The Top 14 Enterprise-Scale Digital Marketing Solutions

Marketing for large organizations is different than marketing for small businesses or startups. It requires a different and specialized set of tools. We’ve put together a list of the best marketing tools for large organizations, divided by category.



Attribution 1. Altitude by ImpactAltitude promises deep insights into the behavior of your potential customers. It contains a varied array of customization options for reporting and modeling attributions.

2. AppsflyerIn markets and industries where the majority of the action on mobile, Appsflyer has the attribution solution. 

Social Media 3. OktopostBuilt by marketers for marketers, Oktopost has taken on the challenge of providing accurate and actionable visibility into social media attribution. It provides tools and resources for finding relevant social media conversations, facilitating employee advocacy efforts, and publishing.

Oktopost is designed for enterprises because it provides more than simple vanity metrics. It takes the “dark” ou…

Cerpen Seperti Chakky dan Okoiku (Kisah Sepotong Kayu)

Tak biasanya langit biru nan cerah berubah menjadi gelap dan mencekam. Kakek tua yang tinggal di atas bukit lari tergopoh-gopoh membawaku di atas punggungnya yang bungkuk dengan sedikit tenaganya yang masih tersisa. Keesokan harinya, ia menjemurku di bawah terik matahari yang sangat panas bagaikan di savana hingga aku mengering dan tak mempunyai setetes air pun di tubuhku.


Di gubuknya yang sudah reot ia mulai memotong-motongku dengan kapaknya yang tajam, dilanjutkan dengan gambar-gambar sketsa yang tak jelas. Aku tak tahu, di tangannya akan dijadikan apa aku nanti. Aku hanya pasrah dan rela tubuhku dipotong-potong sesukanya. Gambar-gambar sketsa itu semakin lama semakin jelas dan bermakna. Ia mengukir tubuhku dengan sangat teliti. Walaupun matanya berair dan tak bisa melihat dengan jelas seperti sewaktu muda dulu tapi dengan bantuan kacamata dan luv peninggalan Ayahnya ia terus mengukirku dengan hati-hati.


Hari berganti hari bulan berganti bulan tubuhku mulai terbentuk. Ia menggosok-gosokku menggunakan ampelas agar tubuhku yang kasar menjadi halus dilanjutkan dengan pulasan kuas cat yang bewarna-warni hingga menimbulkan warna yang apik. Dijemurnya kembali aku di bawah sinar matahari hingga warna itu semakin melekat dalam diriku. Rupanya ia menjadikanku sebuah boneka, boneka kayu yang menurutku mempunyai arti seni yang tinggi. Aku berharap aku bisa seperti pinokio yang bisa memperoleh nyawa dari seorang peri biru yang cantik agar aku bisa menemani dan membantu Kakek tua yang telah menciptakanku. Tapi aku tahu, itu semua hanyalah sebuah dongeng yang sampai kapanpun tak akan bisa menjadi kenyataan.


Saat mentari masih bersembunyi, Kakek tua membawaku pergi dari gubuk reotnya. Aku bertanya pada Kakek tua itu, kemanakah akan kau bawa diriku ini? Kakek tua hanya diam dan terus melangkahkan kakinya. Jelas saja, sampai kapanpun dia tak akan bisa medengarkanku. Aku terus bertanya pada diriku sendiri.
“apakah dia akan membuangku? Atau apakah dia akan menjualku?”


Pertanyaan itu terus berada dalam benakku hingga aku dan Kakek tua sampai di sebuah tempat di mana banyak sekali orang yang berlalu lalang. Lantas ia berjalan menuju ke sebuah toko boneka, seketika itu pertanyaan yang selama ini aku tanyakan terjawab. Ya, aku dijual Kakek tua itu, aku sedih karena harus meninggalkan Kakek tua tapi aku juga senang karena bisa membantunya menghasilkan uang untuk kelangsungan hidupnya.


