Featured post

Forever Friends

1 Corinthians 15:53-55 (NLT) For our dying bodies must be transformed into bodies that will never die; our mortal bodies must be transformed into immortal bodies. Then, when our dying bodies have been transformed into bodies that will never die,this Scripture will be fulfilled: “Death is swallowed up in victory.O death, where is your victory? O death, where is your sting?”I spent last evening in a youth service with grieving young people. The young girl killed in a horrible tragedy had touched many and her kindness rippled through the crowd as many shared of her character even at the tender age of 16. Their sobs racked my heart. Why God? The grief counselors from the local high school were there – all believers – they talked with some, embraced others tightly and prayed with those who requested it. I was moved by the Presence of God in the midst of such sorrow and heartache. Hugging her mother, I prayed peace and strength walking through this week into her new normal. I could see the …

Cerpen Cry For Love (Part 3)


Nugroho berjalan lemas saat mendekati jenazah putrinya. Raut wajahnya memancarkan kesedihan yang amat besar. Tangannya gemetar saat menyentuh kain penutup jenazah. Dirinya tak ingin membuka kain itu, tapi sisi lain hatinya mengatakan ia harus membukanya dan memastikan apakah itu benar putrinya atau orang lain.
Tangisnya pecah saat melihat wajah pucat dan tubuh yang membujur kaku di hadapannya. Wajah yang beberapa saat lalu masih terlihat tersenyum. Dan kini, wajah itu terbujur kaku membawa kenangan pahit bersamanya.
“LYAAA…!!!” jerit Nugroho meraung-raung memanggil nama putri semata wayangnya. “Kenapa kamu ninggalin Papa?!” tubuh Nugroho melorot ke lantai dan dipegangi oleh dokter Aditya.
“Sudahlah Pak. Tabahkanlah hati Bapak. Mungkin ini yang terbaik untuk Lya. Karena, kalau pun ia selamat, kemungkinan ia akan mengalami cacat seumur hidupnya.” hibur dokter Aditya.
“Tapi kenapa harus dengan cara seperti ini?!” Nugroho menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.
Dokter Aditya mengelus-elus punggung Nugroho, berharap bapak itu merasa lebih lapang dada dengan kepergian putrinya yang tercinta.

Nugroho dan Dewi, istrinya tengah menunggui Dira, saat dokter Aditya datang. Begitu melihat dokter muda itu, Nugroho dan Dewi langsung berdiri dari duduknya.
“Tidak usah. Kalian duduk saja.”
“Apa ada perkembangan dari Dira, dok?” tukas Dewi dengan wajah yang penuh harapan.
“Saya harus memberitahukan kalian.” Dokter Aditya memotong kalimatnya dan memandangi suami istri itu secara bergantian. “Sebelum Lya kecelakaan, ia sempat bicara dengan saya. Ia menanyakan apakah jantungnya cocok dengan Dira? Lalu saya menjelaskan bahwa hanya orang yang sudah meninggal saja yang bisa mendonorkan jantungnya. Sementara orang yang masih hidup tidak dibolehkan oleh medis manapun. Karena itu sama saja merampas hak asasi untuk hidup. Tapi Lya memaksa pada saya untuk melakukan pemeriksaan. Dan hasilnya 90% cocok dengan Dira.”
“Lalu apa yang dilakukan oleh Lya, dok?” sahut Dewi dengan antusias.
“Ia berniat mendonorkan jantungnya. Tapi sebelum itu ia meminta satu permintaan…”
“Permintaan apa, dok?” potong Nugroho dengan wajah pucat.
“Ia meminta waktu pada saya. Sebenarnya hari ini ia akan melakukan donor jantung itu. Tapi… meskipun ia memaksanya untuk mendonorkan jantungnya, saya tidak akan pernah melakukannya. Walaupun ia meminta kepada dokter manapun, pasti akan ditolak. Karena telah menyalahi prosedur yang telah ada. Tapi sekarang itu menjadi hal yang lain. Sekarang Lya sudah meninggal. Dan ia bisa mendonorkan jantungnya untuk Dira.”
Nugroho terlihat lesu mendengar penuturan dokter Aditya. Ia langsung duduk lemas tak bertenaga di kursi di sampingnya. Lain halnya dengan Dewi. Ia seperti mendapatkan kekuatan baru. Anaknya akan sembuh, dengan donor jantung dari Lya, anak tirinya.
“Kapan operasi itu dilakukan dok?” tukas Dewi dengan semangatnya yang disambut wajah masam Nugroho.
“Hari ini operasi itu akan dilakukan. Tepatnya satu jam lagi.”

