Posts

Showing posts from May 4, 2018

Featured post

Forever Friends

1 Corinthians 15:53-55 (NLT) For our dying bodies must be transformed into bodies that will never die; our mortal bodies must be transformed into immortal bodies. Then, when our dying bodies have been transformed into bodies that will never die,   this Scripture will be fulfilled:  “Death is swallowed up in victory.   O death, where is your victory? O death, where is your sting?” I spent last evening in a youth service with grieving young people. The young girl killed in a horrible tragedy had touched many and her kindness rippled through the crowd as many shared of her character even at the tender age of 16. Their sobs racked my heart. Why God? The grief counselors from the local high school were there – all believers – they talked with some, embraced others tightly and prayed with those who requested it. I was moved by the Presence of God in the midst of such sorrow and heartache. Hugging her mother, I prayed peace and strength walking through this week into her new normal. I could

Cerpen Jambu Untuk Anakku

     Riuhnya bunyi dedaunan di sebabkan angin pagi yang gelisah. Kicauan burung hutan memecah kesunyian. Sang mentari memercik sinarnya pada wajah-wajah yang saling bercermin pada bola mata masing-masing. Terlihat dua orang ayah dan anak sedang bertatapan. "Tidak nak, Abah sangat mengerti, Abah juga minta maaf karena sudah banyak menyusahkanmu." Panang Aman mengusap bahu Ramadhan. "Tidak Bah, memang sudah kewajiban seorang anak untuk merawat dan menjaga orangtua yang telah membesarkan dengan segenap jiwa dan raga." Ucap lirih Ramadhan dengan nada rendah. Terlihat penyesalan yang mendalam pada dirinnya.      Lima puluh tahun yang lalu di sebuah desa tampak rumah berukuran kecil dan sangat sederhana. Dinding-dinding rumahnya hanyalah terbuat dari anyaman bambu atau sering disebut palupuh dalam Bahasa Banjar. Sedang atapnya terbuat dari daun rumbia yang sudah tersusun rapi. Rumah sederhana itu dihuni oleh sepasang suami istri. Panang Aman dan Acil Siti mereka serin

Cerpen Kebahagiaan

Kucing-kucing hitam yang lucu bercerita padaku. "Sebenarnya aku dulu manusia, namun aku lelah menjadi manusia, aku memilih menjadi seekor kucing, aku seperti ini adalah kehendakku..." katanya. Lalu aku tanyakan, "kenapa kamu lelah menjadi manusia? apakah karena manusia memiliki perasaan, dan di antaranya lelah itu sendiri hingga kamu lelah dan memilih menjadi kucing?". "bukan, bukan itu. dulu aku adalah jenderal perang pada sebuah kerajaan, aku telah jauh berpetualang, melebihimu nak! kapal-kapal, panah, pedang, dan pakaian besi adalah temanku sehari-hari. aku memiliki masa muda yang jauh indah darimu, jauh menantang darimu. aku memiliki wanita yang jauh menawan darimu" jelasnya padaku. "lalu kenapa kamu memilih menjadi seperti ini, bukankah kamu bahagia menjadi manusia, memiliki tahta, memiliki kehidupan yang indah?" tanyaku penasaran. "aku lelah mengejar kebahagiaan itu sendiri nak! hingga suatu ketika pasukanku porak-poranda. dan

Cerpen Cindy dan Ella

"pangeran itu tidak akan pernah menjadi bintang di hatimu, akulah perempuan paling cantik di desa ini dan dia akan memilihku menjadi pasangannya, sedangkan kau akan jadi perawan tua yang hidup kesepian tanpa siapapun yang mencintai dan menyayangimu". "Cindy, kenapa kata-katamu selalu bernada kebencian padaku sedangkan kita adalah saudara, kalau kau akan menjadi istri seorang pangeran bukankah seharusnya kamu belajar menjadi wanita anggun dan berkata dengan sopan pada siapapun agar mereka mengatakan kalau kau ini pantas menjadi istri seorang pangeran". "apa kamu bilang? jadi kamu pikir aku tidak pantas menjadi istri seorang pangeran..." tangan Cindy menjiwir telinga Ella. "aduuuh... sakit... lepaskan..." Ella merintih kesakitan karena kuping kanannya ditarik oleh saudara tirinya. cindy yang memiliki kuku-kuku panjang dengan ujung mengerucut. Sudah sejak lama ia ingin minggat dari siksaan saudara dan ibu tirinya, tapi amanah mendiang ayahnya

Renungan Lupakan Yang Lalu, Jangan Lupakan Tuhan!

