Inti Bumi ?

Sebuah Dasar Dari Terbentuknya Bumi Itulah Inti Bumi,Berbentuk Kristal Itulah Yang Di Katakan Seorang Yang Menelitinya,Namun Aku Tidak Tahu Akan Kebenaran Yang Sesungguhnya Akan Hal Itu,Jadi Aku Membayangkannya. Bagaimana Jika Dahulu Kala Ada Sebuah Kristal Besar Yang Di Sebut Matahari Pertama,Lalu Ia Terpecahkan,Menjadi Kepingan Dan Suatu Yang Paling Besar Akan Membentuk Matahari Yang Kita Lihat Sekarang ini,Dan Yang Sebagian Kecil Membentuk Planet. Tandanya Sebuah Kristal Itu Adalah Sebuah Energy Matahari,Karena Berukuran Kecil Ia Membentuk Lapisan Tanah,Sebab Demikian Magma Yang Keluar Dari Perut Bumi,Nantinya Dia Akan Menjadi Tanah.Dan Jika Kenyataan Kristal Itu Adalah Benar,Maka Jika Kita Mengambil Sebaguan Kristal Itu,Kita Akan Memiliki Sebuah Matahari,Dan Bagaimana Kita Dapat Mengambilnya Tentu Dengan Membuat Lubang Dengan Sebuah Kristal Juga Yang Mampu Diam Di Dalam Panas, Tapi Coba Lihat Akan Dampaknya,Itu Perlu Di Perhitungkan. Sebab Demikian Jika Ada Perubahan Pada Kristal …

Perkemahan Yang Menakutkan


Hari ini adalah hari terakhir bagi anggota Pramuka SMP Negeri 29 untuk berlatih sebelum besok berangkat kemah di Candika. Semua perlengkapan yang diperlukan sudah siap dalam tas kami masing-masing. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 yang berarti latihan hari ini telah usai, seperti biasa sebelum pulang kami berkumpul dan mendapatkan pengarahan dari Kakak Pembina kami yaitu Kak Panca, Kak Gustab dan Kak Hendra.


“Latihan hari ini selesai. Besok kumpul di sekolah paling lambat pukul 06.00 dan jangan sampai ada barang dan alat yang tertinggal. Semua mengerti?” kata Kak Panca.
“Siap mengerti” jawab kami serentak.
“Baiklah setelah ini langsung pulang kerumah masing-masing. Balik kanan bubar jalan.” Kata Kak Panca
Setelah sampai di rumah aku memeriksa kembali semua perlengkapan untuk besok setelah itu aku segera tidur karena sudah malam.


Keesokkan harinya, pukul 06.00 pagi kami sudah berkumpul di sekolah seperti perintah Kakak Pembina kami kemarin sebelum berangkat kami dibariskan terlebih dahulu lalu setelah diberikan pengarahan semua anggota berangkat menggunakan mobil yang telah tersedia tetapi aku dan dandi dipanggil oleh Kak Panca untuk mengambil tenda dan pasak di Sanggar.
“Danti, Dandi cepat ke sini sebentar!” panggil Kak Hendra.
“Ya, ada apa kak?” jawabku.
“Tolong ambilkan tenda dan pasak di dalam sanggar.”
“Siap kak” ucap kami berdua.


Aku dan andi pun langsung ke sanggar untuk mengambilnya setelah itu kami langsung memberikannya kepada Kak Panca dan berangkat ke lokasi perkemahan.
“Ini tenda dan pasaknya kak” kata Dandi.
“Terima kasih, ayo cepat kalian naik ke mobil nanti kalian bisa tertinggal” kata Kak Hendra.
“Baik, kak” jawab kami.


Di perjalanan Yolan, Anggie, Erisa, Kak Venny dan Kak Intan terus bernyanyi sambil tertawa dan membuat kami semua ikut bernyanyi bersama. Tidak terasa kami sudah sampai di lokasi perkemahan lalu kami turun dari mobil sambil bergotong-royong menurunkan semua perlengkapan yang kami bawa.
“Kak Venny, tolong bawa tali ini?” ucap Nova.
“Ya, dik” jawab kak Venny.
“Anggie, Erisa tolong bantu aku membawa stuk ini?” kataku.
“Oke dan” jawab mereka.


Setelah semua perlengkapan diturunkan dari mobil, kami bersama-sama masuk ke lokasi perkemahan dan mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Dari sini semua ketakutan itu mulai muncul. Awalnya kami memilih lokasi yang letaknya di depan tetapi karena di depannya ada tempat sampah yang besar dan semua anggota tidak tahan dengan bau sampah akhirnya kami mendirikan tenda tepat di seberang lokasi tenda milik regu putra. Saat sedang mendirikan tenda, tiba-tiba salah satu dari kami yaitu Kak Intan menangis. Kami pun kaget dan bingung namun kami mencoba untuk bertanya padanya.


