Featured post

Forever Friends

1 Corinthians 15:53-55 (NLT) For our dying bodies must be transformed into bodies that will never die; our mortal bodies must be transformed into immortal bodies. Then, when our dying bodies have been transformed into bodies that will never die,this Scripture will be fulfilled: “Death is swallowed up in victory.O death, where is your victory? O death, where is your sting?”I spent last evening in a youth service with grieving young people. The young girl killed in a horrible tragedy had touched many and her kindness rippled through the crowd as many shared of her character even at the tender age of 16. Their sobs racked my heart. Why God? The grief counselors from the local high school were there – all believers – they talked with some, embraced others tightly and prayed with those who requested it. I was moved by the Presence of God in the midst of such sorrow and heartache. Hugging her mother, I prayed peace and strength walking through this week into her new normal. I could see the …

Cerpen Sesungguhnya Aku Menyayangimu Tapi (Part 2)


Dua minggu kemudian...
Aku benar-benar nggak tahu harus berkata apa setelah kejadian itu. Biasanya mentionan ku kosong, sekarang bahkan penuh atau overload yang sayangnya berisi caci-maki anak-anak SMA sini. Bahkan teman-temanku di Rohis mengecam ku tak kalah pedasnya, padahal tentang masalah yang tidak mereka ketahui kebenarannya.
Angel juga mengaku memention teman-temanku di IT dulu. Memang mereka meminta konfirmasi, dan aku hanya menjawab nggak ada apa-apa antara aku sama Rio bahkan nggak pernah ngejalin komunikasi di luar hubungan OSIS. Alhamdulillahnya mereka percaya karena mereka tahu track recordku semasa menjadi murid di sana, dan anak kelasku tidak terhasut oleh Angel.

     Teman-teman di Rohis yang mendukung memintaku untuk muhasabah diri. Mungkin aku yang khilaf melabrak aturan islam tentang hubungan lawan jenis yang bukan muhrim, dan semanjak itu aku menjauhi Farrel. Syukurnya belum ada lagi rapat sekbid jadi aku tidak bertambah pusing. Untuk meredakan perasaan itu, aku mencoba fokus kembali mengatur kegiatanku yang cukup berantakan. Aku focus menghafal Al-Qur'an yang selalu kulakukan semasa aku di Sekolah Islam. Aku juga memperbanyak ibadah, memperioritaskan pelajaran akademis maupun ekskul, apalagi tahun depan aku akan menjalani UN dan SMPTN.

     Aku mengusap air mata yang keluar dari pelupuk mata. Aku memang nggak cantik dan popular. Dan aku anak yang pendiam dan garing. Karena itu aku sering gagal berhubungan dengan orang lain apalagi cowok. Ditambah aku anak yang aneh. Aku pun bangkit dan merapihkan mukena lalu bangkit berjalan menuju ke kelas.
"Woi muna!" sahut Angel dkk saat aku melewati gerombolan mereka.
"Eh, Kasihan banget sih Farrel" celoteh temannya yang lain. "Udah tahu banyak cewek cantik yang ngantri, tapi tetap aja milih yang abal" aku pun yang berusaha untuk tidak peduli terus berjalan menuju kelas. Walaupun berusaha membendung air mata.
)_(

"May" kami yang sedang makan di Kantin menoleh. Farrel berdiri di belakangku.
"Kenapa?" tanyaku.
"Gue mau ngomomg sama lo di Perpus" jawabnya.
"Kenapa nggak disini aja?" aku balik bertanya.
"Ini penting May. Gue minta penjelasan dari lo" pinta Farrel. "Sekarang"
Akhirnya aku bangkit dan berjalan mengikuti Farrel ke pinggir Kantin. Sayangnya aku bertemu dengan gerombolan Angel.
"Woi p*rek! Jauhin Farrel, dia nggak pantes buat lo!" seru Angel memancing perhatian.
"Gel, maksud lo apa sih?" Tanya Farrel nggak mengerti.
"Lo nggak tahu rel?" Tanya Angel. "Dia bohong sama lo katanya belum pernah pacaran. Nyatanya?" Angel tersenyum sinis. Farrel mengalihkan pandangannya padaku.
"Dia nggak cerita sama lo?" tanyaku.
"Gue tahu May" kata Farrel. "Tapi kenapa lo harus terhasut dia? Padahal gue lebih tahu ceritanya dibanding dia?"
"Jadi lo lebih percaya sama cerita sepeda bopung itu daripada gue?" sahut Angel. Farrel meangguk.
"Jaga omongan wei" tiba-tiba Rani menyahut. "Biarpun dia nggak sekaya lo tapi dia lebih baik dibanding lo. Tahu diri lo mestinya"
"Lo jangan sok tahu Gel" kata Farrel. "Gue tahu cerita Maya yang sebenarnya. Gue tahu perasaan dia sebenarnya. Gue tahu keteguhannya... May!" seru Farrel saat aku menjauh. Ya Allah, kenapa harus diungkit lagi?
>_<_>_<