Di dalam toko tersebut banyak sekali terdapat boneka-boneka buatan pabrik yang modern dan cantik. Boneka-boneka itu menertawaiku karena aku hanya dibuat dengan kayu dan tak menarik, mereka pikir aku hanya akan menjadi pajangan yang tak berguna dan tak akan ada seorang anak pun yang akan membeliku.
Benar saja, sekian lama aku di sini tak ada seorang anak pun membeli diriku, bahkan menyentuh pun tidak. Yang membuatku sakit adalah ada seorang anak yang berkata pada ibunya, “ibu, aku tidak mau melihat boneka itu, boneka itu sangat menyeramkan, cepat buang boneka itu!!”


Aku kembali berpikir, “apakah aku seburuk itu? Apakah ciptaan Kakek tua ini gagal? Hingga anak-anak pun menganggap diriku sesuatu yang menyeramkan” Boneka-boneka modern itu semakin menertawaiku, tapi aku terus mendongakkan kepala dan yakin suatu saat ada yang ingin memilikiku dan menyanyangiku dengan sepenuh hati.


Semakin lama warnaku semakin pudar dan tak menarik lagi seperti dulu. Wanita penjaga toko tiba-tiba datang menghampiriku, dia membawaku pergi dari rak tempatku dan lainnya dipamerkan. Aku bertanya-tanya, akan dibawa ke mana lagi aku ini? Boneka-boneka modern itu kembali mongolok-olok dan menertawaiku. Aku tak mempedulikan apa kata mereka, aku hanya berpikir mungkin wanita ini akan memberikanku pada anaknya.


Wanita penjaga toko menghentikan langkahnya di sebuah ruangan yang gelap dan pengap. Ya, itu adalah sebuah gudang. Di tempat itulah dia meletakkanku dan membiarkanku bersama barang-barang rongsokan lainnya. Kulihat juga di sana banyak sekali boneka-boneka yang tak terjual seperti diriku, mereka sudah berputus asa dan pasrah dimakan para rayap. Sudah bertahun-tahun aku ditempatkan di ruangan ini, setiap ada orang yang masuk aku berpikir mereka akan mengambilku kembali dan memainkan diriku. Tapi kenyataan berkata lain, mereka masuk hanya untuk meletakkan boneka yang tak terjual sama sepertiku dulu. Boneka-boneka di sini sama saja dengan boneka-boneka di luar sana, mereka selalu menertawaiku karena aku masih percaya akan ada orang yang ingin memilikiku.


Semakin lama keyakinanku memudar, aku sudah berputus asa dan memasrahkan tubuhku dimakan rayap-rayap yang lapar. Tiba-tiba saja seorang lelaki gagah mengambilku dan membawaku pergi dari tempat mengerikan itu, seketika itu aku kembali bersemangat dan berbalik mengolok-olok yang lainnya.


Sesampainya di rumah lelaki itu, tiba-tiba saja dia melemparku ke dalam kobaran api yang sangat panas. Seketika itu juga aku menjerit.
“kenapa kau membuangku ke sini? Apa salahku? Aku ini bukan chakky ataupun okoiku, tapi kenapa tak ada orang di dunia ini yang ingin memilikiku?” Tapi apa daya, mereka tak bisa mendengar jeritanku dan hanya bisa memandangku hingga badanku menjadi abu sepenuhnya.


Cerpen Karangan: Isna F Kaefiyah

Comments

loading...

Popular posts from this blog

To Love without Certainty

Best Time to Trek in Nepal

How Important Personal Health Care by Electronics Health Care Products at Home or Out Side?

Global Chlorotoluene Market Outlook 2017-2022, Market Size, Trends and Research Report

Considerations For Your Go-To Product Boxes Manufacturer

4 Essentials of Great Vape Cartridge Boxes

How a Test Automation Tool is the Solution to Challenges in Testing

Ideas To Advertise Your Small Business

Take a look at these PR Firms in Hyderabad- The city of Biryani and Pearl!

I Highly Recommend Cold Sore Home Remedies