Tuhan yang Mempertobatkan

Zakharia 12:10-14 Kita yang sudah jatuh dalam dosa dan sudah mati kerohaniannya tidak mungkin dapat bertobat. Namun, jika Tuhan menghidupkan kerohanian kita, tentu saja pertobatan bukan sesuatu yang mustahil (bdk. Ef 2:1-5).Ayat sepuluh menunjukkan Tuhan akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan. Roh itu dicurahkan atas umat-Nya, yaitu keluarga Daud dan penduduk Yerusalem. Dengan demikian, mereka akan memandang kepada aku (LAI: dia) yang mereka tikam. Mereka akan meratapi dia seperti orang meratapi kematian anak tunggal. Mereka akan menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi kepergian anak sulungnya. Ini menunjukkan bahwa dia yang ditikam adalah aku, kata Tuhan. Ini menyiratkan bahwa Mesias yang ditikam adalah Tuhan sendiri.Tuhan akan memberikan anugerah supaya umat dapat bertobat dan memohon ampun. Mereka harus meratapi Mesias yang mereka tikam. Ratapan yang diberikan akan begitu besar, seperti ratapan di lembah Megido (bdk. 2Taw 35:21-25). Ratapan tersebut akan terj…

Cerpen Kebahagiaan


Kucing-kucing hitam yang lucu bercerita padaku.

"Sebenarnya aku dulu manusia, namun aku lelah menjadi manusia, aku memilih menjadi seekor kucing, aku seperti ini adalah kehendakku..." katanya.

Lalu aku tanyakan, "kenapa kamu lelah menjadi manusia? apakah karena manusia memiliki perasaan, dan di antaranya lelah itu sendiri hingga kamu lelah dan memilih menjadi kucing?".

"bukan, bukan itu. dulu aku adalah jenderal perang pada sebuah kerajaan, aku telah jauh berpetualang, melebihimu nak! kapal-kapal, panah, pedang, dan pakaian besi adalah temanku sehari-hari. aku memiliki masa muda yang jauh indah darimu, jauh menantang darimu. aku memiliki wanita yang jauh menawan darimu" jelasnya padaku.

"lalu kenapa kamu memilih menjadi seperti ini, bukankah kamu bahagia menjadi manusia, memiliki tahta, memiliki kehidupan yang indah?" tanyaku penasaran.

"aku lelah mengejar kebahagiaan itu sendiri nak! hingga suatu ketika pasukanku porak-poranda. dan aku melarikan diri. semuanya mati, hanya aku yang tersisa karena lari. aku menjauh ke dalam hutan, dan aku diselamatkan seorang kakek tua. dia sungguh baik, hidup sendiri, tapi aku lihat guratan senyum selalu menyertainya.

     aku heran, bahkan aku yang telah berpetualang jauh sembari melihat jenaka kehidupan tak pernah bisa sepertinya. lalu aku tanyakan perihal itu. aku juga menanyakan perihal kebahagiaan.

     malah dia bertanya kepadaku, 'pernahkah engkau menanyakan arti kebahagiaan hidup itu sendiri?', lalu dia menanyakan 'bagaimana engkau memaknainya selama ini?'.

     aku jawab, 'iya, bahkan hampir setiap hari aku menanyakan itu dan aku memaknai kebahagiaan itu ketika kita mampu bersyukur, mampu membela yang benar, mampu bersabar, kebahagiaan itu, ketika melihat orang lain tersenyum'.

     kakek itu menjawab, 'engkau menanyakan arti kebahagiaan itu sudah kesalahan, sama seperti engkau menanyakan arti kehidupan. juga, hampir semua orang pernah melakukan kesalahan ini, kakek juga dulu seperti itu. kebahagiaan itu dijalani, engkau akan menemukannya dalam perjalanan hidup ini. tak perlu dibuat-buat, tak perlu berpura-pura. begitu juga kehidupan, harus kita jalani. jika engkau memaksaku menjelaskan kebahagiaan padamu, dengarkan ini, duduklah!' lalu aku menuruti kakek itu, aku duduk, dia juga duduk.

