Postingan

Menampilkan postingan dari April 19, 2018

Suara Siapakah yang Anda Dengarkan?

Gambar
15 Agustus 2018Bacaan Hari ini:
Amsal 1: 7 “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”

Pernahkah Anda perhatikan bahwa di saat Anda menetapkan satu gol dalam hidup Anda, Anda mulai mendengarkan orang lain berkata, "Memangnya kau siapa?”atau "Itu mustahil” atau "Lupakan saja"?Penangkal dari suara-suara keraguan ialah dengan mendengarkan suara Tuhan. Coba bayangkan segala kritikan yang ada dalam kehidupan Noah. "Itu si Nuh, katanya Tuhan berbicara kepadanya, tapi coba lihat, nyatanya dia malah menjatuhkan harga properti kita dengan membangun bahtera di halaman depan rumahnya."Alkitab memberi tahu kita bahwa Nuh mendengarkan Tuhan. Apa yang dia dengar? Dia mendengar peringatan Tuhan bahwa dunia ini akan dibinasakan. Nuh percaya apa yang belum dia lihat. Itulah iman – percaya pada sesuatu yang tidak kita lihat. Nuh tidak lari dari visi yang Tuhan berikan kepadanya. Tapi sebaliknya, ia tetap membangun bahtera…

Cerpen Kamu Cantik, Tapi….

“Aneh deh sama status teman kamu.” Kata Faiz sambil merengut mendekati kursi Naya.“Teman aku yang mana Iz ? Emang statusnya bagaimana sampai bikin kamu bête ?” Naya balik bertanya.“Bukan bête sih. Hanya merasa aneh saja. Itu tuh, si Raina. Statusnya itu isinya tentang wajah seseorang yang cantik atau tampan tapi tidak pantas untuk di pamerkan.” Faiz menjelaskan kepada Naya dengan tetap merengut.“Maksudnya kamu, di pamerkan bagaimana Iz ? Aku ga ngerti.” Naya yang sedang fokus mengetik laporan bulanan kemudian menoleh ke arah Faiz.“Yaa.. contohnya di jadikan foto profil facebook atau menaruhnya di internet.”“Ooh gitu toh. Aku bisa jelasin ke kamu. Karena aku juga pernah merasa aneh sama dia.” Naya hendak berbagi cerita.“Gimana Nay ?”. Faiz penasaran dengan penjelasan Naya.“Iya, sebelumnya aku sempat kesal sama Raina. Tiap kali ada yang menaruh foto dia ke profilnya, selalu dia hapus. Aku sampai berfikir. Ini anak kok bisa segitunya. Apa dia ga berfikir, kalau orang yang menaruh fotonya…

Cerpen Renungan “NASIB”

25 tahun yang lalu,Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun wali hakim. Dalam tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai. Tanpa sungkem dan tabur melati atau hidangan istimewa dan salam sejahtera dari kerabat. Tapi aku masih sangat bersyukur karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi. Umurku sudah menginjak seperempat abad dan Kania di bawahku. Cita-cita kami sederhana, ingin hidup bahagia.22 tahun yang lalu,Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan keluargaku. Ya, keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya momongan. Seorang putri, kunamai ia Kamila. Aku berharap ia bisa menjadi perempuan sempurna, maksudku kaya akan budi baik hingga dia tampak sempurna. Kulitnya masih merah, mungkin karena ia baru berumur seminggu. Sayang, dia tak dijenguk kakek-neneknya dan aku merasa prihatin. Aku harus bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua Ka…

Cerpen Jujur

Brengsek… kau memang brengsek. Baru kusadari malam ini. Betapa bodohnya aku selama ini percaya dan menelan mentah-mentah seluruh bualan dan rayuan menjijikkanmu. Akh,kupegang kening yang tak panas ini, tapi kacau memikirkan tingkah lakumu padaku sejauh ini. Bodohnya aku baru sadari semua khilafku. Biasanya aku sangat, bahkan terlalu hati-hati dalam mengambil tindakan, ntah kau perdayai aku dengan apa sehingga semua terlanjur menyakitkan dan perih bagiku. Hingga malam ini, tak henti-hentinya otakku berputar mencari jawaban atas apa yang telah terjadi dan menimpaku, kau datang dan pergi sesuka hatimu mempermainkan perasaaanku. Awalnya aku menyalahkan diri sendiri yang tak merespon cintamu, tapi pada akhirnya, tepatnya malam ini, aku yakin semua adalah permainanmu. Dasar wanita bodoh diriku ini
Semua berawal 6 bulan lalu, kita bertemu. Sikap dan perilaku yang kau tunjukkan wajar dan terkesan dalam, kau terlalu hati-hati dalam menanggapi pertanyaan yang terlontar dari mulutku. Kau cukup d…

