The Top 14 Enterprise-Scale Digital Marketing Solutions

Marketing for large organizations is different than marketing for small businesses or startups. It requires a different and specialized set of tools. We’ve put together a list of the best marketing tools for large organizations, divided by category.



Attribution 1. Altitude by ImpactAltitude promises deep insights into the behavior of your potential customers. It contains a varied array of customization options for reporting and modeling attributions.

2. AppsflyerIn markets and industries where the majority of the action on mobile, Appsflyer has the attribution solution. 

Social Media 3. OktopostBuilt by marketers for marketers, Oktopost has taken on the challenge of providing accurate and actionable visibility into social media attribution. It provides tools and resources for finding relevant social media conversations, facilitating employee advocacy efforts, and publishing.

Oktopost is designed for enterprises because it provides more than simple vanity metrics. It takes the “dark” ou…

Cerpen Kembalinya Keistiqomahanku



     Hujan yang begitu deras diselimuti oleh angin yang kencang. Malam itu lahirlah seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Bayi itu diberi nama Azizah yang artinya wanita terhormat atau mulia. Azizah adalah namaku.
Aku berasal dari keluarga yang berkecukupan. Aku adalah anak satu-satunya. Aku mempunyai kedua orangtua yang masih utuh. Mereka merawatku dengan baik. Malah sangat baik.

     Aku memiliki sahabat bernama Annisa. Dia sangat perhatian kepadaku. Dia selalu mengajakku dalam kebaikan. Sifat annisa yang begitu baik membuatnya memiliki prinsip kesetiaan. Dia selalu menemaniku disaat aku sedih. Annisa pernah berkata "jika ada orang yang menyukaiku dan ingin menjadi pacarku. Aku ingin memberinya satu persyaratan. Persyaratan itu adalah menungguku sampai aku lulus. Dan langsung menikahiku". Itu adalah janjinya.

     Hari ini adalah usiaku yang ke tujuh belas. Dan hari ini juga aku memakai jilbab sudah dua tahun. Aku sudah memakai jilbab dari kelas satu semester pertama. Jadi aku sudah terbiasa memakai jilbab meskipun teman-temanku tidak ada yang memakai jilbab kecuali sahabatku yang selalu menemaniku. Aku bersekolah bersama sahabatku di SMA Wijaya Kusuma.
Aku memulai hari baru setelah aku menyelesaikan semester pertama di kelas dua. Di semester kedua aku harus tersenyum meskipun berbagai ujian datang tapi aku akan menghadapinya.
"hayo..." sahabatku mengagetkanku dari belakang badanku.
"eh... nisa. Haduh jantungku hampir copot"
"bagaimana liburannya? Kamu kemana?"
"aku ke rumah nenek. Kamu?" kutanya balik.
"aku dirumah saja menemani ibuku berjualan" dengan jujur annisa menjawab.
"wah kasian... engga liburan" candaku.
"engga apa-apa. Liburan di rumah bantu orangtua kan lebih berpahala. Daripada liburan borosin duit". Sindir annisa kepadaku.
"tapi aku engga borosin duit kok. Aku kan liburannya ke rumah nenek untuk silaturahmi". Kuberi annisa penjelasan.
"iya... aku tahu. Aku Cuma bercanda ko`"

