Suara Siapakah yang Anda Dengarkan?

Gambar
15 Agustus 2018Bacaan Hari ini:
Amsal 1: 7 “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”

Pernahkah Anda perhatikan bahwa di saat Anda menetapkan satu gol dalam hidup Anda, Anda mulai mendengarkan orang lain berkata, "Memangnya kau siapa?”atau "Itu mustahil” atau "Lupakan saja"?Penangkal dari suara-suara keraguan ialah dengan mendengarkan suara Tuhan. Coba bayangkan segala kritikan yang ada dalam kehidupan Noah. "Itu si Nuh, katanya Tuhan berbicara kepadanya, tapi coba lihat, nyatanya dia malah menjatuhkan harga properti kita dengan membangun bahtera di halaman depan rumahnya."Alkitab memberi tahu kita bahwa Nuh mendengarkan Tuhan. Apa yang dia dengar? Dia mendengar peringatan Tuhan bahwa dunia ini akan dibinasakan. Nuh percaya apa yang belum dia lihat. Itulah iman – percaya pada sesuatu yang tidak kita lihat. Nuh tidak lari dari visi yang Tuhan berikan kepadanya. Tapi sebaliknya, ia tetap membangun bahtera…

Cerpen L.D.R (Long Distance Relationship), It’s Okay!


Kisah ini bermula di sebuah tempat dimana terbentang luas hamparan hijau nan indah, Star Hill. Malam itu tepatnya Saturday night pukul 20.30 WIB, aku yang seorang gadis periang begitu girangnya berada di Star Hill ditemani oleh seorang cowok. Ya, dia adalah teman bermain sekaligus teman belajar, teman curhat, dan bukan teman biasa.

Entah apa yang ada di benakku saat itu, rasanya tak seperti hari lalu ketika sering menghabiskan waktu bersamanya. Perasaan deg-degan tepatnya yang mampu menggambarkan suasana hatiku. “Mungkin dia lebih gelisah dan gak jelas perasaannya”, kataku dalam hati.

Seminggu sebelumnya memang kami telah membuat kesepakatan bahwa malam itu adalah saatnya aku memberikan jawaban atas permintaan dia untuk menjadikanku pacar.

“Hemmm…”, basa-basi yang terlontar dari mulut cowok tampan itu.
Lalu dia berusaha mengulangi lagi apa yang pernah dia katakan padaku.
“Sejak pertama kenal kamu sampai sekarang, kamu istimewa di mataku. Aku jatuh cinta sama kamu. Maukah kamu jadi pacarku?”, kata-kata dia ketika menyatakan cintanya padaku. Waktu itu aku belum bisa kasih kepastian, aku butuh waktu satu minggu. Kini tiba saatnya aku untuk menjawab. Baru mau ngomong, bukan main aku dikejutkan dengan pernyataan dia yang mendadak,
“Sebenarnya aku udah memendam cinta dalam hati selama dua tahun… Aku baru berani ngungkapin perasaanku ke kamu sekarang”.
Mataku terbelalak lebar tapi berkaca-kaca. Aku mencoba tersenyum. Aku mulai diberi kesempatan untuk menjawab, dengan terbata-bata seperti pasien yang kritis,
“Ma…’af… ma’afin aku. A-ku ga bi-sa… Aku gak bisa nolak kamu!”.
Spontan semua ketegangan berubah wujud menjadi cair.

Keesokan harinya, aku mengawali Minggu pagi dengan jogging. Aku dengan dia pastinya. “Yeeyee… Ayo lari terus biar sehat!”, kataku sok’ atlet.