Dua hari setelah operasi donor jantung itu, Dira sadar dari komanya. Ia terlihat lebih segar dari sebelumnya. Dan sudah dibilang sehat.
Dewi mengupas buah untuk Dira dan menyuapinya. Sedangkan Nugroho hanya duduk diam. Ia lain dari dulu. Sekarang ia banyak diam dan melamun dari sebelumnya.
“Ma, mana Lya? Kok dia nggak jenguk aku? Dia kejam sekali. Apa dia nggak sayang sama kakaknya yang sedang sakit ini?” tukas Dira datar. Namun, bagi Nugroho kata-kata Dira bagai sengatan petir yang meremukkan jantungnya dalam sekali sambar.
Nugroho bangkit dari duduknya dengan kasar. Terlihat amarah yang ditahan di wajahnya. “Diam kamu! Jangan pernah mengatai adikmu kejam. Dia sangat baik! Bahkan sangat baik! Dia bukannya tidak datang! Justru ia ada di sini. Dan selalu bersamamu setiap waktu. Karena…”
“PA! CUKUP!” potong Dewi, istrinya. “Papa tidak boleh ngomong seperti itu pada Dira. Ia baru saja sembuh Pa.”
“Tapi sudah saatnya ia tahu. Lagi pula ia tak akan mati bila mendengar kabar ini.”
“Kenapa kalian jadi bertengkar?! Sebenarnya apa yang sudah terjadi?” wajah Dira terlihat heran.
“Sebenarnya adikmu sudah meninggal…”
Seketika jantung Dira berdegup kencang. Nafasnya memburu tak beraturan. Dan ia merasa aneh, kenapa ia tak langsung pingsan saat mendengar berita buruk itu. “Kenapa Lya bisa meninggal?” sekuat tenaga ia keluarkan kalimat itu, dan terdengar seperti gumaman bahkan di telinganya sendiri.
“Ia kecelakaan dan langsung meninggal… Dan dia juga yang sudah mendonorkan jantungnya untukmu… Jadi Papa harap, jangan pernah kau marah pada Lya. Karena sekarang, kau bisa hidup berkat jantung yang telah Lya donorkan padamu.” selepas menyelesaikan kalimatnya yang terakhir, Nugroho keluar dari kamar rawat.
Dewi ikut terdiam setelah kepergian suaminya. Ia tak ingin menambah beban pada putra tunggalnya. Ia pun memutuskan untuk membiarkan putranya sendiri.
“Jadi sekarang kau pergi, Lya… Padahal dulu, aku berjuang hidup untuk bisa bersamamu. Menjagamu dan melindungimu… tapi kau malah meninggalkan aku dengan perasaan bersalah ini… Kau biarkan cinta ini ikut mati bersamamu… Kau biarkan hatiku sendirian….”
Gerimis turun mengguyur pagi yang cerah. Namun pagi ini bukanlah pagi yang cerah bagi Dira, melainkan pagi yang kelam untuk seorang Dira.