     Dan semenjak itu kami menjadi seperti orang asing. Setiap rapat kami nggak pernah ngeributin hal-hal yang nggak penting lagi. Setiap pelajaran matematika dia nggak pernah gerecoki mejaku lagi. Setiap jam kosong aku nggak pernah ngeledekin dia kalau dia sedang main gitar di dekat pintu kelas (karena tampangnya lebih melas dibanding pengamen aslinya). Masing-masing asik dengan dunianya sendiri.
Ya Allah, yang maha membolak-balikkan hati. Bimbinglah Hamba...
*_*

"Maya!" seru teman-teman saat pulpen yang berputar di lantai kelas berhenti di depanku.
"Pilih siapa?" Tanya Nita. Aku terdiam.
"Jihan aja deh"
"Truth or dare?" Tanya Jihan.
"Dare"
"Truth aja deh" tawar mereka.
"Dih maksa" kataku. "Emang kenapa kalau aku milih dare?"
"Kalau dare kamu samperin kakak kelas yang cowok terus bilang 'I love you'"
"Dih!" seruku. "Nggak ada yang lain apa?"
"Tuh kan" kata Jihan. "Truth aja ya?"
"Emang kalian mau nanya apa sih?" tanyaku.
"Tentang perasaan lo ke Farrel, kamu sayang nggak sama Farrel?" Tanya Jihan.
"Sayang" jawabku jujur. "Dia yang bikin aku ketawa. Dan dia baik banget"
"Terus kalau seandainya dia nembak lo, diterima nggak?" Tanya Jihan.
"Nggak tahu deh" aku menggeleng. "Sebenarnya gue nggak pengen punya pacar"
"Apa gara-gara gossip itu ya?" Tanya Jihan.
"Gosip itu nggak benar Ji" jawabku.
"Lo emang belum pernah pacaran kan?" Tanya Jihan lagi.
"Emang belum" jawabku. "Soalnya islam nggak ngajarin pacaran sebelum menikah. Lagian gue cuma cewek biasa dan dia anak populer. Mirip dengan ceritaku dengan Rio waktu masih di sekolah yang lama"
"Kata teman gue juga gitu sih" Kata Mira. "Tapi May, Angel and the gank memang lebay. Genknya Farrel biasa aja, malah mereka kesal gara-gara Angel dkk angkatan kita dibenci sama kakak kelas. Soalnya udah tukang bohong selingkuh pula"
"Dia selingkuh?" tanyaku.
"Iya pas pacaran sama Farrel dia selingkuh sama kakak kelas" cerita Jihan. "Makanya diputusin sama Farrel. Lagian Farrel jadian sama dia juga karena terpaksa kok"
"Pokoknya gue setuju kalau Maya sama Farrel kita setuju deh" kata mereka.
Gue hanya menggeleng-geleng namun berkata dalam hati, "Amin, kalau jodoh ya"
)_(_)_(_)_(

     Hmm... jam kosong... jam kosong. Aku menghela nafas, anak-anak kelihatan girang banget karena Pak Nugie, guru Matematika nggak masuk yang bertanda nggak ada tugas menumpuk yang menanti. Walaupun hari ini Pak Nugie ngasih tugas sih, tapi ngumpulinnya bisa besok atau kapan-kapan lah.
Namun tiba-tiba suasana yang tadinya riuh mendadak menjadi sepi. Aku yang asik megerjakan matematika langsung menoleh ke depan, mungkin ada guru lewat yang masuk kelas karena berisik. Namun tidak ada siapa-siapa. Tiba-tiba aku mendengar sebuah lagu dan suara yang ku kenal. Lagu ini.. aku terdiam Secondhand serenade stranger. Penyanyinya, aku menoleh dan mendapati Farrel dan gitar kesayangannya di depan kelas.
Turn Around
Turn Around and fix your eye in my direction
So there is a connection
I can't speak
I can't make a sound to somehow capture your attention
I'm staring at perfection
Take a look at me so you can see
How beautiful you are

