Featured post

Forever Friends

1 Corinthians 15:53-55 (NLT) For our dying bodies must be transformed into bodies that will never die; our mortal bodies must be transformed into immortal bodies. Then, when our dying bodies have been transformed into bodies that will never die,this Scripture will be fulfilled: “Death is swallowed up in victory.O death, where is your victory? O death, where is your sting?”I spent last evening in a youth service with grieving young people. The young girl killed in a horrible tragedy had touched many and her kindness rippled through the crowd as many shared of her character even at the tender age of 16. Their sobs racked my heart. Why God? The grief counselors from the local high school were there – all believers – they talked with some, embraced others tightly and prayed with those who requested it. I was moved by the Presence of God in the midst of such sorrow and heartache. Hugging her mother, I prayed peace and strength walking through this week into her new normal. I could see the …

Cerpen Manisnya Cinta Bersama 3 PPL


Centil, sok akrab dan mudah jatuh cinta merupakan karakter yang dimiliki Rara. Di sekolah, banyak sekali cowok yang dekat dengannya.
Di tahun pelajaran baru, seperti biasanya pasti ada mahasiswa yang biasa disebut dengan PPL datang dan mengajar sementara di sekolah. Rara terpikat oleh beberapa PPL itu, sebut saja Arman, Manan dan Dika. Ya memang karena dia mudah jatuh cinta, jadi tak hanya satu cowok yang dia suka tapi tiga sekaligus. Rara mencoba untuk mendekati satu per satu PPL itu, dengan trik ingin menanyakan materi pelajaran yang baru saja diberikan. Sang PPL pun dengan senang hati pasti selalu menjawabnya dan mengajarkannya kembali kepada Rara.
Pagi itu pelajaran Bahasa Indonesia, yang akan di ampu oleh Manan. Tiap kali Rara memandang wajah Manan, hatinya selalu berdebar-debar. Jam pelajaran pertama itu membuatnya tak berkonsentrasi, wajarnya memerah dan tersenyum-senyum sendiri.
"Rara! Coba kamu jawab soal nomer 1", seru Manan kepada Rara."I... i.. iyah mas, jawabannya C", jawab Rara gugup."Ya! pinter kamu", sahut Manan.
Rara pun lega bisa menjawab pertanyaan itu, padahal dia sempat tak memperhatikan pelajaran tersebut karena hatinya yang gelisah.
Kring!! Bunyi bel pergantian jam. Rara merasa sedikit sedih karena tak lagi bisa menatap wajah tampan Manan lagi. Pelajaran berikutnya adalah PKN. Rara kaget, Arman masuk ke kelasnya. Rupanya dialah guru yang akan mengampu mata pelajaran PKN. Lepas dari pesona Manan, kini dia kembali menggila oleh Arman. Lagi-lagi dia tak konsentrasi, tetapi malah melamun dan terus memperhatikan gerak gerik PPL yang ia suka itu.
"Ra, kamu gila ya?", kata salah seorang teman sekelasnya."Apa sih!! aku kan lagi seneng aja, emang gak boleh apa!", jawabnya."Hust.. hust.. hust... ada apa sih? Tenang dong, kita kan lagi belajar" sambung Arman.
Pelajaran kembali berlangsung. Rara sedikit kesal oleh temannya tadi, tapi hal tersebut mulai ia lupakan dan berusaha mengikuti pelajaran dengan konsentrasi.
Tak lama kemudian bel berbunyi dua kali itu tandanya istirahat. Arman masih duduk manis di bangkunya dan sedang mengisi daftar hadir. Rara berinisiatif untuk mendekatinya dan berbincang-bincang dengannya.