“Go! Go! Go!”, sambung dia dengan nada supporter big match.
Status baru yang telah kami sandang membuat kami berseri serasa di taman bunga. Rasanya dunia ini milik kami berdua, yang lain ngontrak.
Aku suka kebaikannya, parasnya, otaknya, suara merdunya, dan yang paling ku suka darinya adalah dia lucu gokil. Aku pikir bila selalu ada di dekatnya, gak akan terkena virus emosi bahkan akan selalu tersenyum dan tertawa. Tapi ternyata sifat pemarahku lebih kuat dari jelangkung (datang tak diundang, pulang tak diantar).
Balik lagi ke-jog-ging! Setelah merasa lelah, aku dan dia pulang ke rumah masing-masing. SMS juga telepon kerap menyandera keseharian kami meskipun kami terbilang sering melakukan pertemuan.

***

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan 1 tahun berlalu, belum 2 tahun. Aku menerima kabar dari dia. Entah kabar buruk atau baik, yang jelas itu membuat aku shock dan migrain disertai mual-muntah. Dia akan terbang ke Negeri Gingseng, Korea (naik elang kaya yang di sinetron laga indosiar, tapi jaman sekarang ya naik pesawatlah). Keputusan yang dia ambil sudah bulat. Akupun pasrah, hanya bisa mendo’akan dan memberikan semangat.

Namun dalam lubuk hatiku yang terdalam, “Aku gak mau kamu pergi jauh!”. “Ku tak bisa… jauh… jauh… darimu… (nyanyi sambil meringis nangis, huh uhu hhu hiks)”.

Suatu hari, trending topic obrolan kami seputar boyband asal Korea. Bukan, maksudnya kebenaran akan kepergiannya ke Korea.

“Bagaimana bisa? Bagaimana kita menjalani hubungan ini? Bagaimana kalo kita gak ketemu selama bertahun-tahun? Bagaimana? Kapan? Di mana? Siapa?”, pertanyaan demi pertanyaan menghujam jantungku.
Aku ragu, aku kecewa, kesal, bingung, penasaran, es campur paling gak enak yang pernah aku makan. Bawaan dia yang slow but sure, ternyata mampu mengkondisikan aku menjadi sedikit lebih tenang.

Kata dia, “Aku mendapatkan kesempatan bagus dan sayang kalo dilewatkan begitu saja”.
“Aku lulus ujian dari sekian puluh ribu yang ikut seleksi government to government untuk bekerja di Korea, kurang lebih tiga tahun lamanya”.
“Aku pengen cari pengalaman dan cari uang sendiri”.
“Nanti kalo aku pulang, aku bawakan oleh-oleh buat kamu”, katanya menggodaku.
Kali ini aku mengalah, aku harus merelakan kepergiannya demi masa depannya.
“Tapi janji yah, kita tetap berhubungan, komunikasi jangan putus, saling percaya, dan menjaga diri”, jawabku seolah sudah siap dengan perbedaan intensitas pertemuan sebelum dan sesudah keberangkatan dia.

***

September kelabu di Jl. Pengantin Ali Ciracas Kampung Rambutan Jakarta, aku bela-belain nyamperin dia yang akan berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta bersama rombongan terpilih seleksi.
Setelah muter-muter sampai nyasar-nyasar akhirnya aku menemukan alamat itu. Aku bertemu dengannya untuk yang terakhir sebelum dia terbang. Kali ini tidak ada percakapan serius, hanya body language kami yang mewakili kesedihan.

“Hati-hati ya pacarku… Aku selalu mendukungmu, mendo’akanmu, dan menunggumu”, ucapanku diiringi air mata yang tiada henti.
Dia menjawab, “OK Thanks My Honey… Aku pergi ya… Daadaaghhh!!! (lambai-lambai tangan)”.
Mungkin dia gak tahu kalo aku terus mengikuti busnya dari belakang sampai kami terpisahkan oleh lampu merah.

***

Indonesia-Korea. Terpaut jarak yang lumayan menyiksa. Hari pertama menjalani hubungan jarak jauh, dia menelpon aku.
“Hallo Sayang. Apa kabar?”, suaranya terdengar melalui udara.
“Baik. Bagaimana kesan pertama menginjakkan kaki di Korea? Kapan pulang?”, sahutku.
Dengan termehek-mehek dia bilang, “Baru aja tiba, malah ditanya pulang. Emangnya Jakarta-Purwokerto?”.
Kemudian kamipun bercakap-cakap sampai pulsanya abis.

