Teke Teke (Hantu Penghuni Stasiun Kereta Api) (Part 2)

Spontan Kojima menutup telinganya dengan jari sambil menangis. Namun anehnya seolah hanya Kojima yang mendengar suara gaib itu. Michi yang duduk di sampingnya kaget dan khawatir melihat Kojima dan langsung memeluknya. Sepertinya Michi tahu apa yang terjadi. Sementara Hiraru yang duduk di jok seberang sana hanya melirik dengan tatapan penuh arti.

Mata Kojima seolah dipaksa untuk terbuka. Rasa ingin kencingnya semakin tak dapat ditahan lagi dan itu sangat mengganggu. Kojima terpaksa bangun dari tempat tidurnya dan menyalakan lampu. Diliriknya jam dinding yang ternyata masih menunjukkan pukul 01.00 dini hari.

Kojima berjalan sempoyongan menuju kamar mandi dengan mata setengah terbuka.

KREEETTT! Dibukanya pintu kamar mandi dengan perlahan. Tiba tiba mata Kojima dibulatkan. Hidungnya merasa mencium sesuatu dan itu tercium sangat amis seperti amis darah yang sudah busuk.

Kojima mengendus-endus sembari mencari-cari asal bau itu. Ia langsung berpikir bahwa ada tikus mati di kamar mandinya, namun …

Cerpen Pemuda Gila, Peri dan Bulan


Sore menjelang, dan pemuda itu berjalan menaiki bukit. Bukit yang sangat tinggi, bahkan awan pun selalu berada di bawah puncak bukit itu. Bukit yang sangat sepi, hanya terdapat padang rumput, dan beberapa bunga dataran tinggi. Tidak ada tangga buatan manusia untuk mencapai puncak bukit itu, para penduduk desa tidak mau bersusah payah membuat tangga yang panjang, lagipula tak ada apapun yang berharga di puncak bukit itu, hanya ada rumput dan bunga dataran tinggi. Penduduk desa tempat dimana pemuda itu tinggal sudah menganggap dia gila atau kerasukan hantu, pasalnya pemuda itu selalu menaiki bukit yang tinggi itu setiap sore, dan selalu kembali saat pagi. Pemuda itu adalah orang yang tertutup, dan jarang berbicara dengan penduduk desa. Pernah ada seseorang yang iseng menanyakan motif dari kegiatan naik bukitnya, tetapi pemuda itu hanya diam dan lari meninggalkan orang yang bertanya itu. Penduduk desa juga tahu bahwa sang pemuda selalu membawa keranjang penuh roti segar yang ia masak saat siang dengan jumlah yang tidak akan habis untuk dimakan seorang diri, dan penduduk desa selalu melihat pemuda tersebut pulang pada pagi hari dengan keranjang kosong.


“pasti roti-roti itu persembahan untuk hantu penghuni bukit itu” bisik salah satu penduduk desa saat pemuda itu berangkat pada suatu sore.
Pemuda itu pun tahu pandangan semua penduduk desa terhadap dirinya. Desas-desus buruk itu sudah sampai di telinga pemuda itu sendiri. Seseorang yang menjadi tokoh dalam cerita horor untuk menakuti anak nakal agar patuh. Ia telah menjadi tokoh dalam cerita “Pemuda gila yang menyembah hantu penunggu puncak bukit” serta “Pemuda yang akan menculik anak-anak dan menjadikan anak tersebut santapan penghuni puncak bukit apabila tidak patuh”. Itulah cerita orang tua yang disampaikan kepada anaknya agar mau sekedar membersihkan gigi, atau agar mau makan sayuran. Hal itu membuat ia dijauhi semua penduduk desa, baik orang tua maupun anak balita, selalu berusaha agar tidak bertemu dengan pemuda itu. Tetapi semuanya hanya angin lalu bagi pemuda itu. Sesuatu di puncak bukit itu selalu membuat pemuda itu tidak peduli dengan cemoohan penduduk desa, tidak peduli dengan cerita horror tentang dirinya untuk menakuti anak nakal, dan tidak peduli dengan lemparan kerikil dari anak-anak saat ia melewati jalanan desa.


Setiap orang mempunyai rahasia. Rahasia yang tidak mau disampaikan kepada seorang pun. Entah itu hal yang baik maupun hal yang buruk, membawa aib atau tidak, manusia selalu mempunyai sesuatu yang terkunci rapat dalam hatinya. Dan sesuatu yang disimpan oleh pemuda itu di dalam hatinya berada di puncak bukit itu dikala malam. Jalan menjulang antara desa dan bukit bukanlah suatu alasan untuk tidak menaiki bukit itu. Pemuda itu selalu merasa isi dalam hatinya berada di puncak bukit itu, tidak peduli di bagian belahan dunia mana ia berada, ia selalu terpanggil oleh hatinya untuk terus menaiki bukit itu. Dan sang pemuda selalu merasa bahwa rahasianya lebih berharga dari apapun, lebih berharga dari nama baiknya di mata penduduk desa, bahkan nyawanya sendiri.


