlalu banyak yang mereka keluarkan untuk aku.Dengan bantuan teman-temanku, aku dapatkan proposal dari Dinas Sosial dan RumahSakit. Proposal itu lah yang aku gunakan untuk meminta sumbangan dari toko ketoko.

Dengan rasa malu dan takut, aku datangi satu per satu toko…rasanya mau nangis kalau ingat kejadian itu, Di bawah terik matahari akuberjalan tertatih dengan satu tongkat penyangga. Dalam hatiku bertanya “apakahaku pengemis?” Oh tuhan… aku tak pernah membayangkan hidupku akan begini. 

Hari itu banyak toko-toko yang aku masuki, sebagian bisamemahami, bahkan memberi suport, tapi ada juga yang ketus… dia lemparkan uangseribu ke mukaku, astaghfirullah tuhan kuatkan aku, dalam hatiku. Sehina inikah aku? Inilah perjuanganku, aku harus kuat.

Aku selalu berusaha menguatkan diriku. Ternyata memintaadalah hal yang bisa merendahkan diri kita. Aku berdoa pada tuhan, ‘tuhan,sungguh aku terpaksa melakukan ini, hanya ini yang aku mampu lakukan saat ini,tuhan jadikan lah ini awal yang baik’.

Setelah sore aku pulang dengan hati yang sedikit lega, karenasudah ngantongin uang tuk beli kaki palsu. Tapi aku tidak menceritakan hal inipada keluargaku. Besoknya aku bawa uang itu ke rumah sakit dan kekuranganbiayanya di tanggung oleh donatur.

Ternyata benar, di setiap musibah ada hikmah yang bisa diambil. Kita harus ikhlas dan bersabar menghadapinya.

Aku bisa belajar banyak hal, banyak pengalaman yang aku dapatdari sana. Sekarang, meski fisikku tidak sempurna, aku bisa menjalani hidupseperti biasa. Aku bekerja di sebuah laundry. Walaupun gajiku terbilang dibawah rata-rata, aku tetap bersyukur masih ada orang yang mau memperkerjakanaku. Selalu yakin dan berusaha sekuat tenaga, tak ada yang tak mungkin.

Comments

Popular posts from this blog

Cerpen Air Mata Seorang Kawan

Forever Friends

Menjadi Anak Penerobos Di Dalam Tuhan

Cerpen Cinta dan Benci

Cerpen Karenamu, Aku Mengerti

Cerpen Surat Terakhir

Ketaatan Adalah Sebuah Pilihan

Cerpen Kasih Ibu Tak Batas Waktu

Benarkah Jamahan Roh Kudus itu Rebah ?