     Tiba-tiba seorang cowok mendekati kami. Wajahnya sangat rupawan. Kulitnya putih, tubuhnya tinggi, hindungnya pun mancung.
"hai.." dia menyapa kami berdua.
Aku terpana melihat wajahnya, tubuhnya, dan kesempurnaan yang ia miliki. Tapi disitu aku mendapatkan dosa. Aku sudah berzinah. Zinah mata dan zinah perasaan. Kupalingkan wajahku ke sahabatku. Agar aku tidak memandangnya. Aku melihat bibir annisa akan bergerak. Sepertinya dia akan mengucapkan sesuatu.
"maaf anda muslim?" itulah yang diucapkan annisa kepada cowok itu.
Aku heran mengapa annisa berkata seperti itu. Cowok itu menyapa kita tapi mengapa annisa menjawab seperti itu.
Lalu cowok itu menjawab
"aku muslim sama seperti kalian. aku ingin berkenalan dengan kalian. terutama sama yang ini" (sambil menunjuk kearah ku)
Aku tersipu malu mendengar dia ingin berkenalan denganku. Tapi tiba-tiba annisa berkata yang membuat suasana menjadi panas.
"seorang muslim harusnya tahu bagaimana cara mengucapkan salam. Tadi kamu mengucapkan salam dengan kata 'hai'. Apa itu salam yang benar untuk seorang muslim?". Kata-kata annisa mulai memanas
Aku sebal mendengar annisa yang sangat sinis kepada cowok itu.
"annisa kamu apa - apaan sih. Mungkin dia lupa". Kubela cowok itu.
"masa mengucapkan salam saja lupa". Jawab annisa dengan cetus.
"emm... maafkan aku. Aku lupa mengucapkan salam karena aku melihat dua bidadari yang amat cantik" cowok itu meminta maaf kepada kami dengan menyodorkan tanganya.
"maaf bukan mahram..." aku memberitahukannya.
"itulah zinah. Sampai-sampai salam pun terlupakan". Ucapan Annisa membuat keadaan semakin panas.
"sudahlah! ayo kita masuk kelas, Azizah". annisa meninggalkanku sembari mengajakku ke kelas.
Cowok itu berkata "oh jadi namamu Azizah?"
"iya.." dengan wajah tertunduk aku mengatakannya.
"namaku Shedy. Aku anak baru dan sekarang aku kelas tiga"
"berarti beda setahun denganku. Aku kelas dua dan aku adik kelasmu"
Singkat perkenalanku dengannya yang membuatku selalu mengingatnya. Aku bingung dengan perasaanku ini. Sepertinya aku mulai jatuh cinta kepadanya.

     Angin berhembus pelan dan suasana hening membuatku ingin tidur. Aku duduk dikursi dekat lapangan basket menunggu sahabatku. Aku menunduk karena teriknya matahari. Kulihat ada bayangan sepatu.
"kok ada sepatu?" heranku
"assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu" terdengar suara salam
Dan aku mengangkat kepalaku keatas. Ternyata itu adalah Shedy. Shedy datang mendekatiku dan duduk disampingku.
"wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatu" aku mejawab salamnya.
"kamu sendirian?. Mana temanmu yang selalu menasehatiku?" tanyanya.
"iya aku sendirian... huss.. kamu jangan ngomong gitu. Engga baik." Ku nasehati dia.
"lagian dia ngomong sama yang mau kenalan jutek banget. Itu kan ga boleh" Shedy mengomentari sikap Annisa tadi pagi.
"ekhm... jadi makin yakin nih"
Terdengar suara Annisa dari belakang tempat duduk. Kami menoleh ternyata benar Annisa.
"maaf nama kamu siapa?" Annisa bertanya kepada Shedy.
"mm...". Shedy begitu gugup.
"Shedy nis" ku jawab pertanyaan Annisa.
"gini ya Shedy. Mungkin tadi pagi kamu merasa aku sangat jutek. Tapi itu harus kamu maklumi. Aku memang seperti itu. Kamu salah dan aku harus menasehatimu. Jika kamu benar aku tidak akan menasehatimu". Annisa memberi penjelasan.
"sudahlah Shedy, Annisa. Mungkin kalian salah faham. Sudah permasalahan ini jangan dibesar-besarkan". Kunasehati mereka berdua.
"Azizah kita pulang yuk" Annisa menarikku.
Kita berdua pulang memakai mobilku yang dari tadi sudah siap menjemputku.
"tidak biasanya Annisa diam di dalam mobil" gumamku dalam hati.
Tiba-tiba dia berkata "aku enggak mau kalau kamu dekat denganya".
"dekat sama siapa?" aku heran Annisa langsung to the point berbicara. Biasanya tidak.
"sama Shedy" singkat jawabnya.
"kenapa? Harusnya kita senang dapat teman baru"
"sudah kutebak kamu pasti akan membelanya" jawaban Annisa sangat tidak enak dihati.
"lalu apa maksudmu tadi di sekolah?. Kamu bilang 'jadi makin yakin nih'. Maksudnya itu apa?"
"aku yakin cowok itu suka sama kamu. Menurutku cowok itu enggak baik. Pertama kali kita ketemu, aku sudah melihat jelas sikapnya. Kamu harus istiqomah Azizah".
"aku semakin engga jelas dengan kata-katamu. Aku pasti istiqomah Annisa. Jangan kamu anggap perkataanku yang tidak ingin berpacaran itu bohong". aku meyakinkan annisa.
"aku pegang janjimu Zah"
"iya... Nis"