Suatu hari via video call on facebook+skype, aku suka sekali dengan ide iseng dia. Waktu liburan musim panas kalo gak salah, dia mengajak aku melihat tempat kerjanya, lewat dunia maya. Dia mengenalkan mesin-mesin canggih, produk-produk perusahaannya, semua tentang pekerjaannya. Aku terkesima melihat pemandangan yang gak ada di Indonesia itu.

“Gimana rasanya abis jalan-jalan ke Korea?, kata dia mengejekku.
Dengan senang hati aku jawab, “Korea hebat ya? Aku suka. Ajak aku ke sana dong…”.

Waktu berjalan begitu cepat. Suatu waktu dimana aku dibuatnya kesal.
“Gak berasa ya udah dua tahun aku di Korea”, kata dia via webcam on Yahoo Messenger.
Aku menjawabnya, “Iya, yes! Sebentar lagi kita ketemu”.
Sambungnya lagi, “Tiga tahun kan masa kontrak kerjaku habis, jadi aku pengen nambah satu tahun lagi ya?” (dia bertanya tanpa rasa berdosa).
“Ya sudahlah”, kataku bukan kata Bondan Prakoso & Fade 2 Black.
“Harus berapa lama aku menunggumu hah?”, bentakku.
Kemudian dia berkata lirih, “Sabar ya sayang… Aku pasti kembali”.

Di sela kesibukanku sebagai pelajar, aku hobby membuat puisi. Aku suka mencurahkan isi hati dan menuangkannya ke dalam tulisan. Saat aku mulai jenuh dengan hubungan ini, berikut ini salah satu goresanku mengenai seorang dia.
Pribadi lembut yang baik hatinya
Mampu menopang gundah
Sosok kuat tapi lemah…
Bisakah hatinya terbuka untuk yang lain?
Setiap kali aku ingin melepasnya
Dia selalu di posisi benteng pertahanan
Adakah dia yg begitu cintaiku, aku tega meninggalkannya?
Dia tak pantas dihujat, dia layak untuk dikasihi
Aku harus mencoba instropeksi diri
Dia lebih segalanya dariku, seakan sempurna di mataku
Mengenalnya adalah anugerah
Dicintainya lebih dari kekuatan apapun
Dia…
Dia makhluk Tuhan yang berwibawa…

Selama keberadaannya di negeri orang, aku tak pernah lupa memberikan semangat setiap harinya, selalu berdo’a demi keselamatan dan kesuksesannya. Aku belajar banyak dari L.D.R (Long Distance Relationship) atau hubungan jarak jauh ini. Aku bisa melatih kesabaran, sabar menunggu dia pulang. Aku bisa mengerti arti pengorbanan dan perjuangan. Aku percaya dia, begitu juga sebaliknya. Komunikasi yang tercipta antara aku dan dia sangat lancar. Apalagi sekarang jamannya facebook, twitter, skype, yahoo messenger, email, dan lain-lain. Walau terkadang kami sering salah paham, marahan, bahkan putus-nyambung gak jelas, apapun itu, semuanya dapat kami atasi dengan bijak. Hidup itu penuh tantangan dan aku suka sekali tantangan. So, L.D.R (Long Distance Relationship), It’s Okay!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga Di Kasih Tanda Cinta PadaMu

Humor 3 Drakula

Cerpen Keindahan Berbalut Jilbab Warna Ungu

Cerpen AHS

PENGERTIAN NUBUATAN NABI YESAYA

ORSAKTI KUMBANG TAK BERSAYAP YANG MENGGAPAI BUNGA

Meme & Momo

Cerpen Kasih Ibu Tak Batas Waktu

Cerpen Gak Bisa Tidur

Cerpen Cintaku Tak Berlisan

Thank's You