Posts

Showing posts from May 18, 2018

Featured post

Forever Friends

1 Corinthians 15:53-55 (NLT) For our dying bodies must be transformed into bodies that will never die; our mortal bodies must be transformed into immortal bodies. Then, when our dying bodies have been transformed into bodies that will never die,this Scripture will be fulfilled: “Death is swallowed up in victory.O death, where is your victory? O death, where is your sting?”I spent last evening in a youth service with grieving young people. The young girl killed in a horrible tragedy had touched many and her kindness rippled through the crowd as many shared of her character even at the tender age of 16. Their sobs racked my heart. Why God? The grief counselors from the local high school were there – all believers – they talked with some, embraced others tightly and prayed with those who requested it. I was moved by the Presence of God in the midst of such sorrow and heartache. Hugging her mother, I prayed peace and strength walking through this week into her new normal. I could see the …

Pembalasan

Sore itu, hujan yang beradu dengan angin menghantam di sebuah daerah perumahan yang terbilang masih layak huni. Petir sesekali melontarkan geramannya, gelap menyelimuti langit walau matahari sebenarnya masih bersembunyi di baliknya. Terdapat rumah sepi berlantaikan keramik dan bertingkat dua yang berhadapan dengan masjid yang selalu mempunyai kegiatan berkumandang lima kali sehari. Rumah itu bagai lahan kosong yang tak berpenghuni, sunyi sepi tanpa suara.

Di kamar atas terdengar isak tangis seorang perempuan yang setengah lemas, di sampingnya tergolek bayi kecil berjenis kelamin laki-laki berlumuran darah segar dan diselimuti dengan tirai. Tampaknya perempuan tersebut baru saja melahirkan dan tak seorang pun mengetahuinya apalagi membantunya. Perempuan tadi dengan sedikit tenaga membungkusnya dengan tas keresek. Dengan langkah yang terseok-seok, dia membawa tas berisi manusia yang baru melihat dunia tersebut ke depan masjid depan rumahnya yang kebetulan saat itu tidak ada orang beserta…

Memecahkan Misteri di Sekolahku

Nama gue Lianti syanastasya. Lo semua boleh panggil gue Lianti atau Syanas. Gue sekolah di salah satu SMP swasta di Jakarta utara. Cerita ini gue ambil dari kisah sekolahan gue yang kata orang sih bekas rumah sakit dan katanya juga sih angker, tapi sekolah nih yang jadi inspirasi gue.

“Woyy li? Lo udah tahu belum?” tanya Arumi. Arumi ini temen sekelas gue dia cantik. Tapi sayang dia itu punya otak yang super duper telmi.
“Tahu apaan? Pertanyaan lo aja belum selesai?” kata gue rada sewot.
“Hehehe, iya juga sih…” jawab Arumi.
“Hmm, gini loh li… katanya tuh sekolahan kita ini bekas rumah sakit dan yang lebih menghebohkan ternyata uks itu bekas ruang mayat, ruang guru bekas tempat mandiin mayat, dan kelas kita, di situ bekas ruang operasi” kata Okta menjelaskan maksud dari ucapan Arumi.
“Oh begitu, udah tahu gue” jawab gue singkat.

Tapi asal lo tahu aslinya tuh gue juga rada takut soalnya di sekolah ini banyak kejadian aneh. Mulai dari kesurupan, kecelakaan, sakit parah yang berujung kemati…

Yang Mengetik Tengah Malam

Angin kencang menyapu sebuah komplek warga perkebunan teh. Menambah dingin suhu yang memang sudah dingin. Seusai Magrib tak ada manusia yang mau menembus cuaca pegunungan. Yang bisa membuat tulang kesakitan karena kaku, dan darah membeku. Warga yang didominasi oleh pekerja pabrik dan kaum wanitanya sebagai pemetik teh itu, lebih memilih berdiam diri di rumah dengan tungku yang dibiarkan menyala sepanjang malam. Betul-betul suasana yang kontras dengan iklim perkotaan.