     Aku termenung memikirkan kata-kata Annisa. Mengapa Annisa mengatakan seperti itu. Aku tahu Nis, kamu sangat perhatian kepadaku tapi perhatianmu membuat aku serba salah. Mungkin di sisi lain hatiku sungguh sangat nyaman saat dekat dengannya.
Nyamanya duduk di kursi taman sekolah. Membuatku berlama-lama duduk di kursi itu. Aku memandang pohon-pohon dan mendengar burung-burung berkicau.
"Azizah sedang apa kamu?" seseorang memanggilku.
"kamu... mengagetkanku saja" aku terkejut melihat Shedy.
"kamu sedang apa?" tanyanya lagi.
"aku sedang mendengar kicauan burung"
"kamu bisa dengar? Kukira kamu tidak bisa mendengar" candanya.
"ih kamu. Kamu kira aku tuli apa"
Aku terdiam lagi memikirkan annisa. Jika dia melihatku mungkin dia akan mensehatiku lagi.
"mengapa kamu diam Azizah?" tanya Shedy.
"aku memikirkan Annisa. Kemarin annisa menasehatiku untuk tidak dekat denganmu" ku ceritakan kepada shedy.
"annisa kan sahabatmu. Percaya saja sama Annisa" Shedy membela Annisa.
"iya, tapi aku juga percaya sama kamu"
"Azizah..." panggil Shedy.
Tiba-tiba suasana menjadi hening dan hanya suara kita berdua yang terdengar.
"iya Shed?" hatiku mulai bergetar.
"maaf sebelumnya. Suasananya kurang romantis. Azizah sebenarnya dari awal aku suka sama kamu. Kamu... mau engga jadi.. pacarku?"
Dag dig dug suara hatiku berdetak kencang. Mengapa shedy nembak aku sih. Aku kan harus istiqomah. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Kutinggalkan shedy sendirian di taman.
Aku tidak mengerti mengapa secepat ini shedy mengucapkan hal itu. Aku harus bagaimana. Aku juga suka padanya tetapi annisa melarangku untuk dekat dengannya. lalu aku harus bagaimana?.

     Kutemui annisa yang sedang di kantin. Annisa biasanya berjualan di kantin saat istirahat. Aku melihatnya tapi aku belum siap untuk memberitahukan tentang Shedy mengutarakan isi hatinya kepadaku.
Tiba-tiba annisa memanggilku. Mungkin dia melihat keberadaanku yang sedang melihatnya dari jauh.
"Azizah..." panggil Annisa.
"ya Nis.." ku hampiri dia.
"tadi pagi sebelum masuk sekolah aku mencarimu. Aku ingin memberitahumu tentang jilbab yang kulihat di toko dekat sekolah kita. Ternyata bagus-bagus jilbabnya Zah"
"oh yah...?" aku pun ragu-ragu menjawab kata-katanya.
"kamu kenapa sih Zah?. Dari tadi wajahmu tak ada senyuman" ledek Annisa.
"Nis aku pengen ngobrol sama kamu. Penting!"
"penting yah... yaudah yuk kita ke taman" Annisa menarik tanganku.
Kuatur kata-kata agar annisa tidak marah kepadaku dan kuberanikan diriku. Azizah kamu harus berani, marah atau tidak marahnya annisa itu belakangan. Yang terpenting aku tidak menutup-nutupi darinya.
"Nis.. jadi gini. Beberapa menit yang lalu. Aku termenung Nis disini, dikursi ini. Aku memikirkan kata-katamu tapi tiba-tiba seseorang menghampiriku dan mengungkapkan isi hatinya kepadaku. Karena aku bingung harus menjawab apa. Aku tinggalkan dia. Dan cowok itu bernama.... mmm... She.. dy nis". Akhirnya selesai juga penjelasanku.
Kulihat annisa terkejut tapi setelah itu wajahnya menjadi santai. Lalu itu pertanda apa ya?
"Nis kamu marah sama aku?". Itulah pertanyaanku yang kusiapkan daritadi.
"tidak.. aku tidak marah kepadamu Zah. Yang seharusnya marah itu hatimu sendiri". Annisa memberi kata-kata yang tidak kumengerti.
"maksudmu nis?"
"kamu yang janji istiqomah Zah, dan hatimulah yang berjanji. Janji tidak akan berpacaran. Itulah janjimu" annisa memperjelas.
"iya Nis.. tapi aku suka sama dia Nis.." aku tidak kuat dan aku menangis.
"yasudah... ikuti hatimu. Mana yang paling benar". Annisa menyerahkan keputusan kepadaku.

