Tuhan yang Mempertobatkan

Zakharia 12:10-14 Kita yang sudah jatuh dalam dosa dan sudah mati kerohaniannya tidak mungkin dapat bertobat. Namun, jika Tuhan menghidupkan kerohanian kita, tentu saja pertobatan bukan sesuatu yang mustahil (bdk. Ef 2:1-5).Ayat sepuluh menunjukkan Tuhan akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan. Roh itu dicurahkan atas umat-Nya, yaitu keluarga Daud dan penduduk Yerusalem. Dengan demikian, mereka akan memandang kepada aku (LAI: dia) yang mereka tikam. Mereka akan meratapi dia seperti orang meratapi kematian anak tunggal. Mereka akan menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi kepergian anak sulungnya. Ini menunjukkan bahwa dia yang ditikam adalah aku, kata Tuhan. Ini menyiratkan bahwa Mesias yang ditikam adalah Tuhan sendiri.Tuhan akan memberikan anugerah supaya umat dapat bertobat dan memohon ampun. Mereka harus meratapi Mesias yang mereka tikam. Ratapan yang diberikan akan begitu besar, seperti ratapan di lembah Megido (bdk. 2Taw 35:21-25). Ratapan tersebut akan terj…

Cerpen Sabda Sang Dalang


"Hore, aku memenangkan sayembara ini." kata Raden Rama Wijaya.
"Baiklah karena kau pemenangnya, kuserahkan Dewi Shinta kepadamu." kata Prabu Janaka.
Raja Rahwana, ia adalah raja dari Kerejaan Alengkadiraja. Ia sedang jatuh cinta kepada Dewi Shinta. Penculikan Dewi Shinta terjadi saat Rama, Dewi Shinta dan Lesmana berada dalam perjalanan ke Hutan Dandaka. Penculikan ini adalah akal-akalan dari Rahwana dan ia dibantu oleh Marica.
"Marica, aku butuh bantuanmu untuk mengubah wujudmu, menjadi kijang kencana yang sangat indah, bisa?" tanya Rahwana.
"Apa, coba yang tidak kulakukan untukmu? Tapi, untuk apa sampai aku harus mengubah wujudku menjadi kijang kencana yang sangat indah?" tanya Marica.
"Aku punya sebuah rencana untuk menculik Dewi Shinta, istri dari Raden Rama Wijaya." kata Rahwana.
"Namun, apa siasatmu?" tanya Marica.
"Istri Rama sangat menyukai kijang kencana, pasti dia akan mengejarmu, lalu aku akan menculik Shinta." kata Rahwana.
"Oh, begitu, baik aku akan membantumu." kata Marica.

Siasatnya berhasil, ia mendapatkan Dewi Shinta. Kemudian, dibawanya Dewi Shinta pulang ke istananya.
"Hahaha, kudapatkan juga engkau Dewi Shinta, hahaha." kata Rahwana sambil pulang dengan membawa hati yang berbunga-bunga.
"Dewi Shinta, maukah engkau menjadi istri Rahwana?" tanya Trijata.
"Sampai kapan pun, aku tidak akan mau menjadi istrinya." kata Dewi Shinta.
"Kumohon, jadilah istriku, bila engkau menjadi..." kata Rahwana belum selesai berbicara.
"tidak, tidak dan tidak, itulah jawabanku!" kata Dewi Shinta.
"Dasar kau keras kepala!" kata Rahwana.