     'kebahagiaan itu dari dalam, itu berarti kita harus membuatnya sendiri. tapi, kebahagiaan yang sebenarnya itu dari luar. engkau akan sedikit bingung. begini nak! kebahagiaan yang dari luar itu kebahagiaan sebenarnya, kebahagiaan yang dari dalam itu adalah kebahagiaan sejati. jadi kita harus membuat sumur kita sendiri di dalam hati kita, yang dalam dan bening. kedalaman hati kita akan mampu mendorong kita untuk selalu bermaksud baik, berprasangka baik, selalu berbuat baik. dan kebeningan hati kita akan mampu menyegarkan hati kita. jika kita memiliki itu, sekalipun amarah kita disulut, keadaan memaksa kita bersedih, kita akan tetap bahagia, kita akan tetap bermaksud baik, tidak dendam, tidak iri. juga, kebeningan hati kita akan mendamaikan, mensejahterakan hati dan jiwa kita' katanya.

lalu aku memahaminya, dan aku berpamit pulang kekerajaanku sembari membawa berita pasukanku kalah perang.

     Di kerajaan, raja sangat marah kepadaku. selama ini, aku memenangi laga peperangan. tapi kali ini, pasukanku tak tersisa satu pun. lalu aku berkata, 'hamba mengabdi kepada kerajaan, dan telah berusaha semaksimal mungkin. jika raja tidak terima, aku siap dihukum mati'. raja menolaknya, lalu aku berkata, 'maka aku tidak pantas menjadi jendral kerajaan ini, ah raja. bukankah aku dan engkau adalah teman masa kecil. teman sepermainan. bukankah engkau dan aku yang paling tahu sifat masing-masing. aku mohon, tidak lagi untuk menjadi jendral perang. bolehkah aku memilih menikmati sisa-sisa akhir hidupku?' sontak raja pun kaget. tapi apalah, itu kehendakku. urusannya semakin sulit. satu bulan kemudian, aku sudah tidak menjadi jendral.

     lalu aku berkeliling, berpetualang. aku menemukan penyihir. dan aku memintanya untuk menjadikan aku burung, tapi dia tak sanggup. aku memnintanya jadikan aku apapun, asal aku tidak jadi manusia. dan ia menyihirku menjadi kucing.

     sekarang, aku tak tahu berapa umurku, mungkin sudah ribuan. dan pernah aku menyesal, seharusnya aku menyelsaikan kisah hidupku dengan indah nak! tapi ini sudah terlanjur. maka, selama engkau menjadi manusia dan menjalani kehidupan, jangan berfikir untuk menjadi burung yang terbang bebas, bahkan kucing sepertiku berharap menjadi manusia. buatlah, karanglah kisah yang indah dalam kehidupanmu, dari awal sampai akhir, tak perlu diceritakan, simpan dalam hati yang dalam nak! ingat, semua manusia dapat memilih kisah hidupnya, juga kebahagiaan sejati itu dari dalam, bukan dari luar nak!"

Penulis: Sukasir


Komentar

  • How to Advance Through Our Adversity - Romans 8:18, 26-28 What would happen if we approached a fork in the road and found two signs, one reading “Road of Comfort” and the other, “Road of Adversi...
    4 minggu yang lalu
  • TAKING IT CAPTIVE - 2 Corinthians 10:3-5 (KJV) For though we walk in the flesh, we do not war after the flesh: 4 (for the weapons of our warfare are not carnal, but mighty th...
    4 minggu yang lalu
  • The Faith Mission 1886-1964 - By Duncan CampbellOver eighty years ago, a young man with life before him was sitting on a hillside on the Island of Arran. Below, on the Firth of Clyde, s...
    4 minggu yang lalu
  • The Soul’s Amen - Then I will keep the promise I swore on oath to your ancestors to give them a land flowing with milk and honey.” That is the very land that you still live ...
    4 minggu yang lalu
  • When it is just you! - Passage: John 1140 Then Jesus said, “Did I not tell you that if you believed, you would see the glory of God?” 41 So they took away the stone. Then Jesus l...
    4 minggu yang lalu
  • Switch On the Light - Bible Reading: Ephesians 5:8-14Though your hearts were once full of darkness, now you are full of light from the Lord. Ephesians 5:8Picture yourself st...
    4 minggu yang lalu
  • The Length Of God's Love - By Rick Warren “I know that your love will last for all time, that your faithfulness is as permanent as the sky” (Psalm 89:2 TEV). There’s a limit to human...
    4 minggu yang lalu

Postingan populer dari blog ini

Bunga Di Kasih Tanda Cinta PadaMu

Humor 3 Drakula

PENGERTIAN NUBUATAN NABI YESAYA

Cerpen Keindahan Berbalut Jilbab Warna Ungu

Cerpen AHS

ORSAKTI KUMBANG TAK BERSAYAP YANG MENGGAPAI BUNGA

Meme & Momo

Cerpen Kasih Ibu Tak Batas Waktu

Cerpen Gak Bisa Tidur

Cerpen Cintaku Tak Berlisan

Thank's You