Dira menatap nisan Lya dengan miris. Air matanya mengalir pelan menyusuri kedua pipinya. Tangannya terulur menyentuh nisan Lya dan membelainya lembut.
“Kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa kau rela memberikan hidupmu padaku? Aku rela jika aku yang melakukannya untukmu. Karena aku tak ingin melihatmu terluka. Aku tahu kau sangat terluka di rumah. Tapi kau selalu menutupinya dengan sikap ceriamu yang membuat orang mengira kau baik-baik saja. Lya, aku tahu kau datang saat itu. Tapi aku selalu tak yakin pada hatiku, karena kukira itu hanya mimpi. Tapi apa dayaku.”
Dira menghapus air matanya dan melangkah pergi dari nisan Lya. Membawa serta pergi bersamanya kenangan–kenangan manis dengan adik manisnya. Dan juga cinta yang tak pernah diungkapkannya itu.

Dira baru saja pulang dari makam Lya saat papanya memanggilnya untuk pergi ke ruang tengah.
“Ini.” Nugroho menyerahkan sebuah surat berwarna biru kepada Dira.
Dengan alis terangkat, Dira langsung bertanya, “Apa ini Pa?”
“Buka saja. Itu dari Lya. Tadi Papa menemukannya di kamar dengan buku agendanya.” Nugroho kembali menyerahkan buku biru, agenda milik Lya.
Setelah Dira menerima surat dan agenda Lya dari papanya, ia pergi menuju kamarnya. Di sana ia mulai membuka surat berwarna biru itu.
‘Dear Dira,
Mungkin saat kau membaca surat ini, aku sudah tidak ada lagi. Dan kuharap kau jangan menangis dan bersedih. Karena aku tak suka itu.’
Kalimat pertama yang merupakan ciri khas Lya langsung membuat Dira tersenyum geli.
‘Baguslah, sekarang kau sudah tersenyum.
Maafkan aku, kak. Karena tak bisa memenuhi janjiku untuk berada di sampingmu saat kau bangun. Tapi aku sadar, kalau aku tidak melakukan ini, mungkin kau tak akan pernah bangun. Dan aku yakin, saat ini kau sudah tahu kalau aku mendonorkan jantungku untukmu.
Aku melakukannya karena aku ingin melihat orang yang aku sayangi bisa bahagia. Dan bisa membuat orang lain bahagia, merupakan suatu kebahagiaan yang sebenarnya bagiku. Dan aku senang telah membuatmu kembali merasakan hidupmu lagi.
Aku memang pengecut, untuk bisa mengatakan apa yang bisa kurasakan. Dan aku hanya bisa mengatakan lewat surat ini, bahkan setelah kepergianku. Kau boleh mengejekku. Karena aku tak seberani yang kau kira. Aku bahkan lemah untuk soal ini. Dan aku selalu menangis bila memikirkan ini.
Aku menyukai seseorang. Aku sangat menyukainya dari dulu. Dan aku terlalu kerdil untuk mengatakan padanya bahwa aku menyukainya. Ia sangat baik padaku. Ia selalu memberi semangat padaku. Dan ia sayang padaku.
Ia sayang padaku… tapi aku tak tahu, apakah sayangnya sama seperti rasa sayangku padanya? Apakah ia selalu memikirkan aku jika aku memikirkannya? Apakah ia selalu ingin berbuat sebaik mungkin, seperti apa yang kulakukan padanya? Aku tak tahu…
Ha… ha… ha… aku ingin menangis. Tapi aku tak boleh menangis di depanmu. Karena kau tak suka melihatku menangis. Apalagi di depanmu.
Baiklah! Aku tidak akan menangis lagi! Untukmu, aku akan melakukannya agar kau bahagia dan tersenyum.
Untuk itu, kau jangan menangis saat kau membaca suratku ini.
Selamat tinggal…
Ashilya Permata Aurora’
Dira menyeka air matanya dan meletakkan surat itu di atas tempat tidur dan mengambil agenda biru milik Lya.
16 Agustus 2003
Untuk pertama kali aku melihatnya, aku tak tahu apa aku sudah jatuh cinta padanya atau tidak. Dia adalah teman sekelasku.
29 Maret 2004