"Gubrak..." suara pukulan meja.
"Ada apa, Rahwana?" tanya Trijata
"Sudah berapa kali aku meminta Dewi Shinta untuk menjadi istriku tetapi selalu ditolak. Sudah habis kesabaranku." kata Rahwana dengan meledak-ledak.
"Sabar, sabar nanti pasti dia juga akan mau menikah dengan-Mu." kata Trijata.
Secara tiba-tiba datanglah kera putih, ia mengacaukan halaman Istana Alengka, demi mengetahui kekuatan dari dalam istana tersebut.
"Apa maksudnya ini, lihat taman jadi rusak, kubunuh engkau!" kata Rahwana sambil marah lagi.
"Jangan, kak." kata Kumbakarna, adiknya.
"Beraninya engkau menentangku! Pergi kau dari istana ini sekarang juga!" kata Rahwana marah.
"Sekarang kubakar saja engkau, kera putih!" kata Rahwana dengan hati yang sangat kesal.
Dibakarnya kera putih yang bernama Hanuman itu, namun api itu tidak membakar sedikit pun tubuh Hanuman, tetapi api itulah yang membakar Istana Alangka.
"Selesai sudah pertempuran, Rama mencari istrinya yang berada di dalam istana tersebut. Setelah ia bertemu dengan istri tercintanya, ia ingin mengecek kesucian tubuh istrinya dengan bantuan dewa api. Setelah semua usai, ternyata benar, tubuh istrinya masih suci, lalu mereka pulang ke istana mereka dengan hati yang bahagia." kataku selesai berbicara.
"Oh, jadi begitu ceritanya, kek?" tanya Ibrahim.
"Benar." kataku.
"Permisi, ada orang? Tok... tok... tok...," kata seorang tamu, sambil mengetuk pintu.
"Oh, sebentar..., masuk, Pa." kataku yang membukakan pintu, dan menyuruh tamu tidak dikenal itu untuk masuk ke dalam rumahku.
"Perkenalan, saya Pak Andre. Saya kesini untuk meminta bantuan Bapak. Setelah saya mencari informasi dari warga Kampung Kembang, saya menemukan Bapak. Kata warga disini, Saat Bapak masih muda, Bapak pernah menjadi seorang dalang yang sangat terkenal, di kampung ini, benar?" tanya Pak Andre.
"Oh, benar. Apa yang bisa saya bantu?" tanyaku bingung.
"Saya ingin Bapak melakukan pementasan di Kota Bandung, tapi Bapak tidak perlu takut semua keperluan Bapak biarkan saya yang menanggung, jadi maukah bapak membantu saya?" tanya Pak Andre.
"Oh, boleh." kataku menyanggupi.
"Baik, kalau begitu Bapak datang untuk pertunjukan wayang tanggal 30 Juni, bisa?" tanya Pak Andre.
"Bisa, bisa." kataku.
"Ini ada sedikit buah tangan dari Kota Bandung, silahkan ambil." kata Pak Andre.
"Oh ya, ini ada kartu nama saya, bila ada perlu, silahkan hubungi saya." tambahnya.
"Terimakasih, Pak." kataku.

Waktu terus mangalir
Bagaikan air
Usia semakin bertambah
Kondisi tubuh juga berubah
Masa tua
Berbeda dengan masa muda
Semakin melemah
Melakukan sesuatu semakin susah

"Kakek, dua hari lagi kakek akan melakukan pertunjukan wayang, tapi bagaimana caranya bila kesehatan kakek terus menurun?" tanya Ibrahim.
"Tenang saja, Ibrahim kakek pasti sembuh." kataku.

Tak lama kemudian datanglah seorang dokter dan dua orang suster. Setelah dokter tersebut memeriksaku, ternyata di bagian tanganku ada tumor dan penyakit ini hanya dapat diobati dengan cara dioperasi. Aku sangat terkejut. Aku takut aku tidak dapat bekerja lagi hanya karena tanganku yang telah dioperasi.
"Tenang, ya kek. Kalau kakek tidak bisa melakukan pertunjukan wayang, masih ada aku. Bairlah aku yang menggantikan kakek, boleh?" tanya Ibrahim.
"Kamu yakin? Kamu tahu dan hafal ceritanya?" tanyaku untuk meyakinkan.
"Aku yakin aku pasti bisa. Aku akan memberikan sesuatu yang terbaik untuk para penonton. Kalau soal cerita, kakek sudah pernah menceritakan cerita wayang. Aku sudah hafal." kata Ibrahim.
"Baiklah, aku yakin kamu bisa melakukannya. Kamu boleh menggantikanku." kataku.