Di sebuah rumah yang biasa disebut bedeng, yang letaknya paling ujung dan tinggi. Terhalang oleh jalan raya tak ada lagi pemukiman, yang ada hanya hutan pinus. Penghuni bedeng itu bukan pekerja perkebunan, tapi dua orang guru perempuan yang masih muda. Mereka adalah dua sahabat yang kebetulan ditempatkan bersama. Mereka adalah sosok-sosok yang sangat berdedikasi dan mencintai profesinya, hingga rela ditempatkan, di suatu tempat yang jauh dari keramaian kota.

Malam itu Wulan belum terlelap, ulangan semester baru saja berakhi…

Sekumpulan Makhluk Aneh

Malam itu tiba-tiba menangkapnya. Tanpa bintang, tanpa bulan, hanya kegelapan. Sambil memegangi sebuah lilin yang menyala, gadis itu berjalan menuju luar rumah. Ia tidak dapat melihat, karena listriknya sedang mati. Ia sempat menabrak beberapa perabotan, seperti kursi atau meja. Namun, pada akhirnya, ia sampai juga di depan pintu. Namun, sebelum ia memutar kuncinya, tiba-tiba ia mendengar teriakan seorang wanita. Ia kaget. Siapa itu? Kenapa ia berteriak?

Lalu, suara terengah-engah terdengar. Semakin lama, semakin keras. Gadis itu melirik ke luar rumah melalui jendela. Sedikit susah dilihat karena kegelapan yang semakin menjadi-jadi seiring berjalannya waktu. Yang ia lihat, hanya sekumpulan orang yang berjalan, namun sangat lambat. Mengapa mereka berjalan di dalam kegelapan? Ada acara apa?

Suara terengah-engah itu ternyata berasal dari mereka, mengapa mereka terengah-engah? Apakah mereka habis berlari? Namun, tiba-tiba salah satu dari mereka melirik gadis itu. Lalu, tiba-tiba dia berlari…

Sudahkah Kita Berbuah?

Baca: Lukas 6:43-45"Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya." (Lukas 6:44)Ketika kita menanam biji buah-buahan, apa yang kita harapkan? Tentunya kita berharap suatu saat nanti biji itu akan bertumbuh dan akhirnya akan menghasilkan buah. Namun jika setelah menunggu sekian lama ternyata pohon-pohon itu hanya lebat daunnya tetapi tidak ada buahnya sama sekali, padahal kita sudah berjerih lelah untuk merawat, mengairi dan memberinya pupuk setiap hari dalam kurun waktu yang tidak singkat, tentunya akan membuat kita dongkol dan kecewa. Ini seperti perumpamaan tentang pohon ara yang disampaikan Tuhan Yesus: "Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!" (Lukas 13:7). Pohon yang tidak berbuah pasti akan mengecewakan pemiliknya.Begitu juga dengan kehidupan orang Kristen yang tidak berbuah, Tuhan Yesus pun berkata, "Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, d…

Berani Membayar Harga

Baca: 1 Tesalonika 2:1-12"...telah dianiaya dan dihina di Filipi, namun dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat." (1 Tesalonika 2:2)Karena pertolongan Roh kudus pelayanan rasul Paulus berhasil dan berdampak. Banyak orang menjadi percaya dan diselamatkan. Namun Rasul Paulus berani membayar harga. Inilah harga mahal yang harus dibayar olehnya: ujian, kesukaran, penderitaan dan aniaya.Sebelum pergi menuju ke Tesalonika, Paulus harus mengalami banyak penderitaan di Filipi: "...orang banyak bangkit menentang mereka. Lalu pembesar-pembesar kota itu menyuruh mengoyakkan pakaian dari tubuh mereka dan mendera mereka. Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh. Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasu…

Popular posts from this blog

Cerpen Sesungguhnya Aku Menyayangimu Tapi (Part 2)

NATURAL ANTI DANDRUFF SHAMPOO

Forever Friends

What Does Desert Safari Mean?

Cerpen Lampu Merah

Advantages of a Manual Wheat Grinder

Cerpen 3 Days To Live

Cerpen 2 Sahabat Menjadi 2 Penghianat

Hargai Simbol yang Ditetapkan Allah