Ya Tuhan, kenapa aku tak bisa melepas bayangannya dari pikiranku. Kenapa aku tak bisa membuang rasa cinta di hatiku yang bercokol begitu kuatnya? Tak bisakah ada satu jawaban pasti yang membuatku lebih tenang?
09 September 2004
Astaga! Aku tak menyangka ini. Aku kembali melihatnya lagi. Bahkan di rumahku sendiri. Tapi… aku sedih. Karena Papa memperkenalkannya padaku sebagai kakak tiriku.
06 Mei 2005
Aku sadar aku tak bisa mencintainya dengan mudahnya. Tapi rasa itu datang dengan sendirinya tanpa bisa kucegah. Dan menganakbiakan dirinya menjadi besar yang semakin membuatku sulit untuk membuangnya. Seandainya rasa ini tidak salah, mungkin akan kubiarakan terus berada di hatiku.
03 Januari 2011
Kenapa rasa sakit itu datang saat aku melihatnya bemesraan dengan cewek lain? Kenapa aku tak bisa menahan diriku untuk tidak membenci cewek itu? Kenapa aku tak bisa menghentikan tangisku saat melihatnya bermesraan dengan cewek lain?
17 Juni 2011
Ya Tuhan, hari ini ia kecelakaan dan koma. Aku tak bisa menghentikan air mataku saat aku melihatnya tertidur tak berdaya. Aku tak suka ia seperti itu. Aku ingin ia kembali seperti dulu. Tapi kata dokter, ia harus operasi jantung dengan donor jantung. Tidak seperti biasanya yang hanya pencangkokan jantung. Kali ini kondisinya sangat gawat dan buruk. Aku ingin ia sembuh.
20 Juni 2011
Andai aku bisa melukis pelangi, maka biarkan aku melukis di atas kanvas hatimu. Andai aku bisa mengukir senyum, maka biarkan aku mengukirnya di atas dinding hatimu. Andai aku bisa memberi kebahagian, maka biarkan aku memberikannya padamu dengan memberikan kehidupanku untukmu. Percayalah, karena hanya ada kau satu-satunya di hatiku. Dan tak pernah terisi yang lain.
Dira, biarkan aku menjadi bagian hidupmu. Biarkan aku menjadi bagian dirimu. Biarkan aku menjadi bagian setiap detak jantungmu. Biarkan aku menjadi bagian nafasmu. Biarkan aku menjadi bagian segala yang kau lakukan dan kau rasakan.
Karena aku sangat mencintaimu.
Dan kaulah jantung hatiku.
Dira menyembunyikan wajahnya ke dalam agenda biru Lya. Tangisnya mulai terdengar. Ada rasa sakit yang menyeruak dari dalam hatinya.
“Lya, kenapa kau tak pernah mengatakannya padaku?! Mengapa kau tak bilang padaku kalau kau cinta aku?! Apa kau tahu, aku juga sangat mencintaimu?! Dan kau adalah belahan jiwaku dan jantung hatiku.” hening sesaat
“KYAAAAAAA…!” Dira berteriak keras, memaksa mama dan papanya datang menghampirinya.
Nugroho dan Dewi terlihat bingung mendapati putranya menangis sambil menjerit-jerit histeris. Mereka tak tahu bahwa dua hati telah terluka. Dua hati yang saling mencintai terpaksa memendamnya demi kebahagian mereka. Dan saat dua hati itu tahu, semuanya telah terlambat. Terlambat untuk saling mencintai bersama. Dan pada akhirnya hanya perumpamaan lama yang mencerminkan perasaan mereka.
‘Mencintai tak harus memiliki. Mencintai berarti membiarkan orang yang dicintainya bahagia walau itu perih. Mencintai berarti terluka’
Selesai

Cerpen Karangan: Mia


Comments

Popular posts from this blog

Cerita Malam Pertama

Menjadi Anak Penerobos Di Dalam Tuhan

Affordable & Effective Marketing Tips to Promote Your Business Online

Cerpen Air Mata Seorang Kawan

Forever Friends

Tips to choose best dedicated server provider in Ashburn

Puisi Ruang Dan Waktu

Resolve email technical issues by microsoft professional support

Cerpen Hikmah Sebuah Kebaikan