Baca:  Filipi 3:1-16 "...tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku," (Filipi 3:13) Di dalam kehidupan ini pasti ada hal yang selalu kita ingat-ingat: pengalaman manis juga pahit. Tetapi ada satu hal yang harus selalu kita ingat dan tidak boleh kita lupakan, yaitu Tuhan! Seringkali manusia begitu gampang melupakan Tuhan, apalagi saat keadaan mereka baik dan menyenangkan, seperti yang dikatakan:  "...umatKu melupakan Aku, sejak waktu yang tidak terbilang lamanya." (Yeremia 2:32b).  Namun sesungguhnya yang harus kita lupakan adalah pengalaman pahit, kegagalan dan juga kesalahan-kesalahan di masa lalu. Kita bisa belajar dari Rasul Paulus yang memiliki masa lalu yang hendak ia lupakan. Sebelum 'ditangkap' oleh Tuhan Yesus, Paulus yang sebelumnya bernama Saulus adalah penganiaya jemaat; ia sangat antipati terhadap orang-orang Kristen. Namun sejak bertemu Yesus hidup Paulus diubahkan.

Renungan Di Dalam Kristus Selalu Ada "Ya"

Baca:  2 Korintus 1:12-24 "...bukanlah 'ya' dan 'tidak', tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada 'ya'." (2 Korintus 1:19b) Yesus tidak pernah memperkatakan hal-hal yang negatif meski berada di tengah-tengah situasi yang sulit. Ia berkata bahwa dengan pikiran dan perkataan yang positif kita dapat mengalahkan gunung-gunung persoalan, gunung-gunung penyakit dan sebagainya. Tetapi sekalipun kita mencoba berdoa atau mengusir segala kuasa Iblis yang menyebabkan orang menderita, namun jika masih ada pikiran negatif di dalam diri kita, semuanya tidak akan berhasil. Sering orang berkata, "Janji-janji Tuhan itu bohong, buktinya aku tak pernah menikmatinya." Maka, terjadilah sesuai dengan apa yang mereka katakan seperti tertulis:  "Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia." (Amsal 23:7a).  Tuhan Yesus menegaskan,  "Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan berlalu." (Luka

Renungan Saat Kita Lemah Tak Berdaya

Baca:  Matius 4:1-11 "Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus." (Matius 4:2) Iblis tahu benar bahwa setelah berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam Yesus pasti merasa lapar. Iblis berpikir inilah saat yang tepat untuk mencobai dan menjatuhkan Yesus.  "Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepadaNya: 'Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu itu menjadi roti.' " (ayat 3). Yesus tidak emosi dengan membuktikan bahwa Ia adalah Anak Allah sehingga langsung mengubah batu menjadi roti. Walaupun perutNya lapar, Yesus sadar betul dengan tidak menuruti permintaan Iblis untuk mengubah batu menjadi roti. Tak perlu Ia membuktikan kuasaNya mengubah batu menjadi roti untuk dapat disebut Anak Allah. Dia memang Anak Allah dan Dia tidak perlu mendemonstrasikan hal itu kepada Iblis, karena Iblis sendiri sudah tahu bahwa Yesus itu Anak Allah. Maka Yesus menjawab,  "Ada tertulis: Manusia hidup buk

Popular posts from this blog

Cerpen Air Mata Seorang Kawan

Cerpen Putri Bulan dan Dewa Laut

Affordable & Effective Marketing Tips to Promote Your Business Online

Renungan Jadilah Orang Yang Berhikmat

Mengingat Kebaikan Tuhan

Menjadi Anak Penerobos Di Dalam Tuhan

Cerpen Hikmah Sebuah Kebaikan

Petualangan Zoa Ke Tempat Lain

Cerpen Imaginary Sky Man

Kembang Kapas