“Kak, Kak Intan kenapa menangis?” tanya Anggie.
“Tadi di sana ada cewek pakai baju putih.. hik.. hik.. hik.” jawab Kak Intan.
“Gak ada siapa-siapa tan di sana. Mungkin kamu salah lihat saja” ucap kak Wulan.
“Tapi, dia masih ada di sana.. hik.. hik.. hik.” masih menangis.


Salah satu dari kakak penegak kami yaitu Kak Agus mengajak Kak Intan menjauh dari lokasi tenda dan menenangkan Kak Intan. Setelah tenda selesai didirikan dan Kak Intan sudah mulai tenang kami pun berkumpul dan berbincang dalam tenda tetapi Kak Intan tetap tidak mau kalau pintu tenda bagian belakang dibuka padahal kami semua sudah merasa kegerahan.
“Jangan dibuka pintu belakangnya, aku gak mau masuk kalau dibuka pintu belakangnya.” ucap Kak Intan.
“Tapi kak panas.” Jawab Nova.
“Sudah ikuti saja, jangan dibuka dulu pintu belakangnnya.” Kata Kak Agus.
“Baik, Kak Agus.” Jawab Nova.


Lama-kelamaan Kak Intan sudah mau kalau pintu tenda bagian belakang dibuka dan kami bercanda dengan serunya namun saat pandangan Kak Intan kembali tertuju ke arah sana, Kak Agus langsung bertanya.
“Dik, cewek itu pakai baju apa? lagi ngapain tuh cewek?” Tanya Kak Agus.
“Putih kak, dari tadi dia ngelihat ke sini terus kak!” Jawab Kak Intan.
“Gak usah dilihat itu cewek.” Jelas Kak Agus.
Kak Gustab menyuruh aku dan Anggie untuk membeli garam yang akan ditaburkan di sekitar tenda agar terhindar dari binatang melata.
“Gik, tolong beli garam di depan?” pinta Kak Gustab.
“Baik, kak” jawab Anggie.
“Dan, temani aku beli garam yuk?” kata Anggie.
“ok, gik” jawabku.


Kami berdua langsung ke warung di depan lokasi perkemahan setelah mendapatkan garam kami langsung kembali ke tenda dan menaburnya di sekitar tenda dengan teman-teman yang lain. Sekitar pukul 03.30, masing-masing 10 orang dari regu putri dan putra mengikuti upacara pemindahan batu pertama namun belum lama gladi resik 3 orang temanku kembali ke tenda karena sakit namun saat mulai upacara lama-kelamaan 6 orang lagi izin ke toilet, dan pulang ke tenda sebentar dan tidak kembali lagi ke lapangan upacara. Tinggal aku sendirian sampai aku menangis dan akhirnya ikut barisan SMP negeri 24, upacara itu berlangsung selama 3 jam.


Malam harinya, kami menentukan tempat tidur kami tetapi tidak ada yang mau tidur di bagian ujung dekat pintu belakang akhirnya aku yang memutuskan untuk tidur di ujung sekali. Lalu saat sedang makan kami mendapat berita duka dari Erisa. Kakak sepupunya menelepon kalau tantenya Erisa meninggal dunia. Suasana menjadi sunyi dan penuh air mata.
Kring.. Kring.. Kring, telepon berbunyi.
“Halo, assalamualaikum, ada apa kak? serius kak Tante meninggal jangan bercanda, soalnya Risa lagi kemah sekarang kak! sekarang jenazah Tante ada di mana kak? di Rs. Benteng, ya sudah Risa ke sana sekarang kak. hik.. hik.. hik” Jawab Erisa sambil menangis.
“sabar ris” ucap kami.
Saat Erisa diantar pulang oleh Kak Panca tiba-tiba Kak Venny dan Anggie ikut menangis yang kami pikir mungkin mereka ikut berduka atas meninggalnya Tante yang sangat Erisa sayangi itu.


Saat malam api unggun, tidak ada hal yang menakutkan namun sangat disayangkan baru pukul 11.00 malam tetapi acara api unggun harus dihentikan karena turun hujan deras. Saat kembali ke tenda ternyata banjir jadi pihak panitia menyuruh untuk tidur di Aula dan Mess.
“Kak, bagaimana ini tendanya banjir?” tanyaku.
“Tadi pihak panitia sudah menyuruh agar pindah ke Aula dan Mess, jadi cepat kemasi barang yang kalian perlukan.” Jelas Kak Panca.
“baik, kak” Jawabku.


Saat berada di Aula, Kak Agus tak seperti biasanya. Dia hanya diam dan wajahnya pun pucat pasi. Saat kami tanya dan menyuruhnya untuk makan Kak Agus hanya merespon dengan anggukan kepala saja. Ini seperti bukan Kak Agus yang biasanya karena Kak Agus itu orangnya ceria dan suka ngelawak.
“Kak, makanlah dulu?” ucapku.
Kak Agus hanya diam. Lalu kami bertanya pada Kak Panca soal Kak Agus.
“Kak Panca, Kak Agus itu kenapa?” tanya Nova.
“Sudahlah, dia itu lagi ngurus kalian.” Jawab Kak Panca.