Hari terus berjalan
Mendekati hari tertentu
Bila tiba saatnya
Jantung berdebar-debar
Setelah semua usai
Hati terasa tenang
Saatnya melihat hasil
Apa yang telah dilakukan

Tidak terasa, besok sudah hari pertunjukan lagi. Aku takut pertunjukan tidak berjalang dengan lancar. Aku hanya bisa berdoa, berdoa dan berdoa. Semoga Tuhan dapat mengabulkan semua permintaanku.
"Aku harus bersiap-siap." kata Ibrahim.
"Kakek, jantungku sangat berdebar-debar, mengapa ya?" kata Ibrahim.
"Tenangkanlah hatimu. Semakin kamu takut akan hal-hal tertentu, kamu semakin bingung dan tidak dapat melakukan sesuatu dengan baik." kataku.
"Oh, begitu, kek." kata Ibrahim.

Keesokan harinya, kulihat matahari sudah terbit. Berati sudah saatnya Ibrahim menampilkan wayang-wayang serta mengucapkan dialognya. Bebarapa saat kemudian Ibrahim pamit padaku, lalu ia pergi ke tempat yang diminta oleh Pak Andre. Namun, aku tidak bisa menghadiri acara tersebut, hatiku gelisah tidak terhingga.

"Baiklah saatnya kita menonton pertunjukan wayang." kata Pak Andre.
"Prok, prok, prok." suara tepuk tangan penonton awal cerita.
"Akan kuceritakan apa yang telah aku dapat dari kakek." kata Ibrahim dalam hati.

"Prok... prok... prok..." suara tepuk tangan di akhir cerita.
"Aku akan pulang dengan membawa hati yang sangat gembira." kata Ibrahim.
"Kakek, kakek, pertunjukan berjalan dengan lancar..." kata Ibrahim sambil berteriak bangga dan mendekatiku.
"Syukurlah. Terimakasih, ya Allah." kataku.
"Waktu lain, kamu boleh menggantikanku menjadi dalang." kataku.

Tamat

Penulis: Davina Senjaya


Komentar

  • How to Advance Through Our Adversity - Romans 8:18, 26-28 What would happen if we approached a fork in the road and found two signs, one reading “Road of Comfort” and the other, “Road of Adversi...
    4 minggu yang lalu
  • TAKING IT CAPTIVE - 2 Corinthians 10:3-5 (KJV) For though we walk in the flesh, we do not war after the flesh: 4 (for the weapons of our warfare are not carnal, but mighty th...
    4 minggu yang lalu
  • The Faith Mission 1886-1964 - By Duncan CampbellOver eighty years ago, a young man with life before him was sitting on a hillside on the Island of Arran. Below, on the Firth of Clyde, s...
    4 minggu yang lalu
  • The Soul’s Amen - Then I will keep the promise I swore on oath to your ancestors to give them a land flowing with milk and honey.” That is the very land that you still live ...
    4 minggu yang lalu
  • When it is just you! - Passage: John 1140 Then Jesus said, “Did I not tell you that if you believed, you would see the glory of God?” 41 So they took away the stone. Then Jesus l...
    4 minggu yang lalu
  • Switch On the Light - Bible Reading: Ephesians 5:8-14Though your hearts were once full of darkness, now you are full of light from the Lord. Ephesians 5:8Picture yourself st...
    4 minggu yang lalu
  • The Length Of God's Love - By Rick Warren “I know that your love will last for all time, that your faithfulness is as permanent as the sky” (Psalm 89:2 TEV). There’s a limit to human...
    4 minggu yang lalu

Postingan populer dari blog ini

Bunga Di Kasih Tanda Cinta PadaMu

Humor 3 Drakula

PENGERTIAN NUBUATAN NABI YESAYA

Cerpen Keindahan Berbalut Jilbab Warna Ungu

Cerpen AHS

ORSAKTI KUMBANG TAK BERSAYAP YANG MENGGAPAI BUNGA

Meme & Momo

Cerpen Kasih Ibu Tak Batas Waktu

Cerpen Gak Bisa Tidur

Cerpen Cintaku Tak Berlisan

Thank's You