Tiada Lagi Air Mata

Baca: Mazmur 6"Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku." (Mazmur 6:7)Air mata bisa dikatakan bagian hidup manusia, mulai dari manusia dilahirkan sampai ia menutup mata, hidup manusia selalu diwarnai air mata yang tak kunjung habis. Kelahiran bayi ditengah-tengah keluarga diawali tangisan dan tetesan air mata; begitu keluar dari rahim ibunya ia sudah mulai menangis, air mata pertama sebagai pertanda kehadirannya di dunia. Ketika diperhadapkan dengan masalah dan pergumulan hidup yang berat air mata kembali mewarnai hari-hari manusia, seperti yang dirasakan pemazmur: "...aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku." (ayat nas); dan ketika manusia sudah menyelesaikan 'kontraknya' di dunia alias meninggal dunia, perpisahan itu ditutup pula dengan derai air mata oleh keluarga, sahabat, teman, kerabat dan orang-orang terdekat.Tetapi, pada saatnya air mata itu a…

Cerpen Pisang Ajaib


     Pada sebuah desa yang sangat terpencil hiduplah seorang anak piatu. Namanya Rina, ia memiliki seorang ibu yang bernama Darti. Suatu hari ibunya sakit, Karena ia tak punya uang, jadi ia tak bisa membawa ibunya ke rumah sakit. Padahal ibunya sedang sakit parah.

Suatu hari...
"Rina..." panggil ibunya.
"iya bu," sahut Rina sambil mendekati ibunya.
"tolong nak, ambilkan ibu air... ibu haus" kata ibunya dengan suara lemah.
"iya bu..." jawab Rina (pergi ke dapur untuk mengambil air dan kembali lagi membawa segelas air putih).
"ini ibu airnya..." kata Rina sambil menyerahan air itu dan ibunya pun mengambil air itu lalu meminumnya. "bu andai aja aku punya uang, pasti ibu aku bawa ke rumah sakit,"
"tidak apa-apa... ibu tidak apa-apa, cuman sakit biasa aja. Besok pasti sembuh," sahut ibunya.
"bu... aku pergi dulu ya," kata Rina.
"iya... tapi jangan lama ya," kata ibunya.
"iya bu..." jawab Rina lalu pergi

"tolong... tolong..." kata seorang minta tolong.
"kek... kenapa dengan kakek?" Tanya Rina ketika ia melihat seorang kakek minta tolong.
"begini cu... kakek nggak bisa jalan. Karena kaki kakek sakit," jawab si kakek.
"memangnya dimana rumah kakek?" Tanya Rina.
"di sana cu," jawab si kakek sambil menunjuk sebuah gubuk tua.
"mari kek... aku antar," ajak Rina.

Sesampai di depan sebuah gubuk tua...
"terimakasih cu..." kata si kakek.
"sama-sama kek..." sahut Rina.
"ini cu... kakek beri hadiah untuk anak sebaik kamu," kata si kakek sambil menyerahkan dua biji pisang kepada Rina.
"untuk apa kek pisang ini?" Tanya Rina.
"makankanlah pisang itu pada ibumu dan yang satunya untukmu," jawab si kakek.
"terimakasih ya kek..." kata Rina.

Kemudian ia pulang... sesamai di rumah ia langsung menemui ibunya...
"ibu... ini aku bawakan ibu pisang," kata Rina sambil menyerahkan pisang itu kepada ibunya.
"dapat darimana kamu pisang ini?" Tanya ibunya.
"aku dikasih seorang kakek tua bu," jawab Rina.

     Ibunya pun kemudian memakan pisang itu... tiba-tiba saja terjadilah sebuah keajaiban. Yang tadinya ibunya sakit tiba-tiba saja menjadi segar bugar.
"rin... ibu sekarang sudah sehat," kata ibunya dengan bahagia.
"apa! Ibu sudah sehat?" Tanya Rina terkejut.
"iya nak... coba liat sekarang ibu sudah biasa berdiri," jawab ibunya sambil berdiri," ternyata pisang itu pisang ajaib," katanya lagi.
"kalau begitu aku juga mau makan pisang ini," kata Rina. Betapa terkejutnya ia, ketika ia membuka membuka pisang itu, ternyata isinya sebatang emas. "bu emas...!?" katanya terkejut.
"iya nak..." sahut ibunya juga terkejut.

     Semenjak itu mereka menjadi kaya dan hidup berkecukupan. Tidak seperti dulu lagi. Namun walau pun begitu sifatnya Rina tetap tidak berubah. Ia tetap baik hati dan suka menolong orang.

SELESAI

Penulis: Halimatus Sa'diah


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga Di Kasih Tanda Cinta PadaMu

Humor 3 Drakula

Cerpen Keindahan Berbalut Jilbab Warna Ungu

Cerpen AHS

PENGERTIAN NUBUATAN NABI YESAYA

ORSAKTI KUMBANG TAK BERSAYAP YANG MENGGAPAI BUNGA

Meme & Momo

Cerpen Kasih Ibu Tak Batas Waktu

Cerpen Gak Bisa Tidur

Cerpen Cintaku Tak Berlisan

Thank's You