Featured post

Forever Friends

1 Corinthians 15:53-55 (NLT) For our dying bodies must be transformed into bodies that will never die; our mortal bodies must be transformed into immortal bodies. Then, when our dying bodies have been transformed into bodies that will never die,this Scripture will be fulfilled: “Death is swallowed up in victory.O death, where is your victory? O death, where is your sting?”I spent last evening in a youth service with grieving young people. The young girl killed in a horrible tragedy had touched many and her kindness rippled through the crowd as many shared of her character even at the tender age of 16. Their sobs racked my heart. Why God? The grief counselors from the local high school were there – all believers – they talked with some, embraced others tightly and prayed with those who requested it. I was moved by the Presence of God in the midst of such sorrow and heartache. Hugging her mother, I prayed peace and strength walking through this week into her new normal. I could see the …

Cerpen Selamanya Cinta


     Malam semakin larut. Dingin pun semakin menelusup. Namun aku dan Sanca masih bertahan di sini, memandangi bintang. Kami tak banyak bicara malam ini. Aku melihat rona kesedihan di wajah Sanca.
"Dewa... besok aku akan pindah ke Jakarta." kata Sanca.
"Apa?"
"Aku tahu, kamu pasti kaget. Tapi ayahku dipindah tugaskan, dan mau tidak mau aku harus mengikutinya." jelasnya.
"Tak bisakah kau menolak?"
"Dia ayahku, Dewa."
"Aku tahu, tapi bagaimana denganku? Sanca, kau tahu kan kalau tak sedikit waktu yang telah kita habiskan bersama. Aku tak bisa tanpamu, dan aku yakin kau pun merasakan hal yang sama."
"Dewa... jarak Bandung-Jakarta tidak jauh. Media sosial juga masih aktif. Kita tidak akan pernah kehilangan kontak."
"Aku tetap tak bisa."

     Kami menghabiskan hampir separuh malam untuk sekedar mengobrol mengenai kepindahan Sanca ke Jakarta. Aku tak bisa menerima semua ini. Terlalu banyak kenangan di antara kita. Aku juga tak bisa memungkiri kalau aku sangat membutuhkannya. Aku membutuhkan orang seperti Sanca untuk membuat hidupku semakin berarti.
"Sudahlah, semakin malam akan semakin membuat perbincangan kita semakin tak berujung. Antar aku pulang sekarang, Dewa. Besok aku harus berangkat pagi-pagi sekali."

     Aku diam, sama sekali tak menanggapi Sanca. Aku sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Sepanjang perjalanan ke rumah Sanca, aku masih belum mampu berbicara. Semua terasa menyesakkan.

Keesokan harinya.
Aku terbangun pukul 06.00. Mataku masih terasa berat ketika aku memaksakan untuk membuka pesan singkat dari Sanca.

Aku berangkat sekarang. Baik-baik di sini ya, Dew. Aku sayang kamu.

     Aku sudah terbiasa menangis karena Sanca. Dan kali ini, entah kali ke berapa aku menangis. Dia memang hanya sebatas sahabatku, bukan kekasihku. Namun, perasaanku ini begitu dalam. Aku rasa, aku mencintainya.
Aku sama sekali tak berniat untuk membalas pesan singkat darinya.

Beberapa tahun setelah kepindahan Sanca ke Jakarta.
Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Aku dan Sanca telah dua tahun tak bertemu. Semenjak hari itu, kami benar-benar putus komunikasi. Bahkan berkomunikasi lewat media sosial pun tak pernah.

     Aku sudah berusaha mencari tahu tentang dirinya. Aku juga sudah pernah ke Jakarta untuk mencarinya. Tapi nihil. Aku tak bisa mengikuti jejaknya. Dan kini, aku semakin merindukannya. Aku merindukan kebersamaan kami. Aku rindu senyum dan tawanya. Aku rindu tangisannya. Aku rindu semua tentangnya.

     Suatu hari ketika aku larut dalam kesedihan, seseorang datang padaku. Dia mengaku bahwa dia teman dekat Sanca. Dia memberikan sesuatu padaku. Aku membukanya dengan sangat hati-hati. Barangkali Sanca memberikan sesuatu yang berharga yang ada hubungannya dengan kisah kami beberapa tahun silam. Setelah aku membukanya, mataku tak bisa beralih. Aku terus saja memandangi sesuatu yang ada di tanganku. Ternyata... sebuah undangan pernikahan. Dan itu, adalah undangan pernikahan Sanca. Sanca akan menikah, ya MENIKAH.

     Aku tak kuasa membaca kata itu. Tubuhku terasa lemas. Aku mencoba menahan airmata. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku teringat sebuah tempat di mana aku dan Sanca bermain ketika masih SMP dulu. Ada sebuah pohon besar di sana. Dan kami, menuliskan sesuatu pada batangnya. Aku segera melompat dari sofa. Berlari sekuat tenagaku menuju bukit tempat pohon itu berada. Aku harap, pohonnya tidak mati, seperti perasaanku ini pada Sanca, gumamku dalam hati.

     Sesampainya di sana, aku merasa lega. Ternyata pohon itu masih seperti dulu.
Aku mencoba mengingat-ingat hal apa saja yang pernah aku lakukan dengan Sanca di sini. Semua masih terekam jelas. Bahkan aku masih mengingat kata-kata yang kami tuliskan di batang pohon itu.

Aku, kamu, kita akan selalu bersama selamanya. Kita akan menjadi sebuah cerita yang abadi.

     Dan karena tulisan itulah aku seperti ini, karena aku yakin, ada doa yang terselip di antara kata-kata itu. Aku berharap lebih padamu, Sanca. Rasa cinta ini untukmu, selamanya.

Penulis: Hanif Yontar Rahma


Comments

Popular posts from this blog

Cerita Malam Pertama

Sepuluh Manfaat Kasih Karunia Tuhan

Menjadi Anak Penerobos Di Dalam Tuhan

Kisah Anak Penyemir Sepatu

Renungan Memperkatakan Firman Dengan Iman

Cacing Kepanasan Aja Tau

Forever Friends

Can QR Codes Be Used For Navigation?

Puisi Ruang Dan Waktu

Cerpen Hikmah Sebuah Kebaikan