"Mas, boleh minta nomor hpnya gak?", tanya Rara."Buat apa dek?", jawab Arman."Cuma buat tanya kalau ada tugas dan pelajaran yang aku gak paham aja kok mas, plisss!", Rara memohon."Iya deh ni, tapi janji ya jangan di salah gunain lho!", kata Arman memperlihatkan hpnya yang tercantum nomornya."Makasih ya mas", sahutnya membendung rasa bahagia karena sudah bisa mempunyai nomor orang yang ia sukai tersebut.
Malam harinya Rara teringat oleh nomor hp Arman. Ia penasaran apakah nomor itu aktif atau tidak. Kemudian dia kirim sms dan ternyata smsnya di jawab. Banyak hal yang mereka bicarakan di pesan singkat tersebut. Hingga tak terasa sampai larut malam, pukul 00.00 mereka memutuskan untuk mengakhiri smsan.
Esok harinya jam pelajaran kelasku kosong, tak satu guru pun masuk memberi tugas. Dari kejauhan Rara melihat Dika langkah demi langkah mendekat. Ternyata dia ingin mengisi kekosongan kelasku dengan pelajaran bebas. Berdebar-debarlah jantung Rara mendengar untaian kata yang keluar dari bibir manisnya. Sosok Dika adalah PPL terlucu, dengan Cuma-Cuma dia berbagi nomor hpnya yang ia bubuhkan di papan tulis. Rara segera menulis dan menyimpan nomornya.
"Wah ini PPL baik banget ya, makin suka aku sama dia", katanya dalam hati.
Semakin hari Rara semakin merasa dekat oleh Arman dan Dika. Mungkin karena mereka selalu smsan tiap hari. Tiba-tiba muncul di benaknya tentang Manan. Dia juga ingin sekali memiliki nomor hpnya.
"Mas Manan... gimana ya caranya aku buat bisa dapetin nomornya? Harus tanya siapa?", gumannya dalam hati."Mungkin aku bisa tanya mas Dika, karena dia kan sahabat dekatnya dan juga sama-sama jurusan Bahasa Indonesia", sambungnya.
Berlari ke ruang PPL, pagi itu kebetulan masih sepi dan baru Dika lah yang sampai di sekolah. Rara menghampiri dengan pelan-pelan.
"Dorrr...!!", teriak Rara mengagetkan Dika."Rara, kamu ngagetin aja sih, jantungan nanti aku", kata Dika dengan suara agak tinggi."Emm, iya deh mas maaf ya, aku Cuma bercanda", sahut Rara dengan nada rendah dan senyuman manis."Oke lah aku maafin, tumben kamu Ra, pagi-pagi udah nyamperin aku", ujar Dika heran."Ini mas sebenarnya aku mau minta nomernya nomornya mas Manan", kata Rara."Cie.. ciee.. naksir ya kamu sama Manan", kata Dika mengejek."Engak kok mas, Cuma mau tanya masalah presentasi tugas kemarin aja kok", jawab Rara."Hahahaaaa.. suka juga gak papa kok", Dika menertawakan Rara."Ah, mas Dika ya udah deh kalau gak boleh", Rara kesal dengan Dika."Jangan ngambek dong, ni nomornya tapi beneran ya, Cuma buat tanya masalah tugas bukan yang lainnya", Dika memberikan secuil kertas yang ada nomor hpnya Manan.
Setelah mendapatkan nomor tersebut Rara langsung mencoba menghubunginya. Tetapi begitu di angkat dan terdengar suara Manan mengucap hallo, Rara langsung memutuskan panggilan tersebut karena tak ingin mengganggunya.
Hari berganti hari tak terasa sudah dua bulan berlalu. Rara mendapat kabar bahwa para mahasiswa PPL ternyata hanya selama dua bulan saja mengajar di sekolahnya. Seketika badannya dingin, hatinya luluh lantah. Dengan tegar dia mencoba menahan air matanya dan menanyakan kebenaran kabar itu kepada salah seorang guru dan memanglah benar. Guru tersebut berkata bahwa tinggal satu minggu lagi mereka ada di sekolah tersebut.