Pemuda itu telah sampai di puncak bukit. Bintang-bintang dan bulan tampak begitu jelas, karena tidak pernah ada awan yang melintas cukup tinggi melebihi puncak bukit itu. Ia menaruh keranjangnya yang berisi empat buah roti di atas rumput, dan ia segera duduk dan memandang bulan. Kemudian sesosok makhluk datang menghampiri sang pemuda, itulah yang para penduduk desa sebut dengan hantu penunggu puncak bukit. Tapi bentuknya sama sekali berbeda dengan rumor yang beredar, tidak seperti hantu-hantu jahat yang memiliki wajah menyeramkan seperti imajinasi penduduk desa, melainkan sesosok makhluk yang anggun dan cantik dan memiliki senyum terindah. Dia adalah peri bumi, peri yang sudah hidup di atas puncak bukit itu sejak bumi diciptakan.


Pemuda yang sadar akan kehadiran peri itu tersenyum, dan itu membuat sang peri juga ikut tersenyum.
“Berapa roti yang kau bawa hari ini?” Tanya peri itu seraya duduk di samping pemuda itu.
“empat” kata pemuda itu sambil memberi dua buah roti kepada peri itu
Sang peri memakan satu buah roti itu, dan roti yang satunya lagi dihancurkan hingga menjadi remah dan disebarkan di seluruh bukit itu untuk dipersembahkan bagi rumput-rumput dan bunga-bunga yang ada di sana. pemuda itu juga mengambil satu buah roti dan memakannya. Sehabis itu sang pemuda melanjutkan waktu mengobrol dengan peri bumi itu, tetapi pemuda tersebut terus menatap bulan.
“aku mendengar cerita penduduk desa tentangmu tadi, bahwa kau adalah pemuda gila, apa kau tidak sedih mendengarnya?”
“sejujurnya aku sendiri merasa gila, tidak ada manusia normal yang setiap hari naik ke bukit ini kan?” jawab pemuda itu sambil tertawa “ngomong-ngomong kau tidak perlu memakan roti untuk tetap hidup, mengapa kau selalu memakan roti yang kuberi?” Tanyanya
“kau selalu membuat roti-roti ini dengan sungguh-sungguh, jiwa usahamu dalam membuat roti ini yang tanpa ragu itu tertanam dalam setiap cuilnya, dan aku suka segala hal yang dibuat dengan segenap hati” jawab peri itu
“Bagaimana kau tahu bahwa aku berusaha dengan sungguh-sungguh dalam membuat roti itu” Tanya pemuda itu lagi.
“ini adalah roti terlezat yang pernah ku makan” jawab peri itu dengan riang
Pemuda itu tersenyum dan kembali memandang bulan.
Peri itu melihatnya, dan bertanya “kenapa kau selalu memandang bulan yang jauh itu?”
“aku tak mau menjawab pertanyaanmu” kata pria itu dan kembali menatap bulan.
“kenapa? padahal bumi yang kau pijaki begitu indah, ada banyak sungai-sungai jernih dimana kau dapat berburu ikan, pohon-pohon apel yang selalu memberikan buahnya kepadamu saat pagi, dan air terjun yang selalu memunculkan pelangi yang begitu indah, bahkan rumput-rumput dan bunga yang ada disini selalu bahagia saat kau menginjakkan kaki di atasnya. Aku yakin di bulan tidak ada apapun kecuali debu dan batu. Tidakkah kau mencintai bumi ini? tidakkah kau mencintaiku?”
Si pemuda terdiam dan terus memandang bulan.
Peri itu merasa sedih dengan respon sang pemuda, ia pun pergi meninggalkan pemuda itu sendirian.


Dalam sepi di atas bukit itu sang pemuda berbisik kepada rumput “wahai rumput, sejujurnya aku mencintai bumi ini. aku suka sekali rasa ikan dari sungai, dan apel adalah buah favoritku, aku juga terkagum-kagum dengan keindahan pelangi di bawah air terjun, dan aku juga bahagia dapat duduk disini menemanimu dan bunga-bunga itu. Dan terlebih lagi aku mencintai peri bumi yang cantik itu lebih dari apapun. Tetapi apa kau tahu bahwa Tuhan membuatku dari tanah bulan? Semua yang ada di dalam tubuhku, jantungku, tulangku, darahku, dan hatiku terbuat dari tanah bulan. Aku merasa di sanalah seharusnya aku berada, menjadi satu bagian dengan bulan. Itulah tujuan hidupku dan karena hal itulah aku menaiki bukit ini, di ketinggian aku merasa dekat dengan bulan itu, dan aku terus berdoa agar Tuhan mau membawaku untuk memijakkan kaki ke bulan dan menjadi satu kembali dengannya. Tolong kau bisikkan ke peri itu permohonan maafku” bisik pemuda itu kepada rumput..