     Aku bersandar di sebatang pohon. Aku bingung harus melakukan apa. Tapi Annisa bilang aku harus ikuti hatiku sendiri. Ok... aku akan ikuti hatiku sendiri.
Pulang sekolah aku menemui shedy. Ternyata shedy berada di kelasnya. Kuhampiri dia.
"Shed..." kupanggil dia.
"yah... eh Azizah. Ada apa Zah?"
"aku mau ngomong sama kamu"
"mau ngomong apa?"
Langsung saja aku utarakan niatku kepada Shedy.
"Shedy aku menerima kamu sebagai pacarku"
"hah... yang bener Zah?" terlihat wajah senangnya.
"iya... Annisa bilang, aku harus ikuti hatiku sendiri. Karena aku menyukaimu, jadi aku menerimamu sebagai pacarku"
Sejak itulah aku mulai berpacaran dengan Shedy. Shedy sangat menyayangiku dan perhatian kepadaku. Aku ingin Shedy menjadi pacar dan suamiku kelak. Karena Shedy begitu baik kepadaku.

     Sudah dua minggu aku berpacaran dengan Shedy. Tapi seminggu yang lalu aku merasa aneh padanya. Dia selalu memegang tanganku jika kita sedang berduaan. Aku tahu itu tidak boleh, tapi entah apa yang merasuk dalam diriku sehingga aku diam saja saat dipegang tanganku olehnya. Dan akhir-akhir ini Shedy sering marah kepadaku jika aku terlambat menemuinya.
Setelah istirahat aku menyempatkan diri untuk menemui Shedy. Aku mencari dia di kelasnya. Ternyata shedy sedang melamun di dalam kelasnya. Tak tahu apa yang dilamunkannya.
"Shedy..." kupanggil dia.
"Zah.... kamu engga istirahat?"
"udah tadi... lalu kamu? Kenapa diam saja di kelas?" kutanya balik.
"aku sedang menunggumu. Aku tahu pasti kamu akan mencariku"
"iya... kamu tadi sedang melamunkan apa?"
"tadi... aku melamunkan seorang bidadari milikku terlihat anggun saat menyibakkan rambutnya di depanku"
Aku terdiam sejenak. Aku bingung menyaring kata-katanya. Maksudnya apa ya?.
"aku tidak mengerti Shed..."
"aku ingin melihat kamu tidak memakai jilbab Zah... pasti kamu akan terlihat cantik". Shedy mengajakku kedalam keburukan.
"tidak...! aku tidak mau. Aku sudah berjanji tidak akan membukanya kepada lelaki siapapun kecuali suamiku".
Aku sangat marah kepada shedy. Dia sangat menyakiti hatiku. Mengapa ia bebicara seperti itu padaku? Apa dia tidak sayang kepadaku lagi?.
Begitu sakit hati ini mendengar ucapannya. Aku pun tidak kuat menahan tangis. Lalu aku pergi meninggalkan Shedy.