Rara tak ingin menyia-nyiakan waktu yang tersiksa ini. Dia pun sempat meminta foto kepada setiap PPL yang ia sukai itu. Dengan senang hati mereka juga mau berfoto dengan Rara. Namun di hari-hari akhir ini Arman, Dika dan Manan tak pernah lagi masuk ke kelasnya dan memberi pelajaran. Rara sungguh merindukan masa-masa keseruannya ketika bisa di ajar oleh PPL tercintanya. Selain itu menjelas tiga hari terakhir, Manan tak kelihatan, hanya Arman dan Dika lah yang hadir itu pun Cuma sebentar kemudian kembali ke kampusnya. Hari-hari menjadi sepi, smsnya juga kini jarang di balas, jika di balas yang terbaca hanyalah "maaf lagi sibuk". Rara kini sering melamun, yang dulunya periang, centik dan sok akrab sekarang menjadi pribadi yang pendiam. Rupanya ketiga PPL tersebut mampu merubah sikapnya. Mungkin itulah yang dinamakan arti sebuah kehadiran cinta. Baru kali ini dia merasakan hal seperti ini.
Dua hari terakhir Rara melihat para PPL yang ia cintai itu. Dia mencoba ingin mendekati mendekati tetapi sayang sekali di ruangan itu ada dosen dan para guru yang sedang menilai mahasiswa-mahasiswa PPL tesebut. Dengan berat hati Rara kembali ke kelasnya dan tak bisa bersama, bercanda juga berbincang dengan mereka. Sempat air matanya menetes karena hatinya yang tak mampu membendung kesedihan dan kepedihan yang ia rasakan.
Di hari terakhir, Rara semakin sedih. Dari dalam kelas kelas Rara hanya bisa menangis, tetapi ketiga PPL tersebut sempat juga memandangnya dan memberikan senyuman yang mungkin akan menjadi Cause Too Much.
Sesi pemotretan para mahasiswa berlangsung di kelasnya. Hal tersebut semakin membuatnya semakin sedih. Rara yang menyaksikan pemotretan itu mencoba tak mengedipkan matanya karena ia tak mau air matanya tumpah lagi.
"Dek sini! Ayo kita ikut foto-foto lagi", kata Manan mengajaknya.
Mendengar hal tersebut dia senang walau pun harus menyembunyikan sebagian kesedihan.
"Iya sini Ra, narsis-narsis bareng kan besok kita udah gak di sini lagi", sahut Arman.
Melangkah mendekati mereka sambil memberikan senyum kesedihan dan Rara pun berfoto bersama mereka. Dia juga berfoto berempat bersama ketiga PPL tersebut.
Foto tersebut langsung jadi, Rara pun meminta fotonnya tadi. Tak Cuma itu, dia juga meminta tanda tangan yang dibubuhkan di balik foto.
"Mas, jangan pernah lupain aku ya, kalian juga sering-sering dong main ke sekolah ini. Banyak hal yang akan aku lupain ketika mas-mas ngajarin aku dan sebenernya aku sama kalian. Bagiku mas Arman, Dika dan Manan adalah PPL terbaik", kata-kata di hadapan ketiga PPL tersebut."Pasti, kita gak akan lupain kamu, kamu kan anak pinter dan baik hati. Kalau ada waktu pasti kita kesini, iya kan temen-temen", sahut Arman menghibur Rara."Iya dek, jangan sedih dong", sambung Dika."Bener Ra, kalau misalnya kita gak bisa kesini kamu boleh kok datengin kita ke kampus", ucap Arman."Makasih ya mas, kalian gak akan aku lupain sampai kapan pun", kata Rara merangkul ketiga PPL itu.
Rara pun kini menjadi lebih dewasa oleh pengalaman yang baru saja ia alami itu. Dan pengalaman itu akan ia jadikan lembaran cerita di cacatan kehidupannya.

SELESAI.

Cerpen Karangan: Anis Puspita Sari


Comments

Popular posts from this blog

Cerita Malam Pertama

Sepuluh Manfaat Kasih Karunia Tuhan

Menjadi Anak Penerobos Di Dalam Tuhan

Kisah Anak Penyemir Sepatu

Renungan Memperkatakan Firman Dengan Iman

Cacing Kepanasan Aja Tau

Forever Friends

Can QR Codes Be Used For Navigation?

Puisi Ruang Dan Waktu

Cerpen Hikmah Sebuah Kebaikan