Aku juga bertanya dengan kak Venny kenapa tadi dia nangis waktu makan dan sewaktu Erisa pulang.
“Kak Venny tadi kenapa nangis? sedih karena tantenya Erisa meninggal ya kak?” tanya ku.
“Iya dik, tapi tadi juga Kakak lihat ada bayangan cewek di sebelah Danti” jawab kak Venny.
“Serius kak?!” ucapku.
“Serius, dik.” Ucap kak Venny.


Anggota putri mendapatkan kamar di Mess dengan kakak-kakak dari SMA Negeri 11, satu kamar ditempati oleh 28 orang. Lagi-lagi ada yang melihatnya tetapi bukan kami melainkan dua anggota dari kakak SMA Negeri 11 yang pergi ke toilet.
“tok.. tok.. tok.. tok.”
“Kenapa kalian ini?” tanya Kakak Pembina mereka.
“Kak!! Kami tidak jadi ke toilet. Ada hantu cewek di sana kak.” ucap mereka.
“Kalian ini sudah SMA tetapi masih seperti anak kecil. Apa kalian tidak malu dengan adik-adik SMP?” Kata kakak Pembina itu.


Seperti biasa pukul 04.00 pagi aku sudah terbangun ku lihat semua orang masih tertidur karena semuanya mengobrol sampai pukul 03.00. Tak lama Kak Intan juga bangun ternyata dia tidak tidur semalam. Padahal yang bisa melihat hal-hal aneh sudah diperintahkan untuk tidur duluan dan ku lihat semalam Kak Intan sudah tidur. Aku terkejut saat dia bercerita kepadaku tentang semalam.


“Kak Intan sudah bangun” tanyaku.
“Sudah dik. Oh ya, semalam dia ke sini dik.” Ucap Kak Intan.
“Dia siapa kak?” tanyaku.
“Cewek yang kemarin itu.” Jelas Kak Intan.
“Serius kak! ngapain itu cewek ke sini kak? Bukannya kak sudah tidur ya semalam?” tanyaku.
“Dia cuma ngelihat aja sepertinya ada yang dia cari, Kakak gak tidur semalam dan waktu dia datang Kakak tahu tetapi pura-pura tidur” jawab Kak Intan.
“Jam berapa kak? Apa waktu Kakak-Kakak SMA 11 sudah tidur?” tanyaku.
“Kakak gak lihat jam, yang pasti Kakak-Kakak SMA 11 masih ngobrol namun mereka gak ada yang tahu kalau semalam dia datang.” jelas Kak Intan.


“Tapi, kenapa dia ganggu kita selama di sini?” tanyaku.
“Itu karena dia marah tempat tinggalnya diganggu karena adanya perkemahan ini, lagi pula tadi siang waktu nabur garam, lemparan terakhir oleh Kak Agus dilemparkan tepat ke arah dia. Kemudian, saat Kak Agus bermain senter tembak sehabis api unggun tadi Kak Agus itu sengaja mengarahkan senter itu ke arahnya itu buat dia marah banget. Lalu saat di Aula Kak Agus diam dan wajahnya pucat itu karena dia diikuti oleh cewek itu dan cewek itu tepat berada di belakangnya.” Jelas Kak Intan.
“Berarti itu memang salah kita kak, karena Kak Agus sudah mengusik ketenangannya.” tanyaku.
“Ya, dik. Tidak perlu beritahu anggota lain ya? karena dia tidak mau diketahui orang banyak.” jawab Kak Intan.
“Ya, kak.” ucapku.


Tak terasa Sudah waktunya salat subuh, aku dan Kak Intan membangunkan semua anggota regu kami untuk salat subuh. Pagi hari, kami bersiap-siap pulang dan aku sangat mengingat detail sosok wanita yang diceritakan oleh Kak Intan tadi subuh. Setelah sarapan kami bermain-main dahulu dengan monyet yang ada di lokasi perkemahan. Pagi ini penuh dengan keceriaan. Lalu barulah kami pulang kembali ke SMP Negeri 29.


Cerpen Karangan: Nathalia R

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga Di Kasih Tanda Cinta PadaMu

Humor 3 Drakula

Cerpen Keindahan Berbalut Jilbab Warna Ungu

Cerpen AHS

PENGERTIAN NUBUATAN NABI YESAYA

ORSAKTI KUMBANG TAK BERSAYAP YANG MENGGAPAI BUNGA

Meme & Momo

Cerpen Kasih Ibu Tak Batas Waktu

Cerpen Gak Bisa Tidur

Cerpen Cintaku Tak Berlisan

Thank's You