Lalu pemuda itu melakukan apa yang selalu ia lakukan dikala peri bumi tak berada di sampingnya. Ia mengambil satu-satunya roti yang ada di keranjangnya dan menghancurkannya menjadi remah-remah kecil, kemudian pemuda itu meniupkannya ke angin. Ia berharap bahwa angin selalu membawakan remah-remah roti itu kepada bulan agar bulan dapat mencicipi kelezatan roti buatan pemuda itu. Berharap sebagian jiwa-jiwa usahanya yang tertanam pada remah-remah roti itu menyentuh sang bulan dan menyampaikan pesan “aku di sini, dan aku terus berusaha untuk menggapaimu”


Matahari mengintip dari ufuk timur, dan pemuda itu segera turun ke desa. Lalu saat sore tiba ia kembali menaiki bukit itu, tetapi sesampainya di puncak ia tidak mendapati peri bumi menemaninya lagi, dan itu membuat pemuda itu sedih.


Tahun demi tahun berlalu. Dikala itu sang peri bumi sedang memberikan berkat kepada hutan yang jauh di barat daya bukit itu. Disitulah sang peri menerima bisikan dari rumput, tetapi bukan permohonan maaflah yang disampaikan oleh rumput, melainkan berita duka bahwa pemuda itu telah meninggal dunia di puncak bukit itu. Peri itu masih menaruh hati pada pemuda itu, jadi dia langsung menuju bukit dimana sang pemuda biasanya berada. Sesampainya di sana ia melihat tulang-belulang pemuda itu dan membuat sang peri begitu sedih. Sang peri mulai menangis, tangis yang terus berlanjut selama bertahun-tahun. Setelah air matanya habis, peri itu mencoba mengukir wajah pemuda itu di bukit yang bersebelahan dengan bukit dimana mereka biasanya bertemu.


Genangan air mata peri itu lambat laun berubah menjadi danau, danau yang paling jernih di seluruh penjuru bumi, dan air danau itu memberikan kesempatan untuk biji-biji pohon buah dan bibit-bibit bunga untuk tumbuh. Tanpa disadari, bukit itu sudah menjadi pemandangan alam yang paling indah di seluruh bumi ini.


Di desa, beberapa keluarga sang pemuda khawatir, karena pemuda itu tidak pernah turun lagi dari bukit itu pada pagi harinya, jadi kakak dari pemuda itu mencoba menaiki bukit untuk mencari sang pemuda. Sesampainya di atas, bukan sang pemuda lah yang ia temui, melainkan pemandangan indah yang tiada tara. Karena begitu terkesan dengan danau indah itu, kakak sang pemuda membuat rumah di tepi danau itu, ia juga membuat tangga menuju puncak bukit agar orang lain dapat melihat keindahan bukit itu. Banyak sekali orang-orang yang datang dan ikut membuat rumah di atas bukit itu. lambat laun kumpulan rumah itu berkembang menjadi desa, dan desa itu berkembang menjadi sebuah Negara, Negara yang paling indah di muka bumi, sebuah Negara di atas awan, yang manusia pada masa kita panggil dengan sebutan Machu Picchu.


Dan seiring dengan berhentinya tangisan si peri bumi, danau itu menjadi kering. Pohon buah-buahan mulai mati, tumbuhan layu, dan sawah Negara itu kekurangan air. Dan tak lama kemudian Negara yang indah itu jatuh. Hal ini ditambah parah dengan serbuan-serbuan bangsa asing, membuat negara itu hanya tinggal puing-puing saja.


Tetapi keindahan Negara itu tak lekang oleh waktu. Hingga sekarang walaupun hanya puing-puing saja yang tersisa, banyak sekali wisatawan dari seluruh dunia yang mencoba pergi kesana. Machu Picchu, kemudian dikenal sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang paling indah di muka bumi. keajaiban dunia yang dibentuk oleh sebuah cinta tulus dari sesosok peri bumi kepada seorang pemuda gila.


Cerpen Karangan: Fadil Erlangga

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga Di Kasih Tanda Cinta PadaMu

Humor 3 Drakula

Cerpen Keindahan Berbalut Jilbab Warna Ungu

Cerpen AHS

PENGERTIAN NUBUATAN NABI YESAYA

ORSAKTI KUMBANG TAK BERSAYAP YANG MENGGAPAI BUNGA

Meme & Momo

Cerpen Kasih Ibu Tak Batas Waktu

Cerpen Gak Bisa Tidur

Cerpen Cintaku Tak Berlisan

Thank's YouI Love You