Cerpen Ada Cinta dalam Alzheimer

Aku menangkap senja di peraduannya. Berjalan menuju bukit-bukit kisahku yang tak terelakkan tantangannya. Memang sedikit gila aku berpikir hingga ke dalam inti otakku sehingga nukleus sel-sel syarafku mengernyit seiring nada yang berjalan dalam pembuluhnya. Tak lagi aku jumpai burung-burung senja pulang ke tempat kediamannya. Aku telah lama rindu dengannya.
“Ah! Peduli amat aku sama dia. Memang dia raja apa? Sampai aku tergila-gila begitu,” sesalku dengan sedikit kemarahan.
Kuning emas menutupi siang begitu cepat. Aku tak sempat tidur dalam kerumunan kendaraan mewah yang berlalu lalang. Sungguh beban yang berat. Zat-zat kimia dalam tubuhku takkan bisa ku lepaskan sedikit pun. Aku tak mau lagi bercanda dengan duniaku yang telah sakit ini.
Harapan semu masihku gantungkan pada bintang-bintang yang lelah menatapku. Namun, sebisa mungkin dia tetap berkelip menghiburku.
“Oh, sungguh menakjubkan ternyata. Kapan-kapan aku pergi denganmu ya bintang kecil. Aku ingin jadi temanmu. Love you!” kat…

Cerpen Bukan Mimpi

Raga menatap parasnya di cermin. Sungguh, tak pernah disangka semua terjadi begitu saja. Impiannya yang dulu dia bangun, tiba-tiba musnah tak berbekas. Semakin dia mengingat kisah cintanya semakin terluka hatinya. Sebenarnya dia tak pernah ingin meninggalkan Ajeng. Hanya saja keputusannya untuk memutuskan hubungan yang telah dijalin hampir tiga tahun itu tak bisa diganggu gugat. Sholat istikharah yang dia lakukan semakin memantapkan hatinya untuk meninggalkan wanita yang dicintainya.Terkadang terasa aneh jika tiap malam dia menantikan telepon dari Ajeng. Padahal mereka telah putus tunangan hampir tujuh bulan yang lalu. Raga masih memimpikan seorang seperti Ajeng kembali datang untuk menemani hatinya yang sepi. Meskipun dia menyibukkan diri pada hobinya di otomotif, bayangan paras wanita cantik itu belum juga membuat hatinya terbuka untuk mencintai.Raga memandangi cincin tunangannya yang kini dia simpan di dompet. Dulu dia selalu mengenakan cincin itu di jari manis tangan kirinya. Namu…

Cerpen Bukan Mimpi

Raga menatap parasnya di cermin. Sungguh, tak pernah disangka semua terjadi begitu saja. Impiannya yang dulu dia bangun, tiba-tiba musnah tak berbekas. Semakin dia mengingat kisah cintanya semakin terluka hatinya. Sebenarnya dia tak pernah ingin meninggalkan Ajeng. Hanya saja keputusannya untuk memutuskan hubungan yang telah dijalin hampir tiga tahun itu tak bisa diganggu gugat. Sholat istikharah yang dia lakukan semakin memantapkan hatinya untuk meninggalkan wanita yang dicintainya.Terkadang terasa aneh jika tiap malam dia menantikan telepon dari Ajeng. Padahal mereka telah putus tunangan hampir tujuh bulan yang lalu. Raga masih memimpikan seorang seperti Ajeng kembali datang untuk menemani hatinya yang sepi. Meskipun dia menyibukkan diri pada hobinya di otomotif, bayangan paras wanita cantik itu belum juga membuat hatinya terbuka untuk mencintai.Raga memandangi cincin tunangannya yang kini dia simpan di dompet. Dulu dia selalu mengenakan cincin itu di jari manis tangan kirinya. Namu…

Cerpen Sudahkah Hamdan Datang?

“Cepat sedikit, nanti keburu siang!” kata wanita setengah baya sambil mengetuk pintu kamar. “Iya.. sebentar lagi…!” terdengar suara yang tak begitu jelas dari dalam kamar itu. “anak ini sungguh keras kapala, sukanya tergesa-gesa” kata wanita itu menggerutu. Tak lama kemudian terlihat seorang remaja keluar dari balik pintu yang hendak rapuh itu. Rambutnya dibiarkannya terurai agar sang bayu dapat membelai mesra. Bulu mata lentiknya sering kali membuat iri gadis-gadis seumurannya, apa lagi melihat pipinya yang berlesung, seolah-olah membuat dirinya tampak sempurna di mata mereka. “Rani” begitulah orang-orang memanggil gadis cantik itu. Tak lama kemudian mata sipit gadis desa ini terbelalak pada salah satu ruangan di depannya.Sudahkah Hamdan Datang“Sudahkah Hamdan datang?” Tanya gadis itu sembari membenarkan sepatu hak tinggi yang dihadiahi almarhum Ayahnya. “Sudah tiga puluh menit dia menunggu di luar!” jawab wanita setengah baya sambil membenarkan jilbabnya. “Oh, Ibu, kenapa tidak meny…

Postingan populer dari blog ini

Bunga Di Kasih Tanda Cinta PadaMu

Humor 3 Drakula

Cerpen Keindahan Berbalut Jilbab Warna Ungu

Cerpen AHS

PENGERTIAN NUBUATAN NABI YESAYA

ORSAKTI KUMBANG TAK BERSAYAP YANG MENGGAPAI BUNGA

Meme & Momo

Cerpen Kasih Ibu Tak Batas Waktu

Cerpen Gak Bisa Tidur

Cerpen Cintaku Tak Berlisan

Thank's You