     Seperti biasa tempat yang nyaman adalah kursi taman sekolah. Aku pergi ke taman sekolah. Aku duduk di kursi itu. Sebelum aku duduk, aku tidak melihat siapapun. Tapi ternyata ada seseorang di sampingku.
"kenapa kamu nagis Zah?" ia bertanya padaku.
Aku menoleh ke arahnya "Annisa..." .Ternyata itu sahabatku.
"kamu udah dari tadi Nis disini?"
"iya... aku kangen sama kamu Zah. Makanya aku kesini. Karena tempat ini adalah tempat favoritemu di sekolah".
"Annisa... maafkan aku. Aku telah melupakanmu" aku meminta maaf padanya. Aku sungguh bersalah karena sudah melupakannya.
"tidak apa-apa. Tapi sejak kamu berpacaran dengan Shedy, kita hilang komunikasi Zah. Entah apa sebabnya".
Aku terdiam mendengar kata-katanya. Aku memang salah, aku lebih memilih orang yang baru ku kenal daripada sahabatku.
"Nis... aku punya masalah sama Shedy nis".
"kukira selama kamu pacaran dengannya. kamu tidak akan mendapat masalah" sindir Annisa.
"apaan sih kamu Nis. jangan menyindirku seperti itu" tegorku kepada Annisa.
"apa masalahmu Zah? Apa yang membuatmu menangis? Coba ceritakan padaku".
Ku utarakan semua yang telah terjadi selama aku berpacaran dengan Shedy kepada Annisa.
"seminggu yang lalu, dia sudah menodaiku Nis.. dia memegang tanganku. Tapi aku diam saja Nis. Aku seperti terbius olehnya. Dan tadi, aku menemuinya di kelasnya. Ternyata dia sedang melamun nis... aku tanya 'dia sedang melamunkan apa' dan dia menjawab 'dia sedang melamunkan seorang bidadari miliknya menyibakkan rambutnya".
Aku berhenti bercerita kepada Annisa. Aku tidak kuat meneruskannya tapi Annisa menyuruhku untuk meneruskannya.
"azizah... ayo teruskan. Aku tidak mengerti, mengapa Shedy mengatakan hal itu?"
"dia ingin aku melepaskan jilbabku Nis..."
"apa?" Annisa terkejut setelah mendengar perkataanku.
Aku menangis dalam pelukan annisa. Aku tahu annisa pasti kecewa kepadaku. Annisa pun menasehatiku agar aku memutuskan Shedy yang sudah tidak waras itu.

     Aku pun mendatangi Shedy di kelasnya. Aku sudah benar-benar yakin ingin memustuskannya. Aku lihat shedy sedang membaca buku. Tak tahu apa yang sedang ia baca. Aku langsung berbicara ke inti masalah.
"Shed.." kupanggil dia.
Tapi tiba-tiba seseorang memanggil Shedy dengan lembut.
"sayang... Shedy.."
Aku menoleh ke arah suara itu. Ternyata seorang wanita. Siapa wanita itu?. Aku bertanya-tanya dalam hati.
Kutanya wanita itu. "kamu siapanya Shedy? Ko' manggil 'sayang' ke Shedy?"
"Shedy pacar aku.." dengan jujur wanita itu menjawabnya.
Aku terkejut mendengar kata-kata wanita itu. Aku sangat kesal kepada shedy.
Tidak ada kata-kata lain selain kata "Shed.... kita putus...". aku membalikan badan untuk meninggalkannya.
Shedy pun menarik tanganku. Dan dia berkata "jangan Azizah... maafkan aku"
"kamu sudah menodaiku, memegang tanganku, menyuruhku melepas jilbab"
Shedy pun melepas tarikanya dan terdiam. Sepertinya Shedy sadar atas kesalahannya.
"Shed... aku memaafkanmu. Tapi aku tidak bisa meneruskan hubungan ini. Aku sadar, aku sudah melupakan sahabatku demi seorang cowok".

     Mulai hari ini, jam ini, menit ini, dan detik ini. Aku resmi memulai hariku dengan janji tidak akan berpacaran. Dan terimakasih kepada sahabatku yang masih bisa memaafkan sahabatmu ini.
'Sahabatku... saat aku sedih kamu ada disamping menemaniku tapi saat aku gembira aku meninggalkanmu. Wahai sahabatku maafkan aku'

Penulis: Nurannisa Widiawati

Comments

loading...

Popular posts from this blog

To Love without Certainty

Best Time to Trek in Nepal

How Important Personal Health Care by Electronics Health Care Products at Home or Out Side?

Global Chlorotoluene Market Outlook 2017-2022, Market Size, Trends and Research Report

Considerations For Your Go-To Product Boxes Manufacturer

4 Essentials of Great Vape Cartridge Boxes

How a Test Automation Tool is the Solution to Challenges in Testing

Ideas To Advertise Your Small Business

Take a look at these PR Firms in Hyderabad- The city of Biryani and Pearl!

I Highly Recommend Cold Sore Home Remedies