WaktuMu Tidak Singkat

Ada Singkatnya Hari Yang Dapat TerlaluiSebab Hari Terlalui Dengan Kelelapan Tidur Sepanjang Waktunya Aku Merenungkannya Tiada Yang Terbuat Di Dalamnya Hanyalah Satu Yang Terbuat Di Dalamnya Tidur Sepanjang Hari Tapi Itu Hanyalah Yang Aku Lihat Di Dalam Kenyataannya Tapi Kini Aku Telah Mengetahuinya Di Kejauhan Apa Yang Aku Lihat Di Dalam Kenyataannya Ada Dunia Di Dalam Tidurnya Yang Ia Kerjakan Ada Sesuatu Yang Terbuat Di Dalam Tidurnya Sehingga Terlelap Sepanjang Hari Bekerja Di Dalam Tidurnya Aku Salah Telah Memberikan Tanda Tiada Yang Di Kerjakan Selain Tidur SajaTernyata Kini Engkau Benar Bahwasanya Engkau Bekerja Di Dalam TidurMuMengerjakan Hal Yang Tidak Dapat Aku Lihat Dan Aku Dapat Kerjakan Engkau Mampu MengerjakannyaSebab Kini Telah Aku Ketahui Ada Seorang Yang Di BelakangmuSeorang Yang Selalu Mengerjakan Segala Hal Sesuatunya Yang Tidak Dapat Aku Lihat Kini Telah Engkau Pegang Di Tangan Kirimu Sebuah Segitiga Emas Dan Kini Engkau Telah Di Berikan Pakaian Hitam Bertanda Di Da…

Renungan Hati Yang Jujur Dan Terbuka

Baca: Lukas 18:9-14

“Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihaniah aku orang berdosa ini.” (Lukas 18:13)

Keadaan hati kita dalah faktor penting dalam hubungan dengan Tuhan karena yang dinilai Tuhan bukanlah paras, perawakan atau pun kepandaian, melainkan isi hati kita. “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” (1 Samuel 16:7b), sebab “Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu.” (Amsal 27:19).

Untuk menggambarkan keadaan hati manusia, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan: “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai." (Lukas 18:10). Orang Farisi adalah tokoh agama yang tau banyak tentang isi Alkitab. Tapi sayang hatinya penuh kesombongan dan kemunafikan, merasa bersih dari dosa, tanpa cacat cela seperti tertulis: “Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, karena aku tidak sama seperti orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” (Lukas 18:11-12). Otomatis orang Farisi merasa tidak lagi memerlukan belas kasih dan anugerah Tuhan; orang sehat tentunya tidak memerlukan dokter/tabib. Sebaliknya, “...pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” (Lukas 18:13).

Kejujuran dan keterbukaan hati si pemungut cukai telah membuka pintu rahmat Tuhan. Permohonan belas kasih yang dipahat dari jeritan hati yang remuk selalu menyentuh hati Tuhan. Tuhan berkata, “Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain (Farisi) itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Lukas 18:14).

“Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mazmur 51:19)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga Di Kasih Tanda Cinta PadaMu

Humor 3 Drakula

Cerpen Keindahan Berbalut Jilbab Warna Ungu

Cerpen AHS

PENGERTIAN NUBUATAN NABI YESAYA

ORSAKTI KUMBANG TAK BERSAYAP YANG MENGGAPAI BUNGA

Meme & Momo

Cerpen Kasih Ibu Tak Batas Waktu

Cerpen Gak Bisa Tidur

Cerpen Cintaku Tak Berlisan

Thank's You