You call me a stranger
You say I'm a danger
But all these thoughts are leaving you tonight
I'm broke and abandoned
You are an angel
Making all my dreams come true tonight
Aku terpana mendengar suaranya yang syahdu menyanyikannya. Mau tak mau aku berdiri hingga terkuaklah siapa penyanyinya, ternyata Farrel. Hingga dia menyanyikan bagian klimaksnya.
Take a look at me so you can see
How beautiful you are
[x4]
Your beauty seems so far away
I'd have to write a thousand songs to make you comprehend how beautiful you are
I know that I can't make you stay
But I would give my final breath to make you understand how beautiful you are
Understand how beautiful you are

     Suasana pun kembali riuh dengan anak-anak yang ikut bernyanyi. Aku pun tidak mengatakan apa-apa hingga dia selesai menyanyikan lagunya. Meninggalkan sunyi yan cukup mencekam kelas. Aku pun kembali duduk, mungkin anak kelas lagi pada galau seperti biasa. Aku pun kembali fokus. Tadi aku sampai mana yah?
"May" aku langsung menoleh. "Gue minta maaf" Dia ngapain kesini?
"Maaf buat apa?" aku yang awalnya rada bingung langsung ngeh, "Nggak ada yang salah rel"
"Gue minta maaf May" kata Farrel lagi. "Karena gue lo merasa susah, karena gue lo jadi minder. Dan karena gue mereka ngejelekin lo dan gue nggak bisa ngapa-ngapain. Dan sampai nyeret anak sekolah lo yang lama. Padahal lo nggak pengen nyeret mereka"
"Nggak pa-pa" kataku. "Woles aja, mungkin itu teguran dari Allah buat gue instropeksi diri" .
"Hmm... May" panggil Farrel. "Gue kini ngerti alasan lo buat nggak pacaran, setelah gue diskusi sama Farah, sama Pembina Rohis, sama anak Rohis yang lainnya kini gue paham tentang aturan itu"
"Alhamdulillah" kataku lega. "Lo udah dapet sedikit hidayah"
"Awalnya setelah ngerti hal itu. Gue awalnya nggak jadi buat nembak lo. Cuma anak kelas maksa, mereka bilang "lo harus ungkapin perasaan ke dia, jangan dipendam!". Akhirnya gue mengalah dan yah terjadilah seperti ini" kata Farrel.
"Gue pingin ikut jejak lo May" kata Farrel. "Nggak pacaran sampai waktunya tiba, demi menjaga hati dan cinta untuk orang yang kita nikahi nantinya. Doain gue" kata Farrel mantap.
Gue pun menghela nafas, Alhamdulillah akhirnya...
_(_)_(

     Sekelas bahkan seangkatan awalnya sedikit gempar mendengar aku dan Farrel tidak pacaran. Padahal mereka tahu kalau kami memang dekat, dan bahkan sekelas bilang aku lebih hidup kalau aku dekat dengan Farrel.
Aku sempat goyah dalam mempertahankan ajaran agamaku yang meniadakan pacaran sebelum menikah. Apalagi ini untuk pertama kalinya aku menyukai dan menyayangi seseorang setelah aku mengenalnya. Namun aku berpikir, memang lebih baik kami tidak bersatu dulu (kecuali jika dia memang jodohku).
Karena masih banyak yang harus kami kejar dibanding jika harus mengikatkan diri satu sama lain dalam hubungan yang bahkan bisa putus kapan saja (sangat rapuh). Farrel pun setuju, kini dia mencoba mengikuti pengajian walaupun dia juga masih sering bergaul sama teman-temannya. Katanya sih dia pengen menyebarkan kebaikan sama teman-temannya, biar deh.

     Sedangkan Angel? Entahlah, aku sih juga nggak terlalu mikirin sih karena memilih focus sama hal-hal yang positif. Tapi mention ku kembali penuh sama permintaan maaf, karena kabar itu terbukti nggak benar. Aku benar-benar terima kasih banget sama Rio yang mau ngejelasin semuanya sama anak-anak sekolahku sekarang (biarpun aku ngerasa nggak enak sama dia dan pacarnya. Pacarnya kan baik banget, teman satu tahfiz ku di sekolah yang lama).
Setelah semua yang terjadi dapat dijadikan instropeksi diri. So, Aku menyayangimu tapi... sebagai sahabat dalam kebaikan...

Penulis: Fida Amatullah

Comments

Popular posts from this blog

NATURAL ANTI DANDRUFF SHAMPOO

Forever Friends

What Does Desert Safari Mean?

Cerpen Lampu Merah

Advantages of a Manual Wheat Grinder

Cerpen 3 Days To Live

Cerpen 2 Sahabat Menjadi 2 Penghianat

Hargai Simbol yang Ditetapkan Allah