Suara Siapakah yang Anda Dengarkan?

Gambar
15 Agustus 2018Bacaan Hari ini:
Amsal 1: 7 “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”

Pernahkah Anda perhatikan bahwa di saat Anda menetapkan satu gol dalam hidup Anda, Anda mulai mendengarkan orang lain berkata, "Memangnya kau siapa?”atau "Itu mustahil” atau "Lupakan saja"?Penangkal dari suara-suara keraguan ialah dengan mendengarkan suara Tuhan. Coba bayangkan segala kritikan yang ada dalam kehidupan Noah. "Itu si Nuh, katanya Tuhan berbicara kepadanya, tapi coba lihat, nyatanya dia malah menjatuhkan harga properti kita dengan membangun bahtera di halaman depan rumahnya."Alkitab memberi tahu kita bahwa Nuh mendengarkan Tuhan. Apa yang dia dengar? Dia mendengar peringatan Tuhan bahwa dunia ini akan dibinasakan. Nuh percaya apa yang belum dia lihat. Itulah iman – percaya pada sesuatu yang tidak kita lihat. Nuh tidak lari dari visi yang Tuhan berikan kepadanya. Tapi sebaliknya, ia tetap membangun bahtera…

Cerpen Seorang Gadis yang Masih Percaya dengan Dunia Peri


Pada suatu hari di suatu jaman di masa depan yang sudah tidak percaya dengan hal-hal yang terdapat pada khayalan seorang penulis dongeng, ada seorang gadis yang memakai baju merah dan rok berwarna merah muda berlari ke sana kemari mengikuti arah angin di sebuah padang rumput yang tenang dan damai. Sambil berlari, ia tersenyum semanis yang ia bisa. Rambutnya yang terkepang menjadi dua itu juga mulai mengikuti jejaknya, terayun-ayun mengikuti arah ke mana angin berhembus.


Ia percaya, kalau dia selalu tersenyum semanis mungkin, seorang peri akan datang di hadapannya, sambil tersenyum pula bersama kedua sayap kacanya yang menghiasi punggung ciliknya.
Ia percaya ini dari ia masih berumur 3 tahun, waktu itu Ibunya sering membelikannya buku dongeng tentang peri-peri yang saling bermain, bercanda, dan terbang ke sana kemari sambil membawa tongkat yang terkandung sihir yang akan berguna saat mereka mengucapkan suatu mantra. Ia tergila-gila dengan dunia peri.


Waktu umurnya 5 tahun, saat ia baru sekolah di sekolah dasar, ia selalu membawa buku dongeng yang Ibunya belikan ke mana-mana, kalau temannya bertanya, “Kenapa kamu selalu membawa buku dongeng itu?” Ia hanya menjawab, “Ini bukan sekedar buku, teman. Ia sebuah saksi bisu. Yang menulis ini adalah salah satu orang dari sedikit orang yang sangat beruntung, dan aku akan menjadi salah satunya.”
Dan, mulai saat itu, ia sering dijuluki Si pengkhayal aneh oleh teman sekelasnya, sampai ia lulus sekolah dasar.


“Ayolah peri, keluarlah. Tunjukkan dirimu.” Kata sang gadis sambil berlari dengan tangan terangkat, yang mungkin bisa untuk menangkap satu atau dua peri, yang ternyata gagal, selalu. Akhirnya, setelah selama mungkin ia berlari-lari mengitari padang rumput ini, ia merasa kelelahan. Sambil terengah-engah, ia berkata, “Aku… uh… sudah lama menunggumu, peri. Aku… hanya ingin bertemu denganmu… uh…”


Ia lalu terduduk di atas rumput hijau yang tergoyang terhembus angin sore. Ia lalu menidurkan dirinya sambil menatap langit yang dihiasi awan putih yang sangat indah. Ia percaya, suatu hari nanti, ia pasti akan bertemu dengan peri. Itu sudah takdirnya, bertemu dengan peri. Ia lalu menutup matanya, mencoba merasakan angin yang menabraknya dengan pelannya, dengan sejuknya, dengan keajaibannya.


“Itu dia!”


Tiba-tiba terdengar suara wanita dengan kerasnya dari arah utara. Mata sang gadis langsung terbuka. Ia langsung berdiri. Tubuhnya tiba-tiba bergemetar dengan hebatnya, giginya tidak bisa diam dari suara yang makin membuat hatinya tergoncang. Ia butuh peri! Ia butuh peri untuk kabur dari sini! Peri!
Wanita itu dengan cepatnya tiba-tiba sudah berada di depannya. Tangan besarnya terlipat hebat di depan dadanya, mulutnya yang lebih maju dari hidungnya yang mancung, rambutnya yang diikat kuda dengan sangarnya, dan matanya elangnya yang hampir membuat sang gadis mati.


“Ibu bersusah payah bekerja di rumah, mencuci, mengepel lantai, masak, dan kamu enak-enaknya tidur di sini?! Memangnya kamu pikir Ibu ini apa?! Pembantumu?! Hah?!” Suara wanita yang menamai dirinya ‘Ibu’ itu dengan hebatnya masuk ke dalam telinga sang gadis dan meruntuhkan nyalinya seketika. Ia takut, ia butuh peri!
“Aku… hanya ingin… bertemu…”
“Peri?!”
Sang gadis mengangguk dengan pelannya, sepelan mungkin ia bisa.


“Ya Tuhan! Ibu sudah bilang sejuta kali sama kamu, ya! Peri itu omong kosong! Peri itu hanya khayalan bodoh dari orang bodoh yang dengan bodohnya membuat cerita aneh di dunia yang juga sudah tidak percaya dengan yang namanya jujur ini! Kamu seharusnya sudah sadar, umur kamu sudah empat belas tahun! Empat belas! Dan kamu masih percaya dengan semua ini?! Dengan dunia peri yang bodoh itu?!”
“Dunia peri tidak bodoh, Ibu.”
“Lalu apa?! Hah?! Sudahlah! Sekarang pulang ke rumah lalu cuci baju! Cepat!” Sang gadis lalu mulai menggerakkan kakinya yang kaku untuk berjalan menuju rumahnya.


Sambil menunduk, ia menangis. Tidak tahu harus bagaimana, apa ia harus percaya kalau dunia peri itu tidak pernah apa? Atau harus lari, pergi ke sebuah dunia yang masih percaya akan hal itu, meninggalkan semuanya seperti yang ia sedang alami ini? Ia bingung. Ia percaya peri, namun ia takut.


Cerpen Karangan: Wahyu Tio

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga Di Kasih Tanda Cinta PadaMu

Humor 3 Drakula

Cerpen Keindahan Berbalut Jilbab Warna Ungu

Cerpen AHS

PENGERTIAN NUBUATAN NABI YESAYA

ORSAKTI KUMBANG TAK BERSAYAP YANG MENGGAPAI BUNGA

Meme & Momo

Cerpen Kasih Ibu Tak Batas Waktu

Cerpen Gak Bisa Tidur

Cerpen Cintaku Tak